detikhealth

'Pelajaran Penting' dari Kematian Mendadak Ricky Jo

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Sabtu, 23/03/2013 11:03 WIB
Pelajaran Penting dari Kematian Mendadak Ricky JoRicky Jo (Foto: twitter)
Jakarta, Lagi-lagi Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya publik figur karena serangan jantung di usia yang relatif muda, kematian mendadak Ricky Jo di usia 45 tahun. Kematiannya memang mendadak, namun bila dipelajari lebih dalam, proses serangan jantung tidaklah terjadi secara tiba-tiba.

Presenter olahraga Ricky Jo tutup usia di umur yang relatif muda, 45 tahun. Kematian ayah 2 putri ini diduga karena sakit jantung. Serangan jantung memang terjadi secara tiba-tiba, walau proses yang terjadi pasti tidak tiba-tiba.

"Serangan jantung terjadi tiba-tiba walau kita tahu bahwa proses yang terjadi pasti tidak tiba-tiba. Ada proses aterosklerosis pembuluh darah, penyempitan pembuluh darah dan terakhir sumbatan," jelas Dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Praktisi klinis dari FKUI-RSCM, dalam rilis yang diterima detikHealth, Sabtu (23/3/2013).

Dr Ari menjelaskan jika sumbatan terjadi pada pembuluh darah yang memperdarahi otot jantung, tentu akan membuat otot jantung yang terkena sumbatan tersebut menjadi kekurangan oksigen bahkan sampai menyebabkan kematian jaringan otot yang terkena.

"Selalu ada hikmah meninggalnya seorang sahabat, teman atau seseorang yang kebetulan kita kenal. Saya coba mengintip @Rick_Jo, ternyata ada 3 hal utama yang membuat hatinya galau 2 hari sebelum kepergian beliau," lanjut Dr Ari.

Ricky Jo sempat menyampaikan 'ocehannya' melalui twitter, antara lain miris terhadap kondisi yang ada saat ini, di mana orang saling menyalahkan dan merasa benar dan melupakan jati diri sebagai bangsa yang bermartabat.

Ricky juga menyampaikan kekecewaan terhadap kemacetan Jakarta, apalagi sebagai seorang selebritis membutuhkan 'tepat waktu' untuk sampai di tempat tugas atau pekerjaan.

Terakhir, pria kelahiran 25 September 1967 ini juga merasa kehilangan ayah yang dicintainya, yang meninggal 1 bulan yang lalu. Perlu diketahui, kehilangan orang yang dicintai merupakan stres sendiri yang kadang-kadang tidak disadari.

"Bisa saja ketiga stressor ini yang mencetuskan terjadinya serangan jantung pada beliau," papar Dr Ari.

Penyakit jantung koroner yang diduga menjadi penyebab meninggalnya almarhum, bisa muncul dengan gejala berupa nyeri dada. Biasanya nyeri menjalar ke tangan kiri dan tembus ke belakang dada.

Nyeri dada akan terasa seperti ditekan dan berlangsung lebih dari 10 menit. Nyeri dada sendiri juga tidak selalu disebabkan oleh sakit jantung. Selain nyeri dada, pasien bisa mengalami sesak napas. Sesak napas akan bertambah jika naik tangga atau latihan yang keras atau karena stres.

"Di akhir hayat almarhum Ricky Jo, sesak napas merupakan gejala utama beliau sebelum menghembuskan napas terakhir. Walau kita tahu sesak napas tidak selalu dari jantung, bisa juga berasal dari organ lain," jelas Dr Ari.

Menurut Dr Ari, nyeri dada ternyata bukan saja milik penyakit jantung. Nyeri di bagian dada dapat disebabkan karena gangguan saluran cerna atas yaitu kerongkongan penyakitnya kita sebut GERD (gastroesofageal reflux disease). Pasien dengan GERD bisa datang karena nyeri dada dan bisa merasakan rasa panas di dada seperti terbakar (heart burn). Biasanya nyeri dada ini diikuti juga dengan mulut pahit karena ada asam yang naik.

Serangan jantung sendiri ternyata tidak selalu berawal dari nyeri dada atau sesak napas, karena nyeri ulu hati bisa merupakan gejala awal dari suatu serangan jantung. Ini bisa saja terjadi jika penyempitan pembuluh darah koroner yang mensuplai bagian bawah otot jantung yang lokasinya lebih dekat daerah ulu hati.

Serangan jantung terjadi melalui proses panjang, karena itu harus dikenali beberapa faktor risiko dari penyakit jantung koroner, antara lain umur di atas 40 tahun, obesitas, merokok, hipertensi, hiperkolesterol, hipertrigliserida, diabetes melitus, riwayat keluarga dengan sakit jantung, kurang olahraga rutin dan stres.

"Kita tahu juga bahwa dari faktor risiko jantung koroner tersebut ada yang kita bisa cegah agar kita terhindar dari serangan jantung," tambah Dr Ari.

Dr Ari berpesan, cegah penyakit jantung dengan mengurangi faktor risiko yaitu kontrol berat badan, kontrol tekanan darah, kontrol kadar gula darah jika menderita diabetes, kontrol kadar kolesterol, kurangi makanan yang berlemak, banyak makan buah dan sayur-sayuran, stop rokok dan alkohol, serta tentunya olahraga teratur. Hindari stres dan selalu belajar untuk bisa mengendalikan diri.

Selain itu, jangan lupa check up rutin bagi laki-laki di atas umur 40 tahun. Pemeriksaan treadmill merupakan salah satu skrining yang bisa mengidentifikasi adanya permasalahan pada jantung.

Pada waktu pemeriksaan treadmill, seseorang akan melakukan aktivitas jalan dan secara bertahap berlari, di mana aktifitas jantung akan direkam dengan EKG dan tentu dipantau tekanan darah, dan keluhan lain yang muncul selama kegiatan treadmill tersebut.

Melalui pemeriksaan ini, adanya kelainan jantung dapat diidentifikasi lebih awal. Apalagi bagi orang-orang yang mempunyai faktor risiko seperti yang disebutkan di atas.

"Pencegahan lebih baik dari pada mengobati, kita tentu berharap bahwa kita selalu dalam keadaan sehat dalam menjalani sisa hidup yang ada," tutup Dr Ari

Selamat jalan Ricky Jo...

(mer/vit)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit