detikhealth

Ayo Pelajari Terapi Dasar Bagi Anak Penyandang Autis Secara Gratis

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 26/03/2013 16:16 WIB
Ayo Pelajari Terapi Dasar Bagi Anak Penyandang Autis Secara Gratisilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Istilah autisme belakangan makin marak didengar. Gangguan perkembangan ini umumnya dialami anak-anak, ditandai dengan perilaku berulang-ulang dan kurangnya kemampuan berkomunikasi serta berinteraksi. Namun orang tua tak perlu khawatir sebab gangguan ini bisa diterapi.

Semakin cepat anak penyandang autisme diterapi, semakin besar pula kemungkinannya bisa berperilaku seperti anak normal pada umumnya. Tanda-tanda autisme sendiri sudah dapat diketahui sejak anak berumur 2 tahun. Beberapa terapi yang bisa dilakukan adalah terapi perilaku, terapi okupasi dan terapi wicara.

"Terapi okupasi dan wicara mutlak penting bagi anak-anak autis, karena sebagian besar dari mereka mengalami masalah dalam koordinasi motorik dan berkomunikasi. Padahal kita tahu bahwa kemampuan motorik sangat perlu bagi anak-anak, autis maupun tidak, agar anak mampu belajar dan mandiri," kata Gayatri Pamoedji, ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI).

Hal itu dikemukakan Gayatri dalam acara launching video pendidikan 'Terapi Okupasi' dan 'Terapi Wicara' yang digelar MPATI di Jl. Brawijaya XIII No. 9 Prapanca, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2013). Video ini merupakan kelanjutan dari video terapi perilaku yang sebelumnya pernah dibuat MPATI.

Menurut Gayatri, ketiga terapi ini perlu dilakukan secara berurutan. Jadi diawali dengan terapi perilaku lalu diteruskan dengan terapi okupasi dan terapi wicara. Terapi perilaku bertujuan memperbaiki perilaku yang dinilai menganggu, misalnya sering tantrum atau rewel dan berteriak-teriak.

Setelah anak tenang, barulah dapat dilanjutkan dengan terapi okupasi. Terapi ini ditujukan agar anak menguasai keterampilan motorik halus dan motorik kasar dengan baik. Keterampilan motorik halus adalah kemampuan melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil pada tangan, misalnya menggenggam dan menggunting.

Sedangkan keterampilan motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, misalnya berlari, melompat dan sebagainya. Terapi okupasi ini hanya bisa dilakukan jika anak sudah tenang dan mendapat terapi perilaku terlebih dahulu.

"Harus yang pertama dulu, harus perilaku dulu. Paling tidak anak harus dididik dulu baru bisa dilanjutkan terapi yang kedua. Kalau motorik kasar belum beres, motorik halus juga belum beres. Wicara itu masuk motorik halus," papar Gayatri.

Gayatri menjelaskan bahwa terapi yang menyasar kemampuan motorik ini amat diperlukan oleh anak penyandang autis. Apabila kemampuan motorik kurang berkembang baik, biasanya kemampuan sensori atau indera perasanya juga kurang berkembang.

Jika indra perasanya tidak berkembang baik, maka proses belajar anak akan terganggu. Anak lalu mudah merasa tak nyaman dan melakukan perilaku mengganggu orang lain atau membahayakan dirinya sendiri seperti membentur-benturkan kepala atau menarik-narik rambut.

"Ada beberapa macam terapi lain yang katanya bisa untuk mengatasi anak autis, namun baru ketiga terapi inilah yang sudah terbukti keabsahannya di seluruh dunia," ujar Gayatri yang juga memiliki putra penyandang autis ini.

Video terapi perilaku bisa diunduh secara gratis di situs MPATI, yaitu autismindonesia.org. Untuk terapi okupasi dan wicara, rencananya akan tersedia setelah tanggal 6 April 2013 nanti. Video ini memberikan pemahaman kepada orang tua cara yang tepat untuk mendidik anak penyandang autis.


(pah/vit)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit