detikhealth
Artikel 18+

Gangguan Ejakulasi

Berbagai Terapi untuk Mengatasi Ejakulasi Dini

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 18/12/2013 11:15 WIB
Berbagai Terapi untuk Mengatasi Ejakulasi DiniIlustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta, Meski dianggap memalukan, nyatanya banyak pria yang mengalami ejakulasi dini. Tidak hanya yang sudah berumur, pria-pria muda pun banyak yang jadi korban. Tapi tak perlu terlalu khawatir, beberapa terapi bisa mengatasinya.

Ejakulasi dini terjadi ketika seorang pria berejakulasi lebih cepat dari yang ia atau pasangannya inginkan. Faktor psikologis dan biologis dapat memainkan peran dalam kondisi ini. Meskipun banyak pria merasa malu untuk membicarakannya, ejakulasi dini adalah kondisi umum dan dapat diobati.

"Obati penyebabnya, karena penyebab dari ejakulasi sendiri itu kan banyak ya. Kalau ternyata infeksi ya kita beri obat misalnya obat oral, kalau tidak bisa ereksi ya kita cari dulu mengapa dia tidak bisa ereksi," jelas dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, spesialis andrologi RSUP Fatmawati, saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis Rabu (18/12/2013).

Penyebab pasti ejakulasi dini sendiri tidak diketahui. Kondisi ini pernah dianggap hanya psikologis, tapi kini para ahli menyimpulkan ejakulasi dini lebih rumit dan melibatkan interaksi kompleks dari kedua faktor psikologis dan biologis.

Untuk menterapi ejakulasi dini, Dr Andri Wanananda, MS, seksolog dari FK Universitas Trumanegara pun memberikan beberapa solusi. Mulai dari latihan, obat oral, hingga terapi psikologis.

"Biasanya dengan cara pause and squeeze. Jadi oleh si wanitanya ketika mau keluar (ejakulasi), batang penisnya itu seperti agak dicekik dan diputar sedikit. Tapi terapi ini biasanya sering gagal dan keberhasilannya diragukan," papar Dr Andri Wanananda, MS.

Sedangkan untuk obat oral, menurut Dr Andri yang sering diberikan adalah antidepressan yang berguna untuk mengurangi gangguan psikis yang menjadi penyebabnya, yaitu dengan memberi spesific serotonin reactive inhibitor. Namun, ada beberapa studi yang menunjukkan pemberian obat ini tidak boleh setiap hari. Apalagi ada efek sampingnya yaitu mual atau bahkan justru menurunkan libido.

"Karena ejakulasi dini tadi cenderung disebabkan faktor psikis, maka bekerjasamalah dengan partner. Jangan terlalu buru-buru, jangan tergesa-gesa, lakukan foreplay lebih lama karena bagaimana pun juga hubungan intim memang sebuah proses pembelajaran," tambah Dr Andri.

Dalam kasus tertentu ejakulasi dini juga perlu diterapi dengan oleh seorang psikolog seksual, terutama bila masalah utamanya adalah psikologis.

"Kalau secara umum kita bisa bantu, misalnya ejakulasi dini tadi karena dia gugup, malu, tidak percaya diri, stres, metodenya sesuai dengan permasalahan dia bisa cognitive behaviour therapy, electroconvulsive therapy, atau jenis terapi psikologi lain yang kita sesuaikan dengan masalahnya," papar psikolog, Rosdiana S Tarigan, MPSi.



(mer/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit