detikhealth

Bantu Persalinan Waterbirth, Dokter Direkomendasikan Dicabut Registrasinya

Edward Febriyatri Kusuma, Vela Andapita - detikHealth
Jumat, 04/10/2013 16:17 WIB
Bantu Persalinan Waterbirth, Dokter Direkomendasikan Dicabut RegistrasinyaFoto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta, Persalinan dengan metode waterbirth dinilai Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) belum boleh dilakukan di Indonesia. Sebab metode itu belum masuk kurikulum pendidikan kedokteran. MKDKI pun memberi rekomendasi pencabutan surat registrasi seorang dokter yang membantu persalinan waterbirth.

"Jadi dicabut selama setahun," kata Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K), dalam perbincangan dengan detikHealth, dan ditulis pada Jumat (4/10/2013).

Dokter tersebut adalah dr TOS yang berpraktik di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Rekomendasi dibuat setelah MKDKI mendapat pengaduan dari seorang ibu yang anaknya meninggal setelah dibantu dr TOS menjalani metode waterbirth.

Pelaporan dilakukan tanggal 5 Juni 2012. Berdasarkan pemeriksaan, pada 23 Juli 2013 lalu, komisioner menemukan pelanggaran disiplin kedokteran sebagaimana diatur dalam perkonsil Nomor 4 tahun 2011 tentang disiplin profesional dokter dan dokter gigi pasal 3 ayat 2. Selain merekomendasi pencabutan surat tanda registrasi selama satu tahun, dr TOS juga tidak diperbolehkan menolong persalinan dengan waterbirth selama satu tahun, sampai metode tersebut ada dalam kurikulum pendidikan kedokteran.

"Kami dari MKDKI tidak punya hak untuk melarang, tapi kalau ada pengaduan seperti kasus ini, ya kita proses," jelas Prof Ali.

Prof Ali menyatakan sampai saat ini di Indonesia belum pernah ada penelitian terhadap metode persalinan dalam air. Penelitian seharusnya dilakukan baik dari sisi medis ataupun sosial, untuk diketahui apakah masyarakat Indonesia butuh dan cocok menjalankan proses kelahiran ini. Pihak MKDKI, pendidikan kedokteran, kolegium obstetri-ginekologi, dan organisasi profesi kedokteran belum mengakui waterbirth sebagai metode persalinan yang baik untuk dilaksanakan di Indonesia.

Merasa Jadi Korban Malpraktik

Suami istri Martini Nazif (35) dan Mikes Mardhana (28) yang melaporkan dr TOS ke MKDKI setelah kehilangan anak pertamanya karena persalinan dalam air. Pasca keluar keputusan MKDKI, keluarga yang merasa jadi korban malpraktik ini melanjutkan kasus ke pengadilan.

Menurut Martini, saat hamil, setiap bulan dirinya memeriksakan kandungan ke dr TOS. Saat pemeriksaan kesembilan dia bersama suaminya diminta melakukan persalinan dalam air (water birth) oleh dr TOS.

"Waktu saya sudah bilang tidak mau karena saya takut darah, ketika itu saya meminta untuk melahirkan caesar, namun dokter bilang kalau bayi saya kecil jadi tidak perlu caesar dan memilih untuk metode water birth," ujar Martini Nazif saat konferensi pers di salah satu rumah makan di Pangkalan Jati, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (2/10/2013).

Setelah melalui pertimbangan dan bekal ilmu pengetahuan tentang waterbirth dari dunia maya, Martini menerima saran dari dokter tersebut. Rencananya persalinan akan dilakukan di RS di bilangan Jakarta Selatan yang dekat dengan rumahnya.

Pada (31/10/2011) ia kembali berkonsultasi dengan dokter karena pada kehamilan ke-40 ada flek. Namun dokter meminta dirinya untuk lebih rileks. "Saya sempat menanyakan apakah bayi saya sehat, karena saya takut kalau bayi saya makan dan minum air ketuban, tapi dokter bilang bayi minum air ketuban nggak apa-apa, toh bayi juga minum air ketuban," ucap Martini menirukan ucapan sang dokter.

Kemudian pada Sabtu (5/11/2011) sekitar pukul 14.00 WIB, ia kembali berkonsultasi. Hasil konsultasi dokter mengatakan belum ada tanda pembukaan di dalam rahum. Selain itu dokter mengatakan Martini mengalami kenaikan berat badan sebanyak 22,5 Kg.

"Awalnya diperiksa melakukan observasi dengan menggunakan CTG dan Doppler lalu saya diberikan induksi untuk merangsang rasa mulas," tutur Martini.

Proses pemberian induksi dilakukan dokter sebanyak 8 kali, dengan 2 tablet dosis seperempat. Tidak lama obat tersebut membuat pasien mulas kontraksi dan kesakitan. Namun dokter menyatakan kalau itu hal yang wajar. Menurut Dokter jika sampai keesokan hari tidak ada perkembangan, maka akan dilakukan operasi.

"Saya pun baru mengetahui setelah sidang MKDKI, kalau proses induksi dilakukan maksimal tiga kali jika tidak bisa harus di-caesar. Bahkan komisioner mengatakan saya wanita tangguh karena mampu menahan rasa sakit akibat induksi sebanyak delapan kali," kata Martini.

Selasa (8/11/2011) di RS yang disepakati, Martini mengalami pembukaan III sejak malam sampai pagi hari. Pada pukul 20.30 WIB terjadi pembukaan ke VI pada rahim, saat itu Martini masuk kedalam kolam untuk melakukan persalinan.

"Sampai saat itu dokter belum datang, bahkan nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Di saat yang bersamaan ada proses persalinan yang sama dan hanya satu perawat yang menangani saya dengan pasien satu lagi," sambungnya.

Ketika proses persalinan, Martini mengatakan banyak perawat yang mondar-mandir. Bahkan saat persalinan ada seorang teknisi yang bukan tenaga medis masuk ke ruang persalinan yang seharusnya steril. Selain itu suaminya pun diminta tolong perawat untuk menghidupkan penyedot air.

"Saya sudah tidak nyaman sekali saat itu," ujar Martini.

Sekitar pukul 21.05 WIB, dr TOS datang, kemudian melihat Martini dan memberikan arahan sebentar. Martini pun ditinggal sampai dua jam. Menurut Martini, setelah itu dokter menjadi lebih sibuk.

"Sekitar pukul 02.15 WIB, anak saya behasil keluar namun bayi sudah tidak bergerak kemudian dokter langsung menggendong bayi, dan dibawa pergi keruang sebelah. Saya sempat heran kok bayi saya tidak menangis," imbuhnya.

Martini mengatakan usai proses persalinan suaminya sempat mengikuti dr TOS yang membawa bayinya ke ruang pemeriksaan. Suaminya melihat anaknya tengah ditangani oleh dokter lainnya yang memasukan berbagai macam obat ke tubuh bayi. Selain itu bayi tersebut diberikan napas buatan dan pompa jantung.

"Dokter hanya bilang kalau kami sedang mengusahakannya, sabar ya pak, dan dr TOS mengatakan kalau bayi mengalami masalah pernapasan dan kecil harapan untuk hidup," jelas Martini.

Dalam keadaan kedinginan, Martini pun belum mengetahui kalau bayinya telah meninggal. Ia baru mengetahui selesai operasi. "Begitu tahu, langsung minta pulang karena sudah kecewa. Selain itu saya ingin melihat jenazah anak saya dimandikan," ucapnya.

Kini dua tahun sudah, putri pertama Martini bernama Mayumi Rosedees dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Martini terpaksa menyimpan kenangan pahit tersebut dalam-dalam.

Sementara itu dr TOS yang hendak dimintai tanggapan tidak mengangkat telepon dan menjawab SMS yang dikirimkan detikHealth.

(vit/ajg)


Punya pengalaman menarik seputar diet ? Kirimkan disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit