detikhealth

Kisah Cancer Survivor: Masih Untung Saya Kehilangan 1 Kaki, Bukan 2

Nurvita Indarini - detikHealth
Senin, 18/02/2013 12:12 WIB
Kisah Cancer Survivor: Masih Untung Saya Kehilangan 1 Kaki, Bukan 2Pritono dan istrinya (Vita/detikHealth)
Jakarta, Priyono (39) tak pernah menyangka dirinya bakal menyandang kanker. Benjolan kecil di atas mata kaki salah satu kakinya rupanya menjadi cikal bakal kanker. Ayah dua anak ini pun merelakan sebelah kakinya diamputasi.

Pengalamannya melawan kanker dituturkannya kepada detikHealth di sela-sela peringatan Hari Kanker Sedunia 'I Care, Arise, and Never Give Up Against Cancer' yang digelar oleh Indonesia Care Community (ICCC) bekerja sama dengan Kalbe Ethical Customer Care (KECC) di Conference Room Bintang Toeoedjoe, Jl A Yani, Pulomas, Jakarta Timur, dan ditulis pada Senin (18/2/20013).

Menurut pria asal Prambanan, Yogyakarta, ini, peristiwa bermula pada 2008 lalu. Benjolan sebesar otak ayam muncul di atas salah satu mata kakinya. Setelah berkonsultasi ke dokter, benjolan itu diangkat.

"Tapi muncul lagi, dan jadinya lebih besar. Sebesar telur bebek," ucap Priyono yang didampingi istrinya.

Benjolan itu diangkat lagi namun tak lama benjolan yang lebih besar hingga membuat kakinya bengkak kembali muncul. Berbagai pengobatan dari herbal hingga obat-obatan dokter ditempuhnya.

"Pernah saya naik motor sama istri cari pengobatan di Bandung. Ya naik motornya sambil nahan-nahan sakit. Tapi saya kan mau sembuh," sambung pria yang banyak kehilangan rambut dan jenggot lantaran kemoterapi yang dijalaninya ini.

Ikhtiar tak putus dilakukan Priyono. Saat menjalani terapi herbal, berat badannya susut 15 kg. Setiap hari dia hanya makan buah dan sayur dengan tujuan membakar sel-sel kanker, tapi gagal. Tubuhnya kian melemah, dan kankernya seperti bertambah kuat.

"Lalu saya ke RS Dharmais dan melakukan MRI. Dokter mengatakan agar kaki saya diamputasi karena kankernya ganas. Saya pun mencari second opinion ke RS Mitra Keluarga Bekasi, ternyata opininya sama. Akhirnya dengan dukungan teman-teman dan keluarga saya rela kaki saya diamputasi," papar pria yang bekerja di salah satu pabrik ban ini.

Priyono menyebut amputasi bukanlah hal terberat baginya. Dia justru merasa sangat terpukul saat dokter mengatakan dirinya terkena kanker. Sebab Priyono selalu menjalani pola hidup sehat. Dia paling anti makan makanan cepat saji ataupun berpengawet.

"Makanya saya heran, kanker ini dari mana. Makan saya selalu sehat, karena saya rewel soal makanan ini. Saya bilang ke istri nggak boleh makan kalengan, makan yang instan-instan, tapi kok kena kanker. Jadi ini pasti sudah takdir dari Allah," tuturnya dengan senyum yang tak pernah lepad dari bibirnya.

Akhirnya rasa sakit yang mendera kakinya sekian lama itu hilang setelah amputasi dilakukan. Pemandangan Priyono yang menangis kesakitan di rumah diiringi tangis sedih kedua anaknya kini tak lagi terlihat. Meskipun kini Priyono tak bisa lagi berlari dan harus menopangkan tubuhnya pada tongkat di kedua lengannya, namun dia sangat bersyukur.

"Masih untung saya kehilangan satu kaki, bukan dua, dan bukan kehilangan tangan. Ini harus diterima. Saya merasa beruntung pernah merasakan nikmatnya punya kaki. Jadi syukurilah kaki yang ada, anggota tubuh yang masih ada, kesehatan yang diberikan," ucap Priyono.

Dikatakan dia, bersyukur itu bisa diwujudkan dengan cara menjaga baik-baik anggota tubuh yang dimiliki dan selalu menjaga kesehatan. Menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik juga merupakan salah satu cara bersyukur.

"Bagi yang sedang sakit kanker, jangan menyerah. Berusaha itu wajib hukumnya, termasuk berobat. Jangan menyerah. Berhasil atau tidak serahkan kepada Allah," pesannya kepada para penyandang kanker.

Setelah diamputasi pada September 2012 lalu, Priyono harus menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali. Saat ini dia harus menjalani 3 kemoterapi lagi.

Liposarkoma merupakan tumor ganas atau kanker pada jaringan lemak, yang biasanya dicirikan oleh adanya diferensiasi abortif sel-sel menjadi liposit. Gejala yang muncul yakni adanya benjolan yang tidak nyeri sehingga tidak dianggap tumor ganas. Keluhan baru muncul setelah ukuran benjolan sudah besar atau terjadi tarikan atau tekanan pada otot atau saraf.

(vit/up)


Punya pengalaman menarik seputar diet ? Kirimkan disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit