detikhealth

Doctor's Life

Dr Florence Manurung, Dokter 'Pencerah' Dunia Anak-anak

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Senin, 01/04/2013 12:31 WIB
Dr Florence Manurung, Dokter Pencerah Dunia Anak-anakDr. Florence Manurung, SpM (Foto: Merry/detikHealth)
Jakarta, Mata adalah jendela dunia karena melalui organ kecil tersebut, manusia bisa mengenal dan melihat isi dunia. Tapi bagaimana bila mata sudah bermasalah sejak anak-anak? Dunia seakan buram dan tidak jelas hampir sepanjang hidup. Untuk masalah itu, Dr. Florence Manurung, SpM adalah jawabannya.

Dr. Florence Meilani Manurung, SpM kini fokus menjalani profesinya sebagai dokter mata anak, dokter yang menjadi 'pencerah' dunia anak-anak. Betapa tidak, gangguan mata seperti gangguan refraksi mata, mata malas, juling pada anak tidak hanya membuat dunianya menjadi buram, tetapi juga dapat merenggut prestasi dan masa depannya.

"Yang paling banyak kasus gangguan refraksi (gangguan kacamata) dan mata malas. Ada juga juling, yang lain-lainnya sedikit. Sekarang juga lagi booming (masalah pada) bayi prematur, yang disebut Retinopathy of Prematurity (ROP). Kenapa? Karena dia menyebabkan kebutaan sejak baby," jelas Dr. Florence Meilani Manurung, SpM, saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis Senin (1/4/2013).

Dr. Florence menuturkan, kasus gangguan mata pada anak sekarang makin meningkat seiring dengan meningkatnya teknologi. Komputer, gadget, video game, televisi, merupakan penyumbang besar kasus gangguan refraksi mata pada anak. Pasiennya pun semakin muda, rata-rata sebelum usia 7 tahun sudah harus mengenakan kacamata.

Belum lagi kasus mata malas, yang biasanya terjadi bila gangguan minus pada mata anak tidak disadari orang tua, sehingga si anak terlambat mendapat bantuan kacamata. Juga bisa terjadi karena si anak malas menggunakan kacamatanya. Akibatnya, otak terlatih untuk melihat buram.

Hal ini sangat memprihatinkan karena gangguan mata pada anak tidak hanya mengganggu penglihatannya, tetapi juga proses belajar dan prestasi di sekolah. Terlebih kasus Retinopathy of Prematurity (ROP) yang bisa menyebabkan kebutaan sejak bayi.

"Bayangkan kalau anaknya bisa hidup sampai umur 80 tahun, penderitaan orang tuanya akan panjang banget. Mata pada bayi prematur belum berkembang sempurna, sedangkan banyak sekali yang harus dibantu dokter untuk menyelamatkan hidupnya. Nah, ternyata banyak bantuan ini mempengaruhi perkembangan matanya. Karena perkembangan matanya terganggu, yang terjadi adalah sarafnya copot. Gejalanya sih nggak ada, ternyata gedean dikit kok anak saya nggak fokus," jelas dokter yang kini bertugas di Jakarta Eye Center @ Kedoya.

Inilah yang menarik Dr. Florence untuk menjadi seorang dokter mata anak. Meski diakuinya menjadi dokter mata apalagi dokter mata anak bukanlah keinginan awalnya.

"Dulu saya lulus dokter umum tidak sengaja jadi dokter mata. Karena guru saya bilang, 'Kamu jadi asisten saya di mata', saya pikir haduh kok mata sih, sudah kecil saya harus lihat sendiri lagi," kenang wanita kelahiran Balige, Sumatera Utara, 27 Mei ini.

Namun setelah mendalaminya, lama-kelamaan ia pun memutuskan untuk mengambil spesialis mata. Menurutnya, organ mata itu seperti menelusuri goa, kecil dan pekerjaannya sangat halus, serta membutuhkan kesabaran yang tinggi.

Mata pun tidak segampang yang ia pikir, yang sekali lihat langsung selesai. Organ mata begitu rumit, bahkan bisa berhubungan dengan otak yang sama rumitnya.

"Nah, sekarang kenapa anak? Dulu saya nggak mau di anak. Pokoknya semakin membenci semakin menjadi. Dulu saya nggak mau mata, ternyata masuk mata. Kalau disuruh mata apa, saya nggak mau anak ternyata masuk anak. Oke, tapi saya nggak mau baby, ternyata sekarang menangani anak baby. Kesimpulan, jangan membenci nanti semakin menjadi," ujarnya sambil tertawa.

Kini setelah asyik berkecimpung di kesehatan mata anak, banyak suka duka yang dialami ibu dua anak ini. Anak yang lucu, penurut dan mudah menjawab pertanyaan, merupakan kesukaan tersendiri bagi Dr. Florence, ditambah bila orang tuanya juga dapat bekerja sama.

Sebaliknya, anak yang susah diajak kerja sama, orang tua yang memiliki persepsi sendiri tentang anaknya, seringkali menyulitkannya melakukan pemeriksaan. Kondisi ini membuatnya harus berangkat paling pagi dan pulang paling belakangan.

"Nah, itu makanya butuh pendekatan. Makanya kalau jadi dokter mata anak bukan hanya matanya saja, tapi jiwanya juga mesti dipelajari, sifatnya mesti dipelajari," tutup Dr Florence.



BIODATA

Nama lengkap
Dr. Florence Meilani Manurung, SpM

Tempat dan tanggal lahir
Balige Sumatera Utara, 27 Mei

Status perkawinan
Menikah dengan Frans Silitonga dan dikaruniai 2 orang anak

Riwayat Pendidikan
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI)
Spesialis Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI)
Fellowship, Phacoemulsification, Dr Agarwal Eye Hospital, Chennai, India
Fellowship, Pediatric Ophthalmology & Strabismus, Aditya Jyot Eye Hospital and Jyotirmay, Eye Clinic, Mumbai, India
Fellowship, Retinopathy of Prematurity and Retinal Eye Diseases in Children, LVPEI, Hyderabad, India.

(mer/vit)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit