detikhealth

Pusing Mikir Hutang Juga Berdampak pada Kesehatan Jantung

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 15/11/2017 14:40 WIB
Pusing Mikir Hutang Juga Berdampak pada Kesehatan JantungFoto: Ari Saputra
Jakarta, Makin hari biaya hidup memang makin tinggi. Sebagian orang bahkan sampai harus gali lubang tutup lubang dan berhutang untuk mencukupi kebutuhan. Namun waspadai dampaknya terhadap kesehatan ya.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet baru-baru ini menyebut mereka yang mengalami kesulitan finansial berpeluang 13 kali lebih tinggi untuk terkena serangan jantung.

Peneliti mendasarkan temuannya dari pengamatan terhadap 106 pasien yang mengalami serangan jantung dan dilarikan ke sebuah rumah sakit di Johannesburg. Tiap partisipan kemudian diminta menilai seberapa tinggi tingkat stres mereka terkait kondisi finansial.

Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan risiko serangan jantung hingga 13 kali lipat, terutama bagi mereka yang memiliki beban finansial yang 'signifikan'. Sedangkan mereka yang mengalami stres finansial sedang memiliki peluang 5,6 kali lebih tinggi. Untuk mereka yang mengalami stres finansial ringan, risiko serangan jantungnya mencapai 3 kali lipat.

Stres finansial ringan terjadi pada mereka yang memiliki penghasilan namun tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan stres finansial sedang terjadi pada mereka yang berpenghasilan namun terjebak dalam masalah keuangan. Beban finansial yang 'signifikan' dialami oleh mereka yang tidak berpenghasilan dan seringkali kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar.

Dari survei yang dilakukan tiap tahun, American Psychological Association (APA) menemukan bahwa uang atau keadaan finansial selalu menjadi pemicu stres di jajaran teratas dari tahun ke tahun.

Baca juga: Demi Kesehatan, Jangan Sayang Keluarkan Uang Untuk Hal Berikut

Ditambahkan peneliti, bila dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular, dampak stres finansial ini sebenarnya sama besar dengan merokok dan tekanan darah tinggi.

Ketua tim peneliti, Dr Denishan Govender mendorong agar tim medis melakukan pencegahan dengan rutin menanyakan tingkat stres atau kondisi mental pasien.

"Biasanya pasien baru diberi konseling setelah serangan jantung terjadi. Secara umum dokter juga jarang menanyakan tentang kemungkinan stres atau depresi pada pasien," tuturnya seperti dilaporkan Medical News Today.

Padahal, lanjut Govender, evaluasi ini sudah harus dibiasakan, seperti halnya ketika dokter bertanya apakah pasiennya merokok atau tidak. Dari situ dokter bisa membantu memberikan konsultasi atau

Baca juga: Mungkinkah Seseorang Bunuh Diri karena Terlilit Utang?(lll/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close