detikhealth

Mirip Film Spionase, Data Obat Kanker Dicuri untuk Diteliti di China

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 03/04/2013 16:30 WIB
Mirip Film Spionase, Data Obat Kanker Dicuri untuk Diteliti di Chinailustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Tak hanya data mengenai rahasia negara saja yang bisa dicuri lalu dimanfaatkan untuk pihak luar, namun data penelitian obat juga. Mirip kisah spionase di film-film, seorang peneliti di AS ditangkap karena dituduh mencuri data penelitian terbaru mengenai pengobatan kanker untuk dikembangkan di China.

Selama hampir 2 tahun, Hua Jun Zhao (42 tahun) bekerja sebagai peneliti di Medical College of Wisconsin. Zhao adalah seorang peneliti kanker yang sudah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun. Ia dituduh mencuri hasil penelitian profesornya lalu membawanya untuk diteliti di China.

Hasil penelitian tersebut berupa obat dan analisis senyawa C-25. Senyawa ini tengah diteliti sebagai obat kanker karena mampu membunuh sel-sel kanker tanpa merusak sel-sel yang normal. Obat tersebut masih sedang dipelajari di laboratorium dan belum diuji coba secara klinis.

Zhao bekerja di bawah pimpinan profesor Marshall Anderson dalam penelitian mengenai C-25. Pada tanggal 22 Februari, Anderson mengetahui botol berisi bubuk C-25 bernilai US$ 8.000 atau sekitar Rp 77,9 juta dicuri dari kantornya. Rekaman video keamanan menunjukkan Zhao adalah satu-satunya orang yang memasuki kantor Anderson pada hari itu.

Ketika penyelidik FBI menanyakan tentang hilangnya botol tersebut, Zhao mengaku tidak paham. Pihak Universitas segera mengambil langkah dengan memberikan Zhao cuti administratif. Ia lalu ditangkap pada tanggal 29 Maret dan dituduh melakukan spionase ekonomi dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda US$ 500.000 atau sekitar Rp 4,86 miliar.

"Tuduhannya, pertama-tama Anda mencuri rahasia dagang. Lalu Anda juga menjual rahasia ini dengan tujuan menguntungkan pemerintah asing secara sengaja. Ini cerita yang menarik, tapi saya percaya kasus ini tidak akan membangun ketegangan antara AS dan China," kata jaksa Jeff Wagner seperti dilansir NBC News, Selasa (3/4/2013).

Hasil investigasi FBI menemukan dokumen penelitian pada hard drive milik Zhao, surat lamaran hibah pendanaan kepada sebuah universitas di China untuk penelitian C-25 dan tanda terima paket yang dikirim ke istrinya dalam waktu yang berdekatan dengan waktu hilangnya obat.

Sebulan sebelumnya, Zhao sempat mengalami kasus dengan pihak kampus, yaitu dihukum karena menyimpan data laboratorium di dalam komputer pribadinya. Pada bulan Desember 2012 lalu, Zhao diketahui melakukan perjalanan ke China.

Ketika kembali ke AS pada pertengahan Februari, dia mengklaim dalam resumenya bahwa dia merupakan seorang asisten profesor di Universitas Zhejiang, universitas yang sebelumnya pernah bermasalah dengan kasus plagiarisme dan pencurian.

Dia Haibo, seorang profesor Ilmu Farmasi di Universitas Zhejiang dipecat pada tahun 2009 setelah kepergok menerbitkan makalah dengan data yang dicuri dari profesornya ketika masih menjadi mahasiswa doktoral di universitas lain di China.


(pah/vit)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit