detikhealth

Mengatasi Kekecewaan Saat Pernikahan Tak 'Semeriah' yang Diimpikan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 21/04/2017 07:37 WIB
Mengatasi Kekecewaan Saat Pernikahan Tak Semeriah yang DiimpikanFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Masing-masing orang pastinya punya impian seperti apa pernikahannya kelak. Hanya saja, kadang keinginan memiliki acara pernikahan yang dianggap ideal bisa saja tidak tercapai.

Salah satu pembaca detikHealth, Ranti mengatakan dirinya memang bercita-cita memiliki persta pernikahan yang meriah. Namun karena masalah biaya, Ranti dan suami akhirnya memprioritaskan kebutuhan utama. Dana pernikahan pun sebisa mungkin mereka tekan.

"Saya putuskan nggak kasih seragam ke teman dan keluarga, cuma ngasih tahu aja tema warna nikahan kita apa. Suvenir kita cari yang murah meriah, terus untuk ucapan terima kasih di suvenir saya cetak sendiri, saya ikatin sendiri ha ha ha," kata Ranti yang kini sudah memiliki satu orang anak ini.

Berbeda lagi dengan Rina yang sudah menikah selama 3 tahun. Menurut Rina, saat mempersiapkan pernikahannya, dia tidak memiliki perasaan ingin pernikahannya seperti temannya yang ini dan itu. Sebab, Rina ingin membuat acara ala dirinya dan pasangannya.

"Jadi ya saya nggak ada pikiran pengen kayak si ini atau si itu. Dari awal saya udah bikin konsep sendiri mau gimana, warnanya mau apa, jadi nggak berpatokan sama nikahan orang lain he he he," kata Rina.

Menanggapi hal ini, psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Tiara Puspita M.Psi., Psikolog mengatakan rasa ingin nantinya pernikahan bakal meriah atau minimal seperti orang lain bisa muncul karena adanya paparan dari media. Kemudian sejak kecil, utamanya wanita kerap mendengar cerita tentang putri sehingga muncul keinginan memiliki pernikahan yang cantik.

Baca juga: Seberapa Penting Premarital Checkup untuk si Calon Pengantin?

"Teman juga berpengaruh, Biasanya lihat pernikahan teman kayak gini, akhirnya merasa dia juga pengen kayak gitu. Ada yang ngelihat teman-temannya bridal shower, prewedding, jadi makin lama makin detail kebutuhannya. Kemudian biasanya ya memang perempuan lebih excited sama acaranya yang sekali seumur hidup jadi harus cantik, harus total," tutur wanita yang akrab disapa Tita ini saat berbincang dengan detikHealth.

Untuk itu, Tita mengingatkan pentingnya menentukan prioritas yakni apa yang paling penting untuk si calon pengantin dari acara pernikahan itu. Misalnya saja yang penting kekuarga terdekat hadir. Kemudian, prioritaskan aspek dari acara itu misalnya tempat atau makanan. Soal makanan, jika yang terpenting adalah makanan yang disajikan enak, maka bisa dipilih makanan 'kelas 1 atau 2'.

Sementara, untuk yang lainnya seperti dekorasi, bisa dipilih yang kelasnya lebih rendah. Dengan begitu, diharapkan budget tidak membengkak. Hal penting lain, lanjut Tita, kita harus bisa melihat jika kapasitas kita seperti itu, terimalah dan jangan bandingkan dengan orang lain.

"Kita lihat dengan budget kita misalnya Rp 150 juta tapi ternyata semua tamu happy, nggak ada yang kekurangan makanan. Orang tua kita happy. Itu yang perlu kita syukuri daripada kita lihat pernikahan dia lebih bagus, lebih mewah. Jadi kita coba lihat ternyata dengan sederhana atau dengan waktu terbatas kita udah bisa dapat pernikahan yang seperti ini, dan itu harus kita syukuri," papar Tita.

"Jadi memang sadari keterbatasan kita dan jangan hanya melihat orang lain. Bersyukur dengan apa yang bisa kita lakukan. Oh ternyata walaupun budget sedikit, ini duit sendiri lho, nggak pakai utang, nggak minta orang tua. Jadi syukuri," pungkasnya.

Baca juga: Suami Istri Kerap Bertengkar, Haruskah Pernikahan Dipertahankan?

(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit