detikhealth

Tes Masuk Anak Sekolah

Calistung Saat Tes Masuk Sekolah di Mata Orang Tua

Nurvita Indarini - detikHealth
Rabu, 12/02/2014 19:33 WIB
Halaman 2 dari 2
Hal senada disampaikan Rina. "Kasihan nanti anaknya kalau belum bisa calistung, sedangkan yang lain sudah," katanya.

Tambur, petugas penerimaan siswa baru di SD Bunda Mulia, Jakarta Pusat, menyebut sekolahnya mengadakan tes calistung untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca, berhitung, dan menulis anak. Sehingga ketika terdapat kekurangan pada anak, pihak sekolah dapat memberitahukan kepada orang tua untuk lebih mempersiapkan anaknya sebelum memasuki tahun ajaran baru.

"Ini juga untuk menentukan uang pangkal. Karena di sini jika hasil tesnya semakin bagus maka uang pangkalnya pun akan semakin murah," ujarnya.

Bukankah calistung bisa dipelajari saat sekolah sudah berjalan? "Untuk saat ini karena kurikulum semakin tinggi, jadi anak sewaktu masuk sekolah sudah harus bisa membaca, berhitung, dan menulis. Karena kan bukunya juga bukan buku ejaan, jadi sudah tidak seperti dulu. Bukannya membaca, berhitung, dan menulis tidak dipelajari. Dipelajari juga, tetapi saat masuk siswa sudah harus bisa membaca, berhitung, dan menulis," terang Tambur.

Sedangkan Mansur, petugas Tata Usaha Al-azhar 13 Rawamangun, Jakarta Timur menyebut sekolahnya tidak melakukan tes pada calon siswa. Yang dilakukan hanyalah observasi untuk melihat motorik kasar, motorik halus, indra pendengaran, indra penglihatan, kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir, dan lain-lain. "Tujuannya untuk melihat kesiapan anak dalam menghadapi kurikulum kita," ujarnya.

Apa kata psikolog tentang calistung di ujian masuk SD? Psikolog anak, Vera Itabiliana, menjelaskan masa sensitif anak untuk belajar membaca dan menulis adalah usia 5-6 tahun. Dikatakan masa sensitif, karena di usia tersebut anak lebih mudah untuk belajar.

"Sebenarnya saya masih percaya tugas belajar baca, tulis, hitung itu di SD. Paling nggak kalau mau masuk SD tidak harus lancar baca, tapi sudah mengenal huruf, merangkai suku kata, itu sudah cukup," jelas Vera.

Terkait adanya tes masuk SD, menurut dia, tes semacam itu disebut tes kematangan atau kesiapan sekolah. Jadi yang lebih dilihat dalam tes itu adalah kesiapan anak, sosialisasi, dan kematangan emosi. "Misal ada anak yang masih di bawah 6 tahun atau di bulan Juli masih 5,5 tahun, direkomendasikan untuk ditunda dulu sampai emosinya siap. Ini yang lebih dibutuhkan," kata Vera.

Soal akademis seperti nilai calistungnya, ucap Vera, anak bisa mengejarnya. Namun jika berhubungan dengan kematangan emosi, hal itu tidak bisa 'dikarbitkan'. "Ada yang pintar calistung itu oke, tapi emosi belum matang. Misal ada anak yang masih harus ditemani saat masuk ruang tes, lalu mogok sekolah setelahnya, itu tandanya belum matang," ucap Vera.

Halaman 1 2
(vit/up)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit