detikhealth

Nafsu Makan Meningkat Setelah Konsumsi Vitamin B? Imbangi dengan Olahraga

Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
Kamis, 04/04/2013 14:00 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Vitamin merupakan salah satu asupan yang dibutuhkan untuk membantu metabolisme tubuh. Berbagai jenis vitamin saat ini dapat dengan mudah dikonsumsi. Namun sayangnya, masih banyak orang yang menghindari vitamin karena takut gemuk.

"Mengonsumsi vitamin, khususnya vitamin B tidak akan membuat gemuk. Hanya saja, mereka yang sudah mengonsumsi vitamin ini akan merasa badannya lebih fit sehingga nafsu makannya meningkat. Namun sayangnya tidak diimbangi dengan olahraga, inilah yang membuat tubuh menjadi lebih gemuk," ujar dr Manfaluthy Hakim, SpS(K) dalam acara Media Workshop dengan tema Konsumsi Vitamin Neurotropik Sejak Dini Cegah Neuropati di Penang Bistro Kebon Sirih Jl Kebon Sirih Raya No 59 Menteng, Jakarta Pusat, seperti ditulis pada Kamis (4/4/2013).

Dalam acara ini dr Luthy menjelaskan bahwa pengonsumsian vitamin B yang dibutuhkan untuk tubuh tidak akan membuat tubuh menjadi gemuk. Vitamin B, khususnya B1, B6, dan B12 yang dibutuhkan saraf akan terserap tubuh paling banyak hanya 2 persen.

"Sisanya akan keluar melalui urine. Jadi, jangan heran kalau pada saat mengonsumsi vitamin B bau dari urine Anda sedikit berbeda dari biasanya. Vitamin B berbeda dengan vitamin A atau D yang tidak dikeluarkan melalui urin, sehingga jangan takut untuk mengonsumsinya secara maksimal," jelasnya lebih lanjut.

Dalam acara yang juga meluncurkan Neuropathy Service Point (NSP) ini dokter Luthy didampingi juga oleh Prof. Dr. dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), M.S. Mereka mengungkapkan bahwa masih banyak sekali orang yang mengabaikan pentingnya vitamin B bagi kesehatan saraf di dalam tubuhnya.

Prof Hasan yang juga ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) pusat dan konsultan neurologis menuturkan bahwa edukasi mengenai neuropati perlu ditingkatkan. Neuropati merupakan salah satu kondisi kerusakan saraf yang dialami khususnya pada usia 40 tahun ke atas.

Dengan adanya NSP atau tempat pemeriksaan risiko neuropati yang sudah tersedia di 4 kota besar di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan pemahaman yang lebih pada masyarakat mengenai penyakit ini.

PERDOSSI bekerja sama dengan MerckSerono mengupayakan agar masyarakat lebih peduli terhadap neuropati. Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan pasien melalui NSP, diketahui terdapat sekitar 29,7 persen pasien mengalami gejala neuropati. Padahal gejala neuropati timbul justru ketika sudah terjadi kerusakan saraf.

Nah, beberapa gejala neuropati adalah kram, kesemutan atau baal yang terus berulang secara spontan. Jika Anda merasakan hal-hal tersebut, segera konsumsi vitamin B untuk regenerasi saraf yang lebih baik.

(vit/vit)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit