detikhealth

Capaian MDGs Indonesia Sudah Signifikan Tapi Masih Butuh Kerja Keras

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 01/04/2013 15:30 WIB
Capaian MDGs Indonesia Sudah Signifikan Tapi Masih Butuh Kerja KerasIlustrasi (dok: Kukpri MDGs)
Yogyakarta, Tahun 2015 merupakan target akhir pencapaian MDGs (Millenium Development Goals) yang dicanangkan Indonesia bersama 189 negara anggota PBB lainnya. MDGs sendiri terdiri dari 8 tujuan utama.

Kedelapan tujuan utama tersebut yaitu 1). Penanggulangan kemiskinan dan kelaparan; 2). Memberikan pendidikan dasar yang universal; 3). Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; 4). Mengurangi tingkat kematian bayi; 5). Meningkatkan kesehatan ibu; 6). Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; 7). Memastikan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan; serta 8). Membangun kemitraan global dalam pembangunan.

"Meskipun gambaran pencapaian MDGs di Indonesia sudah menunjukkan kemampuan yang signifikan, tetapi kita masih harus bekerja ekstra keras untuk mencapainya, terutama dalam penurunan angka kematian ibu, penanggulangan HIV/AIDS dan akses terhadap air minum serta sanitasi layak," ungkap Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K), Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs dalam Orasi Ilmiah Memperingati 40 Tahun Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Senin (1/4/2013).

Dalam orasinya, dokter spesialis mata lulusan UI ini mengungkapkan capaian tujuan MDGs di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama, tujuan yang berhasil dicapai; kedua, tujuan yang menunjukkan kemajuan bermakna dan diharapkan dapat dicapai pada atau sebelum tahun 2015; ketiga, tujuan yang masih memerlukan upaya keras untuk mencapainya.

Untuk tujuan MDGs yang berhasil tercapai diantaranya MDG-1 yaitu penurunan angka kemiskinan dari 15,10 persen (1990) menjadi 12,49 persen (2011); MDG-3 yaitu rasio angka melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia 15-24 tahun telah mencapai 99,95 persen pada 2011; dan MDG-6 yaitu pengendalian penyebaran dan penurunan jumlah kasus baru tuberkulosis (TBC). Indikasinya antara lain penurunan angka kejadian dan kematian berkat adanya strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course).

Sedangkan untuk tujuan MDGs yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015 (on-track) dipaparkan hal-hal seperti MDG-2 yaitu proporsi murid kelas satu yang berhasil menamatkan sekolah dasar; MDG-4 yaitu penurunan yang sudah mendekati dua pertiga angka kematian neonatal atau pasca persalinan dan proporsi anak satu tahun yang mendapat imunisasi campak mengalami peningkatan tajam.

Kemudian MDG-5 yaitu peningkatan angka pemakaian kontrasepsi; peningkatan proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan antiretroviral (MDG-7) dan pemanfaatan teknologi informasi (MDG-8).

"Kendati begitu, capaian-capaian tersebut dianggap belum cukup karena masih banyak hambatan dan tantangan. Saya menekankan adanya tiga rapor merah pada pencapaian MDGs di Indonesia yaitu kemiskinan, HIV/AIDS dan angka kematian ibu yang masih tinggi," terang ibu tiga anak ini.

Belum lagi antara satu hambatan dengan hambatan lainnya saling tumpang-tindih. Misalnya, terkait kasus HIV/AIDS, ibu Nila mengakui jika angka pernikahan dini di Indonesia, ditambah dengan banyaknya generasi muda di Indonesia yang tidak paham betul apa itu kesehatan reproduksi. Akibatnya sulit untuk mengetahui apakah remaja dan generasi muda Indonesia tahu risiko HIV/AIDS yang dialaminya dan bagaimana mencegah datangnya penyakit tersebut.

Nila juga mengungkapkan di balik capaian MDGs yang dirasa sudah signifikan itu sebenarnya banyak sekali pertanyaan kecil yang mengganjal tapi besar kaitannya dengan MDGs. Misalnya, terkait peningkatan proporsi anak satu tahun yang mendapat imunisasi campak, dari situ ibu Nila masih ragu apakah distribusi vaksin campak sudah merata di seluruh Indonesia mengingat tak semua puskesmas di Indonesia memiliki lemari es yang sangat diperlukan untuk menyimpan vaksin. Atau bahkan sudah terjangkau oleh jaringan listrik.

Untuk peningkatan proporsi penggunaan kontrasepsi diantara pasangan menikah, ibu Nila juga menemukan bahwa di Indonesia kebanyakan bidan lebih sering menggunakan KB suntik yang sifatnya jangka pendek yaitu hanya bertahan tiga bulan. "Jadi jika para ibu tidak meminta KB suntik lagi atau lupa melakukannya bisa dipastikan ia akan hamil lagi. Akibatnya tercatat lima juta penduduk Indonesia bertambah setiap tahunnya," tandas ibu Nila. Hal ini berarti penggunaan kontrasepsi seperti itu menjadi tidak efektif untuk menekan angka kelahiran di Indonesia.

"Adanya Jampersal pun belum tentu memberi solusi. Apalagi jaminan ini tidak menjangkau daerah terpencil, kemudian ketidaktahuan masyarakat tentang apa manfaat Jampersal yang sebenarnya sehingga terkadang terjadi penyalahgunaan seperti mumpung gratis, istrinya disuruh hamil terus," kisah istri mantan Menteri Kesehatan, Farid Anfasa Moeloek ini.

Baginya, permasalahan utama pencapaian MDGs adalah sumber daya manusia Indonesia yang belum sepenuhnya siap untuk berkolaborasi, baik dari masyarakat sendiri maupun pemerintah dalam mengimplementasikan 8 tujuan utama pembangunan manusia atau human development ini. Garis bawahnya terletak pada pentingnya aspek pendidikan bagi masyarakat, terutama wanita.



(vit/vit)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit