Hari Anak Nasional

Stigma Negatif Masih Jadi Kendala Penanggulangan HIV-AIDS

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 28/09/2015 18:09 WIB
Stigma Negatif Masih Jadi Kendala Penanggulangan HIV-AIDSFoto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/ss/NZ/14
Jakarta, Sebagian masyarakat masih melabeli pengidap HIV (Human Imunodeficiency Virus) dengan stigma negatif. Dampaknya tak cuma memunculkan perilaku diskriminatif di lingkungan sosial, tapi juga mempersulit akses pengobatan.

Terkait akses pengobatan, pengidap HIV cenderung tidak merasa nyaman untuk berobat di pusat layanan kesehatan. Angka kebertahanan di pusat kesehatan masyarakat dan rumah sakit hanya 53 persen dari total ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) yang pernah menerima obat ARV (Anti Retro Viral).

"Pengalaman KIOS Atma Jaya yang pernah menjadi layanan satelit ARV, tingkat retensinya mencapai 98 persen," papar Anindita Gabriella dari Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya, dalam public exposure di kampusnya, Senin (28/9/2015).

Baca juga: Stigma Bisa Hambat Kesadaran Pentingnya Tes HIV

Stigma negatif juga mempersulit penjangkauan terhadap pasangan serodiskordan, yakni pasangan yang salah satunya adalah pengidap HIV. Anggapan bahwa HIV cuma menjangkiti individu dengan perilaku berisiko, kadang membuat pasangannya tidak merasa perlu untuk mengetahui status infeksinya.

Faktanya, studi di Atma Jaya menyebut lebih dari setengah responden tertular melalui transmisi heteroseksual, dengan proporsi terbesar terinfeksi dari suami yakni 42 persen. Studi di Asia menunjukkan lebih dari 90 persen perempuan terinfeksi bukan dari perilaku seksualnya yang tidak aman, melainkan dari pasangan laki-lakinya.

Di sisi lain, membuka status infeksi HIV membawa konsekuensi yang berat di masyarakat. Prof Irwanto, PhD dari Atma Jaya mengungkap sebagian besar perempuan dengan HIV yang ditelitinya kehilangan pekerjaan saat mengungkap statusnya, dan sesudahnya kesulitan mencari pekerjaan baru.

Baca juga: Dukungan adalah Obat Terbaik bagi Pengidap HIV-AIDS

"Paling banyak akhirnya kerja di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Karena memang cuma itu yang mau menerima," kata Prof Irwanto.

Menurut Prof Irwanto, seseorang yang belum disclosure atau membuka status infeksinya cenderung lebih terpuruk saat mengalami diskriminasi. "Dunia terasa runtuh," tuturnya.

"Begitu ia membuka diri, maka bantuan akan datang," pungkasnya.

(up/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit