detikhealth

Ngomel di Jejaring Sosial Tidak Membuat Seseorang Merasa Lebih Baik

Linda Mayasari - detikHealth
Senin, 25/03/2013 15:00 WIB
Ngomel di Jejaring Sosial Tidak Membuat Seseorang Merasa Lebih Baik(Foto: ThinkStock)
Jakarta, Kebanyakan remaja masa kini akrab dengan gadget dan cenderung menumpahkan isi pikirannya ke dalam kata-kata yang diposting di situs jejaring sosial. Menurut dua studi terbaru, cara ini ternyata tidak efektif dan tidak sehat untuk mengungkapkan rasa marah.

Studi pertama dilakukan dengan survei online yang menjanjikan undian hadiah sebanyak 50 dollar bagi partisipan. Survei tersebut menilai betapa marahnya para peserta dan konsekuensi yang dialami terkait dengan perilaku yang melampiaskan kemarahannya.

Peserta yang terlibat dalam survei tersebut berusia antara 14 hingga 54 tahun, di mana terdiri dari 11 wanita dan 21 pria. Sebelumnya telah diketahui bahwa peserta sering mengunjungi situs jejaring sosial setiap hari dan rata-rata kunjungan berlangsung selama 11 sampai 15 menit.

Mayoritas peserta mengaku dirinya sering mengungkapkan kekesalannya dengan memposting beberapa status di jejaring sosial. Sekitar 75 persen mengaku lebih tenang dan santai setelah selesai mengomel di jejaring sosial dan sisanya merasa sedikit terganggu dengan komentar orang yang menanggapi statusnya.

Hasil studi pertama tersebut menunjukkan bahwa seseorang akan merasa lebih santai setelah memposting kata-kata yang mengungkapkan kemarahannya dalam jejaring sosial. Tetapi sebenarnya, secara keseluruhan kemarahannya tersebut tidak akan lebih baik dan seseorang dapat mengekspresikan rasa frustrasinya dengan cara yang mal-adaptif.

Studi kedua melibatkan mahasiswa yang rata-rata berusia sekitar 19 tahun. Setelah menyelesaikan tes skrining yang dirancang untuk mengukur kebahagiaan, kesedihan, kemarahan dan tingkat ketakutan, peserta diminta untuk mengunjungi situs jejaring sosial tertentu dan diminta membaca status orang lain yang merupakan kata-kata kasar luapan kemarahan selama 5 menit.

Hasilnya menunjukkan bahwa baik memposting atau membaca postingan status orang lain di jejaring sosial yang berbau kemarahan atau rasa frustasi, terkait dengan pergeseran mood negatif. Penelitian ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking.

"Bagaimanapun juga, internet dapat menyebabkan masalah impulsif karena seseorang dapat segera merespon kemarahan Anda dengan lebih mudah," kata Ryan Martin, seorang profesor perkembangan manusia dan psikologi di University of Wisconsin-Green Bay, yang memimpin penelitian.

Martin menyatakan bahwa sementara, studi ini hanya difokuskan pada website yang sering digunakan orang untuk menumpahkan kata-kata kasar dan studi ini memiliki implikasi terhadap facebook, twitter, blog dan bahkan situs berita.

Bahkan seseorang yang sengaja menggunakan nama layar atau menjadi anonim dalam menumpahkan perasaan marahnya dalam jejaring sosial, membuat seseorang kurang mampu menahan diri atau cenderung mengabaikan tata cara berinteraksi dengan orang lain.

"Banyak orang berpikir bahwa meluapkan kemarahan di jejaring sosial akan banyak membantu, tetapi pada kenyataannya cara ini tidak sehat seperti ibarat menyandingkan bensin dengan sumber api," tegas Martin, seperti ditulis Everyday Health, Senin (25/3/2013).

Menurut Martin, wajar jika seseorang sesekali merasakan kemarahan, tetapi kemarahan tersebut seharusnya dikelola dengan pendekatan yang lebih sehat dan lebih efektif. Anda dapat mencoba menenangkan diri kemudian berfokus pada pemecahan masalah.




(vit/vit)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit