Kamis, 21 Okt 2021 04:00 WIB

Bahaya Stroke Intai Siapa Saja, Gimana Cara Tanganinya Sejak Dini?

Advertorial - detikHealth
adv siloam Foto: Shutterstock
Tangerang - Nama penyakit stroke mungkin bukan hal asing bagi masyarakat di seluruh dunia. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa bahaya stroke bisa mengintai siapa saja, bukan hanya orang lanjut usia, serta membutuhkan penanganan yang cepat di golden period?

Spesialis Saraf di Siloam Hospitals Lippo Village, Dr dr Rocksy Fransisca, Sp.S menjelaskan stroke merupakan penyakit berupa serangan pada otak. Penderita stroke mengalami kerusakan pada otak yang menimbulkan gangguan pada fungsi akibat gangguan aliran darah ke otak.

"Stroke dibagi 2 jenis, yaitu stroke akibat sumbatan, gangguan aliran darah ke otak tersumbat (stroke iskemik). Atau akibat perdarahan, pecah pembuluh darah di otak (stroke hemoragik)," jelas dr Rocksy kepada detikcom.

Ia mengatakan 1 dari 4 orang memiliki kemungkinan terserang stroke dalam hidupnya. Namun, 90% kasus stroke bisa dicegah dengan mengetahui faktor risiko dan mengontrol faktor risiko tersebut.

dr Rocksy menyebutkan peran faktor risiko stroke paling tinggi adalah penyakit hipertensi. Selain itu, penyakit gula/diabetes melitus dan kolesterol juga menjadi faktor risiko stroke. Tak hanya itu, pola hidup yang kurang sehat, seperti merokok, diet yang tidak sehat, dan kurang olahraga juga menjadi faktor risiko yang mesti diperhatikan untuk mencegah stroke.

Kendati demikian, ia mengatakan faktor-faktor di atas merupakan faktor risiko yang bisa dimodifikasi atau dapat dikontrol. Selain itu, penyakit stroke juga memiliki faktor risiko yang tidak bisa dikontrol. Misalnya, umur, jenis kelamin, dan faktor keturunan.

"Jika ayah/ibu ada yang terkena stroke, itu membuat kita lebih berisiko untuk terkena stroke. Jenis kelamin laki-laki juga lebih berisiko terkena stroke," ujarnya.

Ia menjelaskan semakin lanjut usia maka risiko stroke menjadi semakin besar. Namun, dr Rocksy pun menekankan bahwa stroke merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja, di mana saja tanpa pandang bulu.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya mengenali penyakit stroke dan penanganannya untuk mencegah bahaya yang lebih parah. dr Rocksy mengungkap, World Stroke Day 2021 yang jatuh pada tanggal 29 Oktober membawa 3 pesan penting seputar stroke, yakni 'Kenali Gejalanya, Katakan Itu Stroke, Cepat Cari Pertolongan'.

adv siloam

Foto: Shutterstock

Untuk mengenali gejala umum para penderita stroke, ada kampanye FAST (Face, Arm, Speech, dan Time) yang disuarakan di seluruh dunia.

"F untuk Face, mukanya jadi mencong. A untuk Arm, tangan atau anggota geraknya ada yang lebih lemah sebelah, S untuk Speech atau bicaranya cadel, dan T adalah Time yaitu segera ke rumah sakit," terangnya.

Meski begitu, dr Rocksy mengingatkan bahwa gejala stroke bisa berbeda pada setiap orang. Menurutnya, yang paling penting untuk dicatat masyarakat umum adalah mengenali segala sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan berkaitan dengan gejala saraf atau neurologis. Misalnya, tiba-tiba pandangan gelap atau hilang sebelah, merasakan pusing berputar hebat, sakit kepala yang belum pernah dirasakan, atau lupa yang terjadi tiba-tiba.

"Kuncinya memang ada di kata tiba-tiba, karena stroke adalah serangan otak. Jadi gejalanya banyak dan tiap orang tidak sama gejala yang dideritanya. Sama-sama stroke tapi gejalanya bisa beda dengan orang lain," tegasnya.

Jika gejala-gejala di atas dialami saat sedang beraktivitas, dr Rocksy memberi kiat untuk melakukan langkah awal penanganan berupa istirahat berbaring dengan kepala di posisi 30 derajat. Ia pun mengimbau agar pasien bisa tetap rileks dan tenang, sembari segera mencari pertolongan dengan pergi ke rumah sakit terdekat yang mampu menangani stroke.

Menurutnya, pertolongan yang cepat menjadi kunci dari penanganan stroke. Sebab, setiap menit berharga dalam mencegah bahaya stroke yang menjadi penyebab kecacatan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Ia menjelaskan, ketika otak tidak mendapat aliran darah yang cukup dalam waktu satu menit, maka sekian juta sel dapat rusak sehingga bisa memperparah stroke. Oleh karena itu, pasien perlu memperhatikan golden period dalam penanganan stroke sebagai langkah untuk memperbaiki aliran darah ke otak.

"70-80% stroke itu adalah stroke sumbatan, langkah pertolongannya adalah membebaskan sumbatan. Ada obat yang disebut sebagai trombolisis yang bekerja menghancurkan sumbatan. Tapi hanya boleh diberikan jika strokenya belum lewat 4,5 jam," ujarnya.

"Lebih bagus lagi kalau diberikan dalam waktu kurang dari 2 jam. Hasilnya akan jauh lebih baik. Itu yang kita sebut sebagai golden period, sehingga secepatnya memang harus langsung ke rumah sakit," imbuh dr Rocksy.

Ia menambahkan pasien stroke harus langsung dibawa ke rumah sakit agar bisa dilakukan CT Scan atau MRI untuk memastikan apakah betul ada stroke serta memastikan jenis stroke yang dialami guna menentukan pengobatan yang sesuai. Untuk itu, dr Rocksy mengatakan penanganan darurat yang paling ideal saat menghadapi serangan stroke ialah segera memanggil ambulans.

"Jika muncul gejala stroke, kita harus segera mencari pertolongan, dalam hal ini segera memanggil ambulans dan segera ke rumah sakit karena stroke jika ditangani lebih cepat maka hasilnya akan lebih baik dan bisa mencegah kecacatan," tuturnya.

"Kita sudah melakukan beberapa kalkulasi, bukan cuma di Indonesia tapi di seluruh dunia, bahwa memanggil ambulans merupakan langkah tercepat untuk mendapatkan pertolongan. Jadi lagi-lagi kita menyarankan masyarakat, begitu ada gejala stroke segera cari pertolongan, telepon ambulans," imbuhnya.

Menurutnya, pertolongan ambulans dapat mempersingkat waktu sehingga penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. Ia pun mengingatkan agar masyarakat mengenali rumah sakit terdekat dari lingkungan rumah maupun kantor, serta mengetahui nomor telepon ambulans agar tak lagi kebingungan saat menghadapi kasus stroke.

Untuk mencegah stroke, dr Rocksy pun berpesan agar masyarakat dapat mengenali faktor risiko masing-masing. Caranya, dengan rajin memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan meliputi pengecekan tensi darah, kadar gula, serta kolesterol.

Ia pun mengingatkan agar masyarakat senantiasa menjaga pola hidup sehat, mulai dari berhenti merokok, aktif dan rutin berolahraga, serta mengurangi stres. Ia menyebutkan, keaktifan seseorang bisa berkontribusi besar terhadap pencegahan stroke.

"Statistik menyebutkan 1 juta kasus stroke terjadi dalam setahun akibat kurang gerak," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya olahraga meski di tengah pandemi, minimal 30 menit setiap hari atau 150 menit setiap minggu karena hal ini bisa mengurangi risiko stroke hampir seperempatnya.

Dalam situasi gawat darurat, jangan ragu untuk menghubungi layanan ambulans Siloam Hospitals Lippo Village di 1-500-911. Informasi Medical Check Up dan konsultasi dokter, dapat diakses melalui aplikasi MySiloam di smartphone Anda atau www.siloamhospitals.com.

(adv/adv)