detikhealth

Jangan Batasi Aktivitas Anak yang Masih Semangat Meski Sakit Kronis

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 13/10/2015 15:06 WIB
Jangan Batasi Aktivitas Anak yang Masih Semangat Meski Sakit KronisFoto: thinkstock
Jakarta, Orang tua pasti merasa sedih ketika buah hatinya didiagnosis penyakit kronis stadium akhir. Misalnya saja kanker. Tapi, ketika anak masih memiliki semangat untuk tetap menjalani kesehariannya, orang tua pun harus mendukung.

"Ketika anak meski dia sakit tapi masih punya semangat sekolah, mau bermain sama teman-temannya, masih mau menjalani hobinya, kenapa kita batasi? Beri anak kesempatan melakukan hal itu," tutur perawat dari Rumah Rachel, yayasan yang memberikan layanan paliatif, Rina Wahyuni.

Dikatakan Rina, seringkali orang tua merasa putus asa dan berpikir anaknya tak perlu melakukan apa-apa lagi karena penyakitnya sudah parah. Sehingga, sudah sepatutnya orang tua tetap mendukung anak dalam menjalankan kehidupannya.

Namun, patut diingat jika dalam menjalankan kesehariannya, anak patut terus diawasi. Bagaimanapun, dikatakan Rina anak dalam kondisi berbeda dengan anak lainnya. Untuk itulah, menurutnya dalam asuhan paliatif, penting adanya edukasi bagi orang tua. Misalnya, pada pasien kanker anak, ketika mengalami nyeri dan mual muntah, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi kondisi itu.

Tak hanya soal mengatasi gejala fisik anak saja tapi juga bagaimana bisa mendukung anak secara psikologis selama ia menghadapi penyakitnya. Salah satunya, dengan membiarkan anak mengembangkan kemampuan dan menikmati hari-harinya dengan kualitas yang lebih baik.

Baca juga: Seniman Ini Bantu Anak Sakit Kronis Capai Impian Lewat Foto Fantasi

Hal tersebut disampaikan Rina usai Konferensi Pers 'Memasyarakatkan Asuhan Paliatif, Meningkatkan Kualitas Hidup Insan Indonesia' di Ocha Bella Resto, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta, Selasa (13/10/2015).

Dalam praktiknya, Rina mengungkapkan ketika memberi dukungan psikologis pada anak dan remaja pun dilakukan dengan pendekatan sebagai teman. Tak jarang, untuk melakukan hal itu, Rina mesti bermain dulu dengan si anak, mendongeng, atau mengajaknya melakukan hobi.

Dalam asuhan paliatif, tenaga medis pun turut ambil peran. Dituturkan Rina ketika ada anak yang diberi asuhan paliatif, update kondisinya juga disampaikan kepada dokter yang bersangkutan. Sehingga, jika suatu ketika anak memang harus dirujuk kembali ke dokter, ia tidak perlu menjalani pemeriksaan dari awal kembali.

"Di paliatif, kita juga berjalan dengan medis ya. Seperti ada anak dampingan kami, Nara yang kena neuroblastoma, orang tua sudah memutuskan untuk memberi asuhan paliatif tapi ketika dia nyerinya parah sekali, dilakukan radioterapi paliatif, atau kemo dengan dosis obat setengah. Tujuannya bukan menyasar si sel kanker tapi meredakan nyerinya. Jadi asuhan paliatif juga nggak berjalan sendiri," terang Rina.

Baca juga: Lahir Prematur 23 Pekan, Bayi Ini Pulang Pasca Dirawat di RS 345 Hari

(rdn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit