detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan

Lika-liku Pasutri yang Tinggal di Beda Kota

Hanna Pratiwi - detikHealth
Sabtu, 21/10/2017 19:02 WIB
Lika-liku Pasutri yang Tinggal di Beda KotaFoto: thinkstock
Jakarta, Saya hampir 3 tahun menikah. Punya satu anak. Saya dan suami terpisah kota. Sejak dulu saya berharap suami saya pindah kerja sehingga kami bisa tinggal bersama. Tapi sepertinya dia nggak serius untuk mencari pekerjaan di kota yang sama dengan saya.

Saya mengurus semua sendiri sejak saya hamil, lalu sekarang punya anak. Kadang saya heran kenapa dia nggak kasihan sama saya. Bahkan kalaupun dia kebetulan sedang pulang ke rumah kami, dia sering terkesan enggan menjemput anak kami yang dititipkan pengasuhannya sama orang lain. Lagi-lagi saya harus mengurus semuanya sendiri.

Dia nggak mau ada pengasuh yang tinggal di rumah kami, karena khawatir anak kami bakal diapa-apain. Tapi dia juga nggak punya solusi untuk meringankan beban saya. Karena nggak mudah jadi ibu bekerja yang harus memastikan semuanya oke seorang diri.

Setiap saya menginggung butuh bantuan pengasuh atau asisten rumah tangga, kami selalu bertengkar. Saya nggak tahu lagi harus gimana mendiskusikan hal ini sama dia. Mertua saya pun seolah tidak peduli dengan kami. Harus gimana ya Mba?

V (Perempuan, 27 tahun)

Jawaban

Dear Mbak V,

Jika hanya sesekali berjauhan karena urusan pekerjaan, itu adalah hal yang biasa saja. Namun, memang ada penelitian bahwa pasangan terbaik sekalipun akan berpotensi mengalami masalah yang besar apabila berjauhan secara fisik dalam waktu yang sangat panjang.

Tidak mudah tentunya memang menjalani semua peran seorang diri tanpa adanya dukungan dari pasangan dan keluarga. Idealnya keputusan memang diputuskan bersama, namun, bukan berarti Anda tidak bisa mengambil keputusan.

Coba cek kembali bagaimana dari pola komunikasi untuk mendiskusikan masalah yang ada selama ini. Apakah dalam mengemukakan harapan Anda sudah menunjukkan penghormatan pada kekhawatirannya? Atau sebaliknya malah memberikan kritikan bahwa ia kurang berusaha dan kurang membantu?

Coba tanyakan bagaimana usulnya agar Anda bisa terbantu selama ia tidak ada. Misalnya, 'Saya menghargai kekhawatiran kamu akan anak kita. Namun, saya sudah mulai kelelahan. Saya membutuhkan bantuan dan tidak bisa melakukan semua sendirian, terutama ketika kamu tidak ada. Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan? Usulan dari saya adalah kita sama-sama memilih pengasuh dan memastikan memang ia orang yang akan menjaga anak kita. Paling tidak untuk sementara sampai kita berdua menemukan alternatif lain yang bisa dilakukan. Bagaimana?'. Tunjukkan bahasa tubuh 'saya mengajak diskusi' dan bukan 'saya kesal kamu tidak membantu'. Lakukan pembicaraan dengan tenang, sampai tercapai kesepakatan yang dapat dilakukan.

Agar Anda tetap dapat mempertahankan perkawinan, Anda berdua perlu kembali duduk bersama untuk mempertimbangkan prioritas keluarga. Temukan kembali kesamaan visi dan misi berkeluarga Anda berdua, dan kompaklah untuk mencapainya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(up/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit