detikhealth

Studi: Shisha Tidak Lebih Aman Dibandingkan Rokok

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 22/04/2013 16:00 WIB
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta, Selama ini rokok telah memiliki reputasi sebagai sesuatu yang tidak sehat dan memicu kanker, sehingga orang beralih dengan menggunakan pipa air atau shisha. Namun berdasarkan studi yang dilakukan oleh Cancer Epidemiology, Biomarkers, and Preventionter, shisha tidak lebih aman dibandingkan rokok. Apa bahayanya?

Shisha dan sejenisnya berasal dari Timur Tengah sudah menjadi hal yang biasa untuk masyarakat di sana. Di Indonesia bahkan sudah mulai populer. Studi pada tahun 2011 menemukan lebih dari 40 persen mahasiswa telah menggunakan shisha, dan sebagian besar percaya shisha lebih aman dibandingkan rokok.

Selama ini sebagian besar masyarakat yakin bahwa tembakau yang terdapat di dalam pipa shisha tidak beracun, juga bahwa air di shisha tidak menyaring bahan beracun di dalam asap tembakau. Faktanya, penghisap shisha bahkan sebenarnya menghisap asap tembakau melebihi penghisap rokok.

Untuk membandingkan efek 2 metode ini, para peneliti di US San Fransisco melakukan penelitian secara acak pada 13 responden (8 orang laki-laki dan 5 orang perempuan) yang memiliki pengalaman dalam menggunakan rokok dan shisha. Peserta masing-masing merokok selama 4 hari, dilanjutkan seminggu kemudian untuk menghisap shisha selama 4 hari juga. Jika dibandingkan secara akurat, para peserta merokok rata-rata 11 batang per hari atau 3 sesi shisha per hari.

Saat dilakukan pengukuran jumlah nikotin dalam darah, ditemukan bahwa penghisap shisha memiliki kadar nikotin dalam darah sekitar setengah total kadar nikotin dalam darah perokok. Ditemukan juga bahwa tingkat yang lebih rendah masih dapat menimbulkan kecanduan.

Para peneliti juga menemukan bahwa kadar karbon monoksida dalam napas peserta dengan shisha 2.5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perokok. Padahal karbon monoksida inilah yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan kematian mendadak pada orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.

Selain itu, peneliti pun mengkaji urine peserta dan menemukan bahwa penghisap shisha memiliki tingkat signifikan benzena lebih tinggi dibandingkan pada perokok. Benzena merupakan faktor yang dikaitkan dengan risiko penyakit leukemia.

"Dari hasil penelitian ini, paling dikhawatirkan adalah risiko leukemia terkait dengan tingginya tingkat paparan benzena dengan menghisap pipa air seperti shisha," lanjut penulis peneliti dari UC San Francisco, seperti dikutip dari LA Times, Senin (22/4/2013).

(vit/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit