Kusta Tidak Menular Jika Sudah Sembuh
Rabu, 13/02/2013 14:38 WIB
RS Sitanala (detikHealth)
Berita Lainnya
Jakarta, Stigma mengenai penyakit kusta masih saja ditemui di masyarakat. Meski kusta termasuk penyakit yang menular, tapi kusta tidak akan menular ke orang lain jika sudah sembuh.
"Kalau sudah sembuh dia (kusta) tidak akan menularkan lagi, jadi buat apa ada stigmasi," ujar Menkes dr Nafsiah Mboi dalam acara peringatan hari kusta sedunia dengan tema 'Hapus Stigma dan Diskriminasi Kusta' di RS Kusta Dr Sitanala, Tangerang, Rabu (13/2/2013).
Menkes mengungkapkan hanya orang bodoh yang melakukan stigma pada orang yang pernah kena kusta. Untuk itu Menkes meminta untuk tidak boleh membeda-bedakan orang dan menghilangkan stigma terhadap kusta.
Stigma dan diskriminasi seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada penderita, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta. Timbulnya stigma pada penderita maupun masyrakat menyebabkan keterbatasan penderita kusta dan orang yang pernah mengalami kusta untuk dapat menerima hak asasi secara penuh sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat.
Terkadang meski kusta sudah sembuh secara medis, tapi predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. Predikat ini melatarbelakangi permasalahan psikologis bagi orang yang pernah mengalami kusta, seperti merasa takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, tidak berharga dan khawatir dikucilkan.
"Stigma negatif menyebabkan hak asasi orang yang pernah mengalami kusta sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat tidak terpenuhi," ujar Menkes.
Dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat dan baik dari penderita maupun masyarakat. Pederita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya sehingga mereka dapat berdaya dalam menolong dirinya sendiri bahkan orang lain. Masyarakat diharapkan dapat mengubah pandangannya serta membantu penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta agar tetap sehat dan mampu menjaga kesehatannya secara mandiri.
"Salaman atau peluk saja tidak akan menular dan penyakit ini bisa sembuh total. Kita tidak boleh membeda-bedakan," tutur Menkes.
Penularan kusta terjadi dari penderita kusta yang tidak diobati kepada orang lain yang kontak lama dengan penderita (biasanya pada orang yang tinggal serumah atau tetangga dekat) melalui pernapasan. Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita.
Menkes berpesan tidak ada stigma atau mendiskriminasi penderita kusta atau orang yang pernah menderita kusta, oleh karena apa, satu kusta hanya suatu penyakit biasa yang bisa dicegah. Kedua kecacatan pun bisa direhabilitasi sehingga berfungsi dengan baik.
"Orang yang sudah diobati tidak akan menularkan, karenanya harus dijaga agar ia tidak terlular lagi, salah satunya dengan pola hidup bersih dan sehat," ujar Menkes.
(ver/vit)
"Kalau sudah sembuh dia (kusta) tidak akan menularkan lagi, jadi buat apa ada stigmasi," ujar Menkes dr Nafsiah Mboi dalam acara peringatan hari kusta sedunia dengan tema 'Hapus Stigma dan Diskriminasi Kusta' di RS Kusta Dr Sitanala, Tangerang, Rabu (13/2/2013).
Menkes mengungkapkan hanya orang bodoh yang melakukan stigma pada orang yang pernah kena kusta. Untuk itu Menkes meminta untuk tidak boleh membeda-bedakan orang dan menghilangkan stigma terhadap kusta.
Stigma dan diskriminasi seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada penderita, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta. Timbulnya stigma pada penderita maupun masyrakat menyebabkan keterbatasan penderita kusta dan orang yang pernah mengalami kusta untuk dapat menerima hak asasi secara penuh sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat.
Terkadang meski kusta sudah sembuh secara medis, tapi predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. Predikat ini melatarbelakangi permasalahan psikologis bagi orang yang pernah mengalami kusta, seperti merasa takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, tidak berharga dan khawatir dikucilkan.
"Stigma negatif menyebabkan hak asasi orang yang pernah mengalami kusta sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat tidak terpenuhi," ujar Menkes.
Dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat dan baik dari penderita maupun masyarakat. Pederita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya sehingga mereka dapat berdaya dalam menolong dirinya sendiri bahkan orang lain. Masyarakat diharapkan dapat mengubah pandangannya serta membantu penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta agar tetap sehat dan mampu menjaga kesehatannya secara mandiri.
"Salaman atau peluk saja tidak akan menular dan penyakit ini bisa sembuh total. Kita tidak boleh membeda-bedakan," tutur Menkes.
Penularan kusta terjadi dari penderita kusta yang tidak diobati kepada orang lain yang kontak lama dengan penderita (biasanya pada orang yang tinggal serumah atau tetangga dekat) melalui pernapasan. Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita.
Menkes berpesan tidak ada stigma atau mendiskriminasi penderita kusta atau orang yang pernah menderita kusta, oleh karena apa, satu kusta hanya suatu penyakit biasa yang bisa dicegah. Kedua kecacatan pun bisa direhabilitasi sehingga berfungsi dengan baik.
"Orang yang sudah diobati tidak akan menularkan, karenanya harus dijaga agar ia tidak terlular lagi, salah satunya dengan pola hidup bersih dan sehat," ujar Menkes.
(ver/vit)
Baca Juga
- Indonesia Penyumbang Kusta ke-3 di Dunia
- Orang Kusta Masih Diperlakukan Beda di Layanan Kesehatan
- Beginilah Cara Penderita Kusta Cari Makan Buat Hidup
- Kusta di RI Masih Ranking III di Dunia, Jatim Tertinggi
- Penderita Lepra di Indonesia Terbesar ke-3 di Dunia
- Perlu 6 Tindakan Agar Kusta Tak Bikin Cacat Permanen
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Selasa,21/05/2013 20:10 WIB
Ingin Sering Bercinta? Catlah Kamar dengan Warna Karamel, Jangan Merah
-
Selasa,21/05/2013 19:56 WIB
Hubungan Seks Antar Napi dan Kebiasaan Nyuntik Rawan Tularkan HIV
-
Selasa,21/05/2013 19:00 WIB
Lakukan Ritual Ini Agar Tidur Anda Lebih Lelap
-
Selasa,21/05/2013 18:28 WIB
Ini Alasan Mengapa PAUD Penting Bagi Perkembangan Anak
-
Selasa,21/05/2013 18:11 WIB
7 Tahun Menikah, Suami Tak Lagi Seperkasa Dulu
-
Selasa,21/05/2013 18:07 WIB
Sudah Kenal WC, Kini Warga Jemaras Cirebon Tak Perlu Singli
-
Ulasan Khas Alergi
Begini Caranya Dapat Momongan Ketika Punya Alergi Sperma
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Lateks, Salah Satu Penyebab Orang Malas Pakai Kondom
-
Ulasan Khas Alergi
Andai Semua Orang Alergi Uang, Masih Adakah Korupsi?
-
Ulasan Khas Alergi
Ini Dia 5 Pemicu Alergi pada Anak
-
Ulasan Khas Alergi
Waspadai, Ini Tandanya Tubuh Mengalami Alergi Cuaca
-
Ulasan Khas Alergi
Hati-hati Pilih Obat, Salah-salah Tidak Jadi Sembuh Malah Alergi
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Tak Bisa Sembuh, Hindari Pemicu Atau Malah Harus Dibiasakan?
-
Ulasan Khas Alergi
Lakukan Tes Ini Jika Curiga Punya Alergi
-
Selasa, 21/05/2013 19:56 WIB
Hubungan Seks Antar Napi dan Kebiasaan Nyuntik Rawan Tularkan HIV
-
Selasa, 21/05/2013 18:03 WIB
7 Tahun Menikah, Suami Tak Lagi Seperkasa Dulu
-
Selasa, 21/05/2013 19:00 WIB
Lakukan Ritual Ini Agar Tidur Anda Lebih Lelap
-
Selasa, 21/05/2013 18:28 WIB
Ini Alasan Mengapa PAUD Penting Bagi Perkembangan Anak
-
Selasa, 21/05/2013 17:28 WIB
Ada Rahasia Apa di Balik Tulisan Tangan?
-
Selasa, 21/05/2013 17:41 WIB
Telat Penuhi Gizi Anak di Usia Emas? Ini Langkah Berikutnya
-
Selasa, 21/05/2013 18:07 WIB
-
Selasa, 21/05/2013 17:16 WIB
Feeding Force, Penyebab Anak Susah Makan
-
9 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
3 Komentar
-
3 Komentar
-
3 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Senin, 20/05/2013 16:07 WIB
7 Malapetaka Paling Horor yang Menyerang Kemaluan Pria
-
Senin, 20/05/2013 15:24 WIB
Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Ada 1 Juta, Hanya 10% yang Berobat
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_7.gif)

