detikhealth

Sarapan Terburu-buru Dampaknya Buruk Bagi Jantung

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 15/11/2017 07:40 WIB
Sarapan Terburu-buru Dampaknya Buruk Bagi JantungSarapan terburu-buru punya dampak buruk untuk jantung Anda. Foto: thinkstock
Jakarta, Karena takut terlambat, sebagian orang memakan sarapannya dalam keadaan terburu-buru. Padahal studi menunjukkan jika hal ini menjadi kebiasaan, bisa-bisa yang bersangkutan mengalami kegemukan hingga penyakit jantung lho.

Apa hubungannya makan cepat dengan kegemukan? Studi dilakukan terhadap lebih dari 1.000 orang berusia paruh baya selama lima tahun di Jepang. Kesemua partisipan dilaporkan sehat dan tugas mereka hanyalah mengkategorikan kebiasaan makannya, apakah tergolong cepat, normal atau lambat.

Di akhir studi, peneliti melihat mereka yang makan cepat berpeluang 5,5 kali lebih tinggi untuk mengalami sindrom metabolik dibanding yang makannya perlahan-lahan.

Sindrom metabolik merupakan serangkaian kondisi kesehatan yang terdiri atas obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi dan kolesterol, yang menjadi faktor risiko dari penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung.

Baca juga: Makan Sambil Berjalan Bisa Picu Kegemukan

Perbandingannya, mereka yang makan cepat berpeluang sebesar 11,6 persen untuk mengalami sindrom metabolik; sedangkan mereka yang makan dengan kecepatan normal hanya berpeluang sebesar 6,5 persen untuk mengalami risiko serupa.

Tetapi yang paling diuntungkan adalah mereka yang makannya lambat sebab peluangnya terkena sindrom hanya sebanyak 2,3 persen.

"Orang yang makannya sangat cepat tidak memberi kesempatan pada tubuh mereka untuk menyadari jika dirinya sudah kenyang, sehingga mereka terdorong untuk makan lebih banyak," jelas peneliti, Dr Takayuki Yamaji dari Hiroshima University seperti dilaporkan The Telegraph.

Penjelasan biologisnya, mereka yang makan cepat mengalami fluktuasi atau naik turunnya glukosa yang lebih besar, dan kondisi ini bisa memicu resistensi insulin. Padahal ketika resistensi ini terjadi, tubuh semakin tak mengetahui kapan terasa kenyang dan harus berhenti makan.

Baca juga: Pesan Marcelino Lefrandt Bagi Kamu yang Punya Risiko Penyakit Jantung

Dalam studi lain yang dilakukan North Carolina State University dikemukakan 'mindful eating' atau makan pelan-pelan membantu seseorang menurunkan berat badannya, bahkan pada kasus tertentu bisa lebih cepat dari penggunaan diet tertentu.

Peneliti mencatat, orang dengan kelebihan berat badan yang menjalani 'mindful eating' atau makan pelan-pelan kehilangan bobot sebanyak 1,9 kg dalam kurun 15 pekan. Bahkan setelah enam bulan berhenti ikut percobaan, partisipan program ini tetap mengalami penurunan bobot, bahkan lebih banyak.

Namun peringatan ini tak hanya berlaku untuk mereka yang hobi makan cepat, tetapi juga merujuk pada mereka yang suka 'nyambi' saat makan semisal menonton televisi, tidak makan di atas meja atau makan sambil bermain ponsel.(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit