detikhealth

GBS, Penyakit Langka dengan Pengobatan Mahal

Muchus Budi R. - detikHealth
Selasa, 04/06/2013 07:35 WIB
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Solo, Aqin Rizka Ayati, mahasiswi UNS yang didiagnosa menderita Guillain Barre Syndrome (GBS), telah lebih sebulan dirawat di RS Dr Oen Kandangsapi, Solo. Pengobatan untuk penyakit langka tersebut memang tergolong mahal. Orang tua Aqin yang hanya kerja serabutan sebagai tukang bangunan, telah mengeluarkan Rp 142 juta untuk biaya perawatan anak sulungnya itu.

Agus Wibowo, ayah Aqin, hanyalah seorang pekerja lepas, serabutan. Warga kampung Ngoresan, Jebres, Solo, tersebut lebih sering ikut dalam proyek bangunan. Agus mengaku telah menjual semua barang berharga yang ada di rumah untuk membiayai perawatan anaknya yang telah berada di rumah sakit sejak 29 April lalu.

"Semula hanya mengalami kejang dengan diagnosa penyakit maag kronis, tapi setelah sepekan di rawat di sini ternyata mengalami persoalan di pencernaan dan kemudian mengalami kelumpuhan. Dokter mengatakan Aqin kena GBS dan harus ditempatkan di ICU," ujar Agus, Senin (3/6/2013) petang.

Agus mengatakan selama tiga hari terakhir, kondisi anaknya saat ini relatif stabil. Artinya kondisi kesehatannya tidak menurun namun juga tidak mengalami kemajuan. Sedangkan untuk pernapasan tetap harus menggunakan alat bantu. Tanpa alat bantu itu, mahasiswi semester 2 jurusan Pendidikan Kimia FKIP UNS tersebut, kesulitan untuk bernapas.

Selain itu Aqin juga harus mendapatkan obat-obatan yang cukup mahal. Dari gamaras hingga obat-obatan penunjang lainnya telah diberikan. Harganya, bukan angka yang murah bagi Agus. Dokter sejauh ini juga belum memberikan saran atau anjuran langkah ke depan yang akan dilakukan karena masih dipelajari lagi.

Tiga hari setelah diketahui mengalami sakit GBS, Aqin mengonsumsigamaras selama 4 hari. Dalam satu hari, ada 4 botol gamaras yang harus dikonsumsinya. Per botol harganya sekitar Rp 3 juta.

Saat ini obat Gamaras memang sudah tidak lagi dikonsumsi Aqin, namun dia harus mendapat 15 macam obat-obatan maupun vitamin untuk menunjang penyembuhannya. Menurut sang ibu, Kinah, dalam sehari setidaknya dikeluarkan uang Rp 2 juta.

"Hingga saat ini saya sudah mengeluarkan Rp 142 juta untuk biaya perawatan Aqin di rumah sakit. Semua barang berharga di rumah sudah terjual. Sumbangan dan bantuan dari kerabat, kawan-kawan sekolah maupun kuliah Aqin, serta bantuan dari eks guru sekolahnya selama ini sangat menolong kami," ujar Agus dengan mata berkaca-kaca.

Pengakuan Agus tersebut dibenarkan oleh Ajeng Sekar Arum, Humas RS Dr Oen, Solo. Ajeng mengatakan GBS memang penyakit langka dan membutuhkan perawatan dengan biaya mahal. Hingga saat ini pihak rumah sakit telah memberikan pelayanan maksimal untuk membantu meringankan sakit yang diderita Aqin sebagai pasien.

Nah, jika Anda juga ingin membantu biaya pengobatan Aqin maka bisa menyalurkannya melalui rekening 310601012015537 milik ibunda Aqin, Kinah, di BRI Simpedes. Atau bisa juga langsung mengunjungi Aqin yang dirawat di ICU RS Dr Oen Surakarta, Jawa Tengah. Meski orang tuanya kurang mampu, namun Aqin dirawat di kamar VIP lantaran kondisi psikologisnya tidak memungkinkan untuk dirawat bersama pasien lainnya dalam ruangan yang sama.
(mbr/vta)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit