detikhealth

Penemuan Peneliti Muda

Dengan Abu Vulkanik, Remaja Asal Solo Bikin Penyaring Limbah Logam Berat

M Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 31/10/2014 13:32 WIB
Dengan Abu Vulkanik, Remaja Asal Solo Bikin Penyaring Limbah Logam Berat
Jakarta, Letusan Gunung Kelud di Jawa Timur bulan Februari lalu meninggalkan sampah abu vulkanik yang mengotori daerah Kediri, Malang, hingga Solo. Tak sengaja melihat manfaat abu vulkanik, Luca Cada Lora (17) siswa SMA Negeri 1 Surakarta pun mendapat ide untuk menggunakan abu vulkanik sebagai alat penyaring limbah beracun.

"Jadi kemarin ketika sehabis erupsi Gunung Kelud saya lihat kok di selokan depan rumah airnya jernih. Ternyata setelah diperhatikan ada endapan abu vulkanik yang sangat banyak di situ, jadi selokan yang sebelumnya kotor menjadi jernih," tutur Luca kepada detikHealth di acara National Young Inventors Award di Gedung Smesco, Jl Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (31/10/2014).

Luca pun mencari referensi soal hal tersebut di internet. Ternyata, dalam sebuah jurnal ilmiah peneliti luar negeri sudah berhasil menemukan manfaat tanah vulkanik (vulcanic soil) yang terletak di kaki gunung sebagai alat penyaring limbah.

"Kalau pakai tanahnya saja bisa, bagaimana jika pakai abu vulkanik murni? Itu yang mendasari penelitian saya," sambungnya lagi.

Dalam penelitiannya, Luca meneliti soal manfaat abu vulkanik untuk menyaring limbah industri logam berat. Ia mengkhususkan pada limbah chronium hexavalent (cr-6) yang biasanya digunakan industri sebagai campuran pembuatan logam stainless steel.

Limbah CR-6 sendiri diketahui merupakan limbah berbahaya. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa limbah tersebut rentan menyerang pekerja industri logam dan termasuk sebagai karsinogen atau bahan penyebab kanker.

Alat yang dibuat Luca pun sederhana. Limbah berbahaya tersebut disedot dengan mesin pompa air yang dipasangi pipa. Agar debit air tak terlalu kencang, ia pun mengatur debit menggunakan pipa tambahan yang berfungsi sebagai pipa pembuangan. Setelah air yang berisi limbah dialirkan ke tabung pertama yang berisikan serat fiber.

Serat fiber tersebut memiliki fungsi untuk menyaring limbah yang berpartikel besar. Setelah melalui tabung pertama, baru air yang berisi limbah cairan dialirkan ke tabung kedua yang berisikan abu vulkanik.

"Abu vulkanik ini sifatnya menyerap CR-6 tadi. Jadinya zat CR-6nya tersangkut atau tertahan di abu vulkanik. Hasilnya akhirnya, limbah yang keluar sudah bukan limbah berbahaya dan dapat dibuang dengan aman," sambungnya Luca yang mengenakan seragam SMA putih abu-bau.

Luca mengaku belum memikirkan soal hak paten dan komersialisasi alatnya. Memang pada hari pertama konvensi ini digelar, sudah ada beberapa pihak yang mengaku ingin membeli alat yang diciptakan Luca. Namun ia menolak dengan alasan agar alat ini dapat dimanfaatkan semua orang.

"Kemarin memang ada yang mau beli alat ini. Tapi saya nggak mau. Kalau soal paten juga nggaklah. Jadi misalnya nanti ada letusan gunung di tempat lain misalnya ada yang mau buat alat ini silhkan. Cuma tolong kredit ide pembuatannya tertulis nama saya," sambungnya lagi.

Acara pameran ini dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di tempat yang sama juga digelar acara International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang berisikan penemuan-penemuan dari peneliti muda berbagai negara. Rencananya, pameran ini akan digelar hingga tanggal 1 November 2014.


Foto: Reza/detikHealth
(mrs/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit