detikhealth

Tak Punya Batang Tenggorok, Nyawa Bayi Selamat Berkat Pipa Plastik

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Kamis, 23/05/2013 11:53 WIB
Tak Punya Batang Tenggorok, Nyawa Bayi Selamat Berkat Pipa PlastikKaiba Gionfriddo (Foto: USA Today)
Michigan, AS, Kelainan sejak lahir membuat saluran pernapasan seorang bayi rusak. Akibatnya, dia jadi kesulitan bernapas, bahkan tiba-tiba bisa berhenti bernapas. Dokter memperkirakan bayi ini tak akan pulang dalam keadaan hidup. Beruntung, seorang dokter membuatkan saluran udara dari plastik.

Selama ini, biasanya orang dewasa yang batang tenggorokannya rusak harus menjalani cangkok tenggorokan yang didapat dari donor mati atau yang dibuat di laboratorium. Terkadang, batang tenggorokan juga bisa dibuat dengan menggunakan sel induk atau stem cell.

Namun pada Kaiba Gionfriddo, masalahnya berbeda. Salah satu cabang tenggorokan yang mengalir ke paru-paru bayi berusia 19 bulan ini tidak terbentuk dengan sempurna. Gangguan ini terbilang langka, hanya dialami sekitar 2.000 bayi lahir tiap tahun di AS.

Sebagian besar gangguan ini sembuh sendiri saat berusia 2 atau 3 tahun karena perkembangan jaringan. Pada pada kasus yang parah, gangguan yang dialami dapat membuat bayi mendadak berhenti bernapas dan berakibat fatal. Itulah yang hampir terjadi pada Kaiba ketika usianya 6 minggu. Akibatnya, Kaiba harus hidup dibantu mesin pernapasan.

"Warna kulitnya membiru dan berhenti bernapas. Beberapa dokter mengatakan dia nampaknya tidak punya kesempatan meninggalkan rumah sakit hidup-hidup. Itu cukup menakutkan. Kami banyak berdoa setiap malam, berharap dia akan sembuh," kata April Gionfriddo, ibunda Kaiba seperti dikutip dari Huffington Post, Kamis (23/5/2013).

Sekian lama berdoa, seorang dokter menyarankan kedua orang tua Kaiba untuk mencoba eksperimen para dokter di Michigan. Di sana, peneliti tengah menguji alat bantu pernapasan yang terbuat dari biodegradable poliester yang terkadang digunakan untuk memperbaiki tulang dan tulang rawan.

Dengan menggunakan partikel plastik dan printer laser 3-D, dokter bisa membuat alat bantu pernapasan. Para dokter di Michigan memang telah banyak meneliti alat bantu pernapasan sintetis, tetapi belum ada satu pun yang ditanamkan kepada manusia. Dalam sehari, mereka bisa mencetak 100 buah pipa kecil menggunakan laser komputer.

Bahan yang digunakan adalah plastik tipis dan tinta untuk membentuk berbagai macam bentuk dan ukuran. Dengan izin khusus dari Food and Drug Administration (FDA), sebuah pipa coba ditanamkan pada saluran pernapasan Kaiba. Percobaan tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam dunia kedokteran.

Kaiba menjalani operasi pada tanggal 9 Februari 2012, ketika itu usianya masih 3 bulan. Pipa plastik ditempatkan di sekitar cabang tenggorokannya yang rusak. Sebuah belat dipasang dengan panjang sedemikan rupa sehingga dapat mengembang saat anak tumbuh dewasa.

"Bahan plastik yang digunakan dirancang untuk terurai dan akan diserap oleh tubuh secara bertahap selama 3 tahun. Nantinya, plastik ini akan diganti oleh jaringan sehat," kata insinyur biomedis yang memimpin operasi, Scott Hollister.

Ternyata hasilnya ajaib. Seorang bayi yang awalnya diprediksi tidak akan bisa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hidup bisa bernafas normal untuk pertama kalinya. Kini usia Kaiba sudah hampir 19 bulan dan baik-baik saja. Setelah keberhasilan ini, para peneliti tengah menunggu hak paten dari penemuannya.

(pah/up)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit