Rabu, 15 Sep 2021 00:00 WIB

Hati-hati! Salah Kebiasaan Duduk saat WFH Bisa Picu Sindrom Piriformis

Advertorial - detikHealth
adv mayapada Foto: Shutterstock
Jakarta - Beraktivitas di rumah selama pandemi menjadi cara ampuh untuk menekan risiko penularan COVID-19. Akan tetapi, aktivitas sekolah online atau kerja jarak jauh (work from home/WFH) jika tidak diikuti pola hidup yang baik justru bisa memicu munculnya penyakit lain, salah satunya Piriformis Syndrome.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Mayapada Hospital Tangerang, dr. Alvin Shiddieqy Pohan Sp.OT menyebutkan belakangan ini banyak ditemukan kasus Piriformis Syndrome atau Sindrom Piriformis pada pasien usia muda akibat adanya perubahan gaya hidup yang menuntut aktivitas serba online di tengah pandemi.

"Jadi kasusnya sebenarnya udah lama dan banyak, tapi sekarang ini meningkat karena pola hidup yang berubah dan banyak orang yang kurang edukasi tentang Sindrom Piriformis ini. Sebenarnya, Sindrom Piriformis ini bisa dicegah jika kita mengetahui apa yang harus dilakukan," jelas dr Alvin kepada detikcom.

dr Alvin menjelaskan piriformis merupakan nama otot yang berada pada bagian belakang tubuh. Posisinya berada membentang dari bagian bawah tulang belakang hingga ke bagian atas tulang paha. Otot ini menjadi penting karena di bawahnya menjalar saraf besar yang dinamakan dengan saraf sciatica.

Ketika otot piriformis mengalami pembengkakan atau tegang, otot tersebut bisa menekan saraf sciatic di bawahnya hingga menyebabkan penyakit yang dinamakan Sindrom Piriformis. Bagi penderitanya, sindrom ini menimbulkan gejala sakit dan pegal-pegal ketika duduk dalam waktu lama. Sehingga, penyakit ini perlu dikenali untuk mencegah risiko lebih serius.

Pada umumnya, Sindrom Piriformis bisa disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari trauma benturan atau pukulan, atau bisa juga terjadi pada atlet akibat hipertrofi yang menekan saraf sciatic terutama pada atlet weightlifting atau angkat besi. Selain itu, bisa juga terjadi karena adanya tumor di belakang tubuh yang menekan saraf.

Akan tetapi, kini kasus Sindrom Piriformis banyak dialami oleh orang akibat pola hidup yang kurang baik. Khususnya, kebiasaan yang salah saat duduk lama di depan layar komputer, baik itu pada anak sekolah/kuliah, juga pekerja kantoran yang melakukan WFH.

Secara demografis, dr Alvin mengatakan tidak ada perbedaan gender pada penderita Sindrom Piriformis karena baik perempuan maupun laki-laki bisa mengalami hal ini. Sementara dari segi usia, lanjutnya, range penderita Sindrom Piriformis sangat luas, yakni 18-55 tahun.

Lebih lanjut, dr Alvin mengatakan gejala dari Sindrom Piriformis sebetulnya tidak spesifik. Sehingga, banyak ditemukan kasus salah diagnosa karena kemiripannya dengan gejala Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau yang biasa disebut saraf kejepit pada tulang belakang, gejala low backpain, atau juga gejala osteoartritis (pengapuran) pada sendi-sendi panggul.

Namun, Anda perlu waspada jika merasakan beberapa keluhan utama seperti otot pada bokong terasa keras atau tegang yang mengakibatkan nyeri menjalar ke arah kaki. Nyeri ini muncul disebabkan oleh saraf sciatic yang terjepit oleh pembengkakan otot. Selain itu, kerap kali timbul sensasi kesemutan yang menjalar di bagian paha atau merasa kelemahan pada bagian kaki.

"Paling sering, misalkan ketika di toilet duduk lama di kloset tiba-tiba merasa kakinya kesemutan sebelah. Itu sudah termasuk Sindrom Piriformis sebenarnya pada fase awal. Lalu ada juga misalkan, kuliah online lama duduk tiba-tiba merasakan nyeri pada kakinya atau kesemutan. Berlaku juga pada orang-orang yang WFH," terangnya.

adv mayapadaSpesialis Bedah Ortopedi Mayapada Hospital Tangerang, dr. Alvin Shiddieqy Pohan Sp.OT (Foto: Mayapada Hospital) Foto: adv mayapada

dr Alvin pun menganjurkan untuk segera periksa ke dokter jika gejala tersebut dirasakan, sehingga dapat dilakukan deteksi dini.

"Kalau kita bisa tahu di tahap awal dengan early diagnosis, itu prognosis penyakitnya bisa bagus dan bisa dihindari. Biar gejalanya tidak semakin memberat dan menetap," ujarnya.

Kendati demikian, dr Alvin menerangkan bahwa Sindrom Piriformis bisa dicegah dengan kebiasaan yang baik, terutama membiasakan posisi duduk yang ergonomis. Selain itu, diperlukan juga alas duduk yang bagus dan mendukung untuk mencegah penekanan. Salah satunya dengan menggunakan bantal atau alas duduk lain yang empuk.

"Hindari juga long period saat duduk, jangka waktunya tidak boleh terlalu lama dan harus diselingi oleh gerakan. Kalau harus duduk lama, harus berdiri dan exercise sebentar. Lebih ke arah peregangan di bagian bokong dan pinggang, tujuannya untuk membuat otot piriformis menjadi lebih rileks tidak terlalu tegang. Biar tidak menekan saraf sciatic," tutur dr Alvin.

Jika sudah terlanjur mengalami keluhan dalam waktu lama, dr Alvin mengatakan akan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan penyakit ini. Mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang menggunakan MRI, CT-Scan, juga X-Ray. Menurutnya, pemeriksaan penunjang ini juga menjadi sangat penting untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit serupa, seperti saraf kejepit atau osteoartritis panggul.

Jika diagnosis Sindrom Piriformis sudah dipastikan, dokter akan memulai pengobatan konservatif dengan melakukan observasi dan pemberian obat.

"Obat ini ada 2 jenis yang akan dikasih, pertama obat pelemas otot atau muscle relaxant karena otot piriformisnya itu tegang dan bengkak biasanya. Karena ada bengkak, berarti ada proses inflamasi atau peradangan. Berarti harus diberikan obat antiinflamasi atau obat anti radang juga," paparnya.

Selain pengobatan, diperlukan juga kombinasi rehab medik atau fisioterapi yang berjalan secara sinergis. Melalui fisioterapi ini, akan diberi edukasi soal latihan exercise yang tepat, penguatan dan pelenturan otot, dan lain sebagainya untuk mencegah sakit yang berulang.

Jika dua hal tersebut belum menghilangkan nyeri, dokter biasanya akan melakukan injeksi analgetik atau injeksi antiinflamasi pada daerah otot piriformis. Akan tetapi, jika semua cara ini belum juga berhasil maka perlu dilakukan tindakan pembedahan atau operasi.

"Lalu jika semua cara tidak berhasil, baru last option-nya dilakukan tindakan operasi. Tindakan operasinya adalah pembebasan saraf sciatic yang terjepit dan tertekan, harus dibebaskan. Karena sudah permanen. Ini untuk mengurangi gejala piriformis sindrom pada kasus lanjut," ungkapnya.

dr Alvin pun mengimbau untuk tidak mencari pengobatan alternatif yang bisa memperberat penyakit, dan menyarankan untuk langsung periksa ke dokter sesegera mungkin. Dengan pengobatan dan terapi yang tepat, risiko dari Sindrom Piriformis bisa dicegah dan disembuhkan dengan lebih cepat.

Selain itu, dr Alvin juga menganjurkan untuk memperbaiki lifestyle saat beraktivitas, baik itu sekolah online maupun WFH. Sebab, posisi duduk yang tepat dan kebiasaan untuk melakukan jeda peregangan saat duduk lama bisa bantu mengurangi tekanan otot piriformis yang menyebabkan saraf sciatic tertekan sehingga Sindrom Piriformis bisa dicegah.

Mayapada Hospital Tangerang memiliki Center Of Excellence Orthopedi yang menyediakan layanan komprehensif yang dapat melakukan penanganan mulai dari diagnosa, tindakan, sampai dengan rehabilitasi. Di samping itu, layanan ini juga dilengkapi dengan tim dokter mulai dari dokter spesialis dan sub spesialis Orthopedi

Kemudian, pada kuartal IV 2021, Mayapada Hospital akan membuka cabang di Kota Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Mayjen Sungkono No 20, Surabaya Barat.

Masyarakat Surabaya dapat mengunjungi rumah sakit tersebut untuk melakukan cek dan konsultasi dengan dokter dokter orthopedi di sana.

Sebagai informasi, Mayapada Hospital juga membuka layanan telekonsul terkait penyakit apa pun. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, untuk lebih lengkapnya, silakan menghubungi call center 150770. (adv/adv)