detikhealth

Pada Riset Vaksin, Virus dan Penyakit Bisa Jadi 'Sumber Kekayaan'

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 25/08/2016 16:01 WIB
Pada Riset Vaksin, Virus dan Penyakit Bisa Jadi Sumber KekayaanFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Virus memang bisa menyebabkan penyakit. Namun dalam bidang riset dan pengembangan vaksin, virus bisa menjadi sebuah 'aset'.

Dikatakan Kepala Balitbangkes Kemenkes RI Dr Siswanto, MHP, DTM Indonesia sudah memiliki genetic resources berupa virus, bakteri, hewan, dan tumbuhan. Mengacu pada Inpres No 6 tahun 2016, forum seperti Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) bisa menjadi wadah supaya peneliti memiliki ide untuk mengembangkan obat-obatan.

"Obat-obatan bisa dikembangkan dari tumbuhan, hewan, atau sumber daya genetik. Seperti virus, kita lihat sebagai pisau bermata 2, di satu sisi timbulkan penyakit di sisi lain mengandung kekayaan yang bisa dikembangkan menjadi nilai ekonomi misalnya vaksin," kata Siswanto di sela-sela Forum Riset Life Science Nasional 2016 di Grand Sheraton Hotel, Gandaria City, Jakarta, Kamis (25/8/2016).

Baca juga: Ini Alasan Vaksin Lokal Tak Kalah Kualitas Dibanding Vaksin Impor

"Kekayaan kita luar biasa, kita punya segala penyakit, itu kekayaan lho. Gimana kita mau uji klinik kalau nggak ada kasusnya (penyakitnya). Ditambah populasi 250 juta orang itu luar biasa kekayaan kita," tambah Siswanto.

Hanya saja, menurut Siswanto, penelitian yang mengarah pada produk terutama life science tidak bisa dilakukan sendiri. Sehingga, penelitian dilakukan dengan menerapkan triple helix yang terdiri dari dukungan akademisi,industri, dan pemerintah sebagai pengawal, plus komunitas.

"Intinya semua harus bersama-sama. Peran Balitbang tidak hanya meneliti tapi juga memberi panduan, mendampingi supaya penelitian ini sesuai dan membiayai jika memang ada anggarannya," kata Siswanto.

Saat ini, lanjutnya, data terkahir menunjukkan bahan baku obat setidaknya 90 persen masih impor. Selain itu, penelitian klinis disebutkan lebih sering berupa uji klinis fase 2 dan 3 di mana inisiator atau proposal sudah jadi. Ke depannya, diharapkan penelitian klinis yang dilakukan memang merupakan inisatif dari si peneliti.

Baca juga: Vaksin DpAT Langka Bukan Alasan Skip Imunisasi, Ini Alternatifnya

(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit