Doctor's Life
Dr Daniel Tanubudi, Dokter 'Langka' yang Dalami Gangguan Irama Jantung
Senin, 18/02/2013 13:32 WIB
dr Daniel Tanubudi (Foro: detikHealth)
Berita Lainnya
Dr Nani Hersunarti, SpJP, Sehat Lahir Batin Berkat Dansa
Dr Florence Manurung, Dokter 'Pencerah' Dunia Anak-anak
dr Susie Rendra, Dokter Kulit yang Sempat 'Terhadang' Kerusuhan 98
Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia
Suka-duka dr Bhimantoro, SpOG Merawat Belasan Anak Anjing
Jakarta, Sampai kini, penyakit jantung yang paling ditakuti adalah penyakit jantung koroner. Padahal gangguan yang dianggap sepele juga bisa menjadi indikasi serius, misalnya gangguan irama jantung. Sayangnya, jumlah dokter yang mau mendalami penyakit ini masih langka alias bisa dihitung dengan jari.
Diperkirakan hanya ada 9 dokter di Indonesia yang mendalami gangguan irama jantung atau aritmia, salah satunya adalah dr Daniel Tanubudi. Sepinya peminat nampaknya disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat, bahkan di kalangan dokter pun masih ada yang meremehkan gangguan ini.
"Kalau berbicara mengenai serangan jantung, mungkin orang sudah aware sekali walaupun seringkali cuma sekedar aware tanpa menjaga gaya hidup. Tapi untuk gangguan irama jantung, kita masih perlu memberikan informasi kepada masyarakat, bahkan kepada dokter," kata dr Daniel kepada detikHealth seperti ditulis Senin (18/2/2013).
Normalnya, jantung manusia berdetak sekitar 60 - 100 kali per menit. Detak jantung dikatakan tak normal jika kurang dari 60 detak per menit atau melebihi 100 detak per menit. Gangguan ini muncul karena kekacauan sinyal listrik yang berfungsi menstimulus otot jantung untuk memompa secara teratur.
Dr Daniel menjelaskan sekitar 2 dari 5 penderita stroke disebabkan oleh gangguan irama jantung karena darah mengalir dengan tidak semestinya atau terjadi turbulensi. Gangguan irama jantung juga bisa disebabkan adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Jika sumbatan tersebut pecah dan masuk ke pembuluh darah di otak, bisa menyebabkan stroke.
Sayangnya banyak orang yang menyepelekan gangguan ini. Para dokter juga nampaknya kurang begitu tertarik karena prosedur pengobatannya terhitung lama. Untuk mengobati gangguan irama jantung, dokter harus melakukan tindakan yang disebut elektrofisiologi dan ablasi.
"Waktunya bisa sampai 3 - 4 jam, sedangkan untuk pasang cincin paling 1- 2 jam. Jadi 2 case di sana beres, kita baru 1 case. Bahkan kalau case-nya agak berat seperti atrial fibrilasi, kita bisa sampai 6 - 8 jam," terang dr Daniel.
Walau demikian, dr Daniel sejak awal memang sudah tertarik menekuni bidang ini, bahkan dia sempat belajar ke Korea Selatan untuk mendalaminya. Pengobatan mengenai gangguan irama jantung di Korea Selatan, memang jauh lebih maju dibandingkan di Indonesia.
Sebagai perbandingan, ada sekitar 20 rumah sakit yang bisa memberikan pengobatan untuk mengatasi gangguan irama jantung untuk 40 juta penduduk Korea Selatan. Sedangkan di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, baru ada 5 rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk melakukan tindakan serupa.
"Dokter jantung yang tertarik di bidang ini pun mungkin cukup dengan 2 tangan saja, jadi hanya sekitar 9 orang saat ini yang boleh dibilang lebih mendalami bidang ini dibanding dokter jantung yang lain," tutur dr Daniel.
Dr Daniel optimis bahwa pengobatan gangguan irama jantung di Indonesia akan mengalami perkembangan, apalagi karena ahlinya masih sedikit. Saat mengikuti seminar di luar negeri, dr Daniel sering terbengong-bengong mendapati perkembangan teknologi pengobatan penyakit jantung. Maka dari itu, Indonesia tidak boleh ketinggalan.
"Saya kira hal itu akan memacu kita untuk tidak boleh jauh ketinggalan. Terlebih angka-angka itu membawa kita pada kenyataan harusnya populasi di Indonesia juga banyak yang mengalami gangguan itu yang bisa kita tangani. Selama ini kita hanya bisa berikan obat karena tidak tahu penanganan yang tepat dan tidak ada ahlinya," kata dr Daniel.
Mengenai butanya pasien akan gangguan irama jantung, dr Daniel mengisahkan salah seorang pasiennya yang datang dengan pompa jantung yang lemah dan jantung bengkak. Pasien itu mengalami sesak napas dan irama jantungnya tak teratur. Begitu gangguan irama jantungnya teratasi, kerja pompa jantungnya juga menjadi baik dan pasiennya jauh lebih nyaman.
Lamanya prosedur operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung memang menguras tenaga dr Daniel. Namun capek itu terbayarkan ketika melihat operasi berhasil pasien kembali nyaman. Yang membuat sedih adalah ketika operasi sudah dilakukan hingga 8 jam lamanya, tapi ternyata gangguannya masih kambuh.
"Semua tindakan medis di dunia tidak ada yang menjanjikan 100 persen. Untuk atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung yang sudah kronis dan tahunan, sekitar 30 persen akan terjadi kekambuhan, jadi angka keberhasilannya hanya 70 persen. Tapi kalau gangguan irama jantungnya baru saja terjadi, angka keberhasilannya bisa mencapai 90 persen," ungkap dr Daniel.
Sebelum menutup perbincangan, Dr Daniel berpesan agar masyarakat mewaspadai jika mengalami gangguan irama jantung. Biasanya gangguan mudah dideteksi karena mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderitanya sering lemas, mudah capek, bahkan pingsan.
Untuk mengobati gangguan ini, pasien perlu menjalani pengobatan yang disebut Elektrofisiologi dan Ablasi. Elektrofisiologi adalah pencarian bagian jantung yang mengalami gangguan dengan memanfaatkan teknologi semacam GPS. Setelah ditemukan, daerah tersebut akan dihancurkan dengan metode Ablasi.
Metode Ablasi menggunakan gelombang radiofrekuensi, yaitu frekuensi udara yang menimbulkan panas. Jadi bagian yang rusak akan 'dibakar' tapi tidak dengan api, tetapi dengan gelombang radiofrekuensi. Di Jakarta, ada 5 rumah sakit yang bisa melakukan metode ini, yaitu Eka Hospital, RS Harapan Kita, RS Bina Waluya, RS Mitra Kelapa Gading dan RS Gatot Subroto.
Biodata
Nama : dr Daniel Tanubudi, SpJP, FIHA
Tempat dan Tanggal Lahir : Bogor, 23 Juni 1970
Pendidikan:
Pendidikan Dokter Univesitas Padjajaran, Bandung (Lulus tahun 1995)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2002 - 2007)
Pelatihan Elektrofisiologi dan Aritmia Korea University Medical Center (2009 -2010)
Praktik : Eka Hospital, Tangerang
Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
(pah/vit)
Diperkirakan hanya ada 9 dokter di Indonesia yang mendalami gangguan irama jantung atau aritmia, salah satunya adalah dr Daniel Tanubudi. Sepinya peminat nampaknya disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat, bahkan di kalangan dokter pun masih ada yang meremehkan gangguan ini.
"Kalau berbicara mengenai serangan jantung, mungkin orang sudah aware sekali walaupun seringkali cuma sekedar aware tanpa menjaga gaya hidup. Tapi untuk gangguan irama jantung, kita masih perlu memberikan informasi kepada masyarakat, bahkan kepada dokter," kata dr Daniel kepada detikHealth seperti ditulis Senin (18/2/2013).
Normalnya, jantung manusia berdetak sekitar 60 - 100 kali per menit. Detak jantung dikatakan tak normal jika kurang dari 60 detak per menit atau melebihi 100 detak per menit. Gangguan ini muncul karena kekacauan sinyal listrik yang berfungsi menstimulus otot jantung untuk memompa secara teratur.
Dr Daniel menjelaskan sekitar 2 dari 5 penderita stroke disebabkan oleh gangguan irama jantung karena darah mengalir dengan tidak semestinya atau terjadi turbulensi. Gangguan irama jantung juga bisa disebabkan adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Jika sumbatan tersebut pecah dan masuk ke pembuluh darah di otak, bisa menyebabkan stroke.
Sayangnya banyak orang yang menyepelekan gangguan ini. Para dokter juga nampaknya kurang begitu tertarik karena prosedur pengobatannya terhitung lama. Untuk mengobati gangguan irama jantung, dokter harus melakukan tindakan yang disebut elektrofisiologi dan ablasi.
"Waktunya bisa sampai 3 - 4 jam, sedangkan untuk pasang cincin paling 1- 2 jam. Jadi 2 case di sana beres, kita baru 1 case. Bahkan kalau case-nya agak berat seperti atrial fibrilasi, kita bisa sampai 6 - 8 jam," terang dr Daniel.
Walau demikian, dr Daniel sejak awal memang sudah tertarik menekuni bidang ini, bahkan dia sempat belajar ke Korea Selatan untuk mendalaminya. Pengobatan mengenai gangguan irama jantung di Korea Selatan, memang jauh lebih maju dibandingkan di Indonesia.
Sebagai perbandingan, ada sekitar 20 rumah sakit yang bisa memberikan pengobatan untuk mengatasi gangguan irama jantung untuk 40 juta penduduk Korea Selatan. Sedangkan di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, baru ada 5 rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk melakukan tindakan serupa.
"Dokter jantung yang tertarik di bidang ini pun mungkin cukup dengan 2 tangan saja, jadi hanya sekitar 9 orang saat ini yang boleh dibilang lebih mendalami bidang ini dibanding dokter jantung yang lain," tutur dr Daniel.
Dr Daniel optimis bahwa pengobatan gangguan irama jantung di Indonesia akan mengalami perkembangan, apalagi karena ahlinya masih sedikit. Saat mengikuti seminar di luar negeri, dr Daniel sering terbengong-bengong mendapati perkembangan teknologi pengobatan penyakit jantung. Maka dari itu, Indonesia tidak boleh ketinggalan.
"Saya kira hal itu akan memacu kita untuk tidak boleh jauh ketinggalan. Terlebih angka-angka itu membawa kita pada kenyataan harusnya populasi di Indonesia juga banyak yang mengalami gangguan itu yang bisa kita tangani. Selama ini kita hanya bisa berikan obat karena tidak tahu penanganan yang tepat dan tidak ada ahlinya," kata dr Daniel.
Mengenai butanya pasien akan gangguan irama jantung, dr Daniel mengisahkan salah seorang pasiennya yang datang dengan pompa jantung yang lemah dan jantung bengkak. Pasien itu mengalami sesak napas dan irama jantungnya tak teratur. Begitu gangguan irama jantungnya teratasi, kerja pompa jantungnya juga menjadi baik dan pasiennya jauh lebih nyaman.
Lamanya prosedur operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung memang menguras tenaga dr Daniel. Namun capek itu terbayarkan ketika melihat operasi berhasil pasien kembali nyaman. Yang membuat sedih adalah ketika operasi sudah dilakukan hingga 8 jam lamanya, tapi ternyata gangguannya masih kambuh.
"Semua tindakan medis di dunia tidak ada yang menjanjikan 100 persen. Untuk atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung yang sudah kronis dan tahunan, sekitar 30 persen akan terjadi kekambuhan, jadi angka keberhasilannya hanya 70 persen. Tapi kalau gangguan irama jantungnya baru saja terjadi, angka keberhasilannya bisa mencapai 90 persen," ungkap dr Daniel.
Sebelum menutup perbincangan, Dr Daniel berpesan agar masyarakat mewaspadai jika mengalami gangguan irama jantung. Biasanya gangguan mudah dideteksi karena mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderitanya sering lemas, mudah capek, bahkan pingsan.
Untuk mengobati gangguan ini, pasien perlu menjalani pengobatan yang disebut Elektrofisiologi dan Ablasi. Elektrofisiologi adalah pencarian bagian jantung yang mengalami gangguan dengan memanfaatkan teknologi semacam GPS. Setelah ditemukan, daerah tersebut akan dihancurkan dengan metode Ablasi.
Metode Ablasi menggunakan gelombang radiofrekuensi, yaitu frekuensi udara yang menimbulkan panas. Jadi bagian yang rusak akan 'dibakar' tapi tidak dengan api, tetapi dengan gelombang radiofrekuensi. Di Jakarta, ada 5 rumah sakit yang bisa melakukan metode ini, yaitu Eka Hospital, RS Harapan Kita, RS Bina Waluya, RS Mitra Kelapa Gading dan RS Gatot Subroto.
Biodata
Nama : dr Daniel Tanubudi, SpJP, FIHA
Tempat dan Tanggal Lahir : Bogor, 23 Juni 1970
Pendidikan:
Pendidikan Dokter Univesitas Padjajaran, Bandung (Lulus tahun 1995)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2002 - 2007)
Pelatihan Elektrofisiologi dan Aritmia Korea University Medical Center (2009 -2010)
Praktik : Eka Hospital, Tangerang
Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
(pah/vit)
Baca Juga
- dr Sylvia Memilih Jadi Vegan Sebagai Investasi Masa Depan
- Dr Tjhin Wiguna, Dokter 'Penenang' Jiwa-jiwa Muda yang Galau
- Prof Abdul Razak Thaha Ungkap Misteri Anak Indonesia Bertubuh Pendek
- Dr Zaenal Abidin, MH.Kes, Masalah Gizi dan Cerita Tentang Kumis
- dr Tirta Jatuh Cinta pada Gizi karena Lihat Pasien Seperti Tengkorak
- Dr Hakim S Pohan, Dokter yang Sangat Getol Perjuangkan Aturan Rokok
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Senin,20/05/2013 20:00 WIB
Tak Hanya Bakar Kalori, Berciuman Punya 7 Manfaat Lain
-
Senin,20/05/2013 19:30 WIB
Ingin Tidur Lelap? Penuhi Nutrisi Penting Ini
-
Senin,20/05/2013 19:00 WIB
drg Zaura Jadi Dokter Gigi karena Tertarik pada Giginya Sendiri
-
Senin,20/05/2013 18:30 WIB
Sedikit-sedikit Depresi Bikin Wanita Makin Rentan Kena Stroke
-
Senin,20/05/2013 18:15 WIB
Makanan Apa Saja yang Bisa Menambah Cairan Sperma?
-
Senin,20/05/2013 18:04 WIB
Undang-undang Kesehatan Jiwa Dianggap Tak Waras?
-
Ulasan Khas Alergi
Begini Caranya Dapat Momongan Ketika Punya Alergi Sperma
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Lateks, Salah Satu Penyebab Orang Malas Pakai Kondom
-
Ulasan Khas Alergi
Andai Semua Orang Alergi Uang, Masih Adakah Korupsi?
-
Ulasan Khas Alergi
Ini Dia 5 Pemicu Alergi pada Anak
-
Ulasan Khas Alergi
Waspadai, Ini Tandanya Tubuh Mengalami Alergi Cuaca
-
Ulasan Khas Alergi
Hati-hati Pilih Obat, Salah-salah Tidak Jadi Sembuh Malah Alergi
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Tak Bisa Sembuh, Hindari Pemicu Atau Malah Harus Dibiasakan?
-
Ulasan Khas Alergi
Lakukan Tes Ini Jika Curiga Punya Alergi
-
Senin, 20/05/2013 18:06 WIB
Makanan Apa Saja yang Bisa Menambah Cairan Sperma?
-
Senin, 20/05/2013 20:00 WIB
Tak Hanya Bakar Kalori, Berciuman Punya 7 Manfaat Lain
-
Senin, 20/05/2013 16:07 WIB
7 Malapetaka Paling Horor yang Menyerang Kemaluan Pria
-
Senin, 20/05/2013 11:00 WIB
Laporan dari Singapura
Inilah 'Tulisan' yang Membuat Kening Dokter Berkerut
-
Senin, 20/05/2013 19:30 WIB
Ingin Tidur Lelap? Penuhi Nutrisi Penting Ini
-
Senin, 20/05/2013 12:00 WIB
Siapa Sangka 7 Hal Ini Bisa Bikin Gemuk
-
Senin, 20/05/2013 17:26 WIB
Kisah Ibu dengan Anak yang Hanya Punya Otak Setengah
-
Senin, 20/05/2013 08:03 WIB
Penis Bengkak Setelah Diolesi Pelumas, Pria Ini Ajukan Gugatan
-
9 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
3 Komentar
-
3 Komentar
-
2 Komentar
-
2 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Senin, 20/05/2013 13:26 WIB
Akhirnya Bocah Ini Pulih Setelah Koma Akibat Tertabrak Mobil
-
Senin, 20/05/2013 12:00 WIB
Siapa Sangka 7 Hal Ini Bisa Bikin Gemuk
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_7.gif)

