detikhealth

Guru Besar FKG UI: Tidak Semua Sakit Gigi Harus Diberi Obat

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 13/03/2017 11:05 WIB
Guru Besar FKG UI: Tidak Semua Sakit Gigi Harus Diberi ObatFoto: Muhamad Reza Sulaiman/detikHealth
Jakarta, Obat menjadi andalan ketika sakit gigi menyerang tak tertahankan. Padahal menurut pakar, tidak semua keluhan sakit gigi harus diberi obat.

Prof drg Dewi Fatma Suniarti, MS, PhD, Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Biologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKGUI), mengatakan pemberian obat hanya dilakukan ketika memenuhi tiga kriteria: untuk terapi, pencegahan dan diagnosa.

"Untuk kedokteran gigi, terapi lokal lebih utama. Jadi baru diberikan obat kalau memang perlu dan memenuhi salah satu dari tiga kriteria, untuk terapi, untuk pencegahan dan diagnosa," tutur Prof Dewi, kepada detikHealth, baru-baru ini.

Dikatakan Prof Dewi, penggunaan obat tidak sesuai dengan kegunaannya merupakan salah satu bentuk penggunaan obat irasional. Hal ini bisa berujung pada masalah seperti efek samping yang tidak diharapkan atau biaya pasien yang membengkak.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FKG UI, Prof Dewi menyampaikan pentingnya peran farmakologi bagi kedokteran gigi. Dokter Gigi tidak hanya perlu mengetahui soal obat analgesik dan antiinflamasi, antibiotik dan obat kumur, namun juga memahami berbagai jenis obat dan implikasinyaa pada pasien.

Dokter gigi juga diharapkan mampu mampu memahami indikasi dan kontra-indikasi obat, memahami efek samping obat, interaksi obat dan harga obat yang diberikan pada pasien. Semua hal ini harus dijelaskan kepada pasien sebelum meresepkan obat.

"Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang indikasinya sesuai kebutuhan pasien dan dengan biaya paling ekonomis," paparnya.

Baca juga: Kesalahan Seperti Ini Sering Terjadi Saat Mengobati Sakit Gigi

"Namun dalam pelaksanaannya, pengobatan rasional yang baik masih sulit dilaksanakan. Di negara berkembang seperti Indonesia penggunaan obat irasional masih merupakan masalah," tambahnya lagi.

Karena itu, peningkatan peran farmakologi pada pelayanan kesehatan gigi harus diutamakan. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain menyelenggarakan pendidikan farmakologi untuk calon dokter gigi, mengupayakaan pendidikan farmakologi lanjutan bagi dokter gigi spesialis dan membuat buku farmakologi kedokteran gigi sebagai panduan.

"Satu pesan saya untuk dokter gigi yang baru, pahami dan kenali obat yang Anda gunakan. Jangan memberikan obat ke pasien tanpa tahu apa guna dan efek sampingnya. Apalagi meresepkan obat hanya karena promosi," tutupnya.

Baca juga: Kata Dokter Soal Mencabut Gigi Memakai Benang(mrs/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit