detikhealth

Bisakah Anak-anak Mengalami Gejala Bipolar?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 19/08/2015 18:00 WIB
Bisakah Anak-anak Mengalami Gejala Bipolar?Foto: thinkstock
Jakarta, Gejala gangguan bipolar bisa timbul di peak satu atau dua yaitu di usia 15-19 tahun atau usia 20-24 tahun. Meski demikian, bisakah gejala gangguan bipolar terlihat sejak masa anak-anak?

dr Natalia Widiasih, SpKJ(K), MPd.Ked, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo mengungkapkan di Amerika, angka gangguan bipolar pada anak memang meningkat. Nah, salah satu ciri-ciri bipolar pada anak yakni suasana hati yang labil.

"Tapi, amat sulit membedakan perubahan mood itu karena memang ada stressornya atau tidak. Orang tua harus hati-hati kalau memang tidak ada pencetusnya tapi tiba-tiba suasana hati anak berubah," tutur dr Natalia dalam Seminar Media 'Kenali dan Pahami Peningkatan Libido pada Gangguan Bipolar' di Hotel Shagri-La, Jakarta, Rabu (19/8/2015).

Lain halnya jika jelas ada stressor yang kemungkinan besar bisa membuat anak mengalami perubahan suasana hati. Misalnya saja, jika anak baru berpisah dengan ibu hingga dia lebih rewel dan mudah uring-uringan, dikatakan dr Natalia kondisi seperti itu memiliki stressor yang jelas.

Baca juga: Marshanda Mengidap Bipolar-2, Ini Bedanya dengan Bipolar Biasa

"Kalau tidak ada stressor apapun tapi tiba-tiba anak merasa sedih dan menarik diri. Patut dicurigai dan baiknya konsultasikan ke dokter. Namun, tidak bisa langsung didiagnosis bipolar karena biasanya akan diamati dulu selama 2 tahun," lanjut dokter berambut pendek ini.

Terkait kemungkinan bipolar pada anak, berdasarkan beberapa penelitian, genetik bisa menjadi faktor risiko. Kemungkinan bipolar satu anak jika saudara kembarnya yang lain mengidap bipolar yakni sekitar 40-50%. Sedangkan, jika pasien merupakan saudara kandung, kemungkinan saudara lain mengalami gangguan bipolar yakni 10-20%. Jika anggota keluarga lain yang mengalami bipolar, risikonya berkisar 0-10%.

Terkait pola asuh pasien bipolar, menurut pengalaman dr Natalia, umumnya saat kecil si pasien kehilangan orang tua atau pola asuh orang tuanya amat keras hingga dia trauma dan depresi. dr Natalia mengatakan, jika depresi terus-menerus, anak akan membentuk coping mekanisme batin sehingga timbul perasaan untuk melawan.

"Rasa depresi di mana anak merasa sedih terus akan membuat munculnya transformasi berupa perasaan dari kutub yang berbeda. Karena sering merasa sedih akhirnya tumbuh perasaan sebaliknya, senang berlebihan. Merasa tidak dihargai orang lain, muncul rasa percaya diri yang tinggi. Untuk itu penting bagi orang tua untuk berperan ketika anak mendapat stressor, tetap memberi dukungan pada si anak," kata dr Natalia.

Baca juga: Ini Dia 5 Tokoh Pengidap Bipolar Selain Selebritis Seperti Marshanda



(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit