detikhealth

Lahir 1 Badan 2 Kepala, Kembar Dempet Tak Bisa Dicegah

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Senin, 01/07/2013 12:29 WIB
(Foto: detikcom)
Jakarta, Kembar dempet terjadi karena adanya gangguan pada pembelahan. Sayangnya, kondisi ini tidak terjadi akibat pengaruh luar atau lingkungan, sehingga tidak ada cara pencegahan yang bisa dilakukan.

Kasus kembar dempet terbaru, bayi lahir dengan satu badan dua kepala lahir di Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Anak pasangan Usman dan Munjiah yang belum diberi nama ini kini tengah dirawat di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit), RSU Dr Sardjito Yogyakarta.

Kasus ini cukup jarang terjadi. Meski begitu, dokter mengatakan kondisi ini tak bisa dicegah selagi janin masih ada di dalam kandungan.

"Bukan ya (karena pengaruh lingkungan). Itu karena pembelahannya yang ada masalah, terhambat. Jadi nggak bisa dicegah," jelas Dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pertamina, saat berbincang dengan detikHealth, Senin (1/7/2013).

Menurut Dr Frizar, kasus kembar siam atau dempet biasanya bukan akibat pengaruh lingkungan seperti konsumsi obat saat hamil, melainkan lebih pada gangguan pembelahan saat masa pembuahan.

"Kalau telurnya cuma satu, jadinya kembar identik. Tapi karena pembelahannya yang terlambat, masih ada bagian tubuh yang menyatu. Bukan karena genetik atau obat. Kalau bibir sumbing bisa karena penggunakan steroid atau obat penyubur, tapi kalau kembar dempet bukan, karena gangguan pembelahan," jelas Dr Frizar.

Kembar identik (kembar monozigot) terjadi ketika telur yang dibuahi membelah dan berkembang menjadi dua individu. Delapan sampai 12 hari setelah pembuahan, lapisan embrio yang akan terbelah membentuk kembar monozigot mulai berkembang menjadi organ dan struktur tertentu.

Nah, pembelahan yang terjadi pada kembar siam atau dempet terjadi terlambat setelah masa pembelahan tersebut. Dilansir Mayo Clinic, diyakini pembelahan embrio yang akan menjadi kembar siam terjadi antara 13 hingga 15 hari setelah pembuahan, membuat pemisahannya berhenti sebelum proses selesai, sehingga masih ada bagian tubuh yang menyatu.

Dr Frizar mengatakan, pemisahan bisa dilakukan tergantung organ apa saja yang menyatu, tingkat kesulitan dan risikonya. Butuh analisis dan pendalaman yang tajam sebelum dokter memutuskan untuk dilakukan operasi pemisahan.

"Ini butuh pendalaman, harus dilihat persis organ-organ apa saja yang dempet. Kalau jantungnya cuma 1, ya bagaimana mau dipisahkan," tutup Dr Frizar.

(mer/vta)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit