Senin, 08 Nov 2021 00:00 WIB

Hati-hati! Adiksi Narkoba pada Remaja Bisa Bunuh Ambisi & Masa Depan

Advertorial - detikHealth
adv cicotama Foto: Envato
Jakarta - Penyalahgunaan narkoba merupakan fenomena dan permasalahan global yang dihadapi sebagian besar negara di dunia. Bahaya narkoba bisa menjerat berbagai kelompok usia. Ironisnya, bahaya narkoba lebih banyak menjadikan kelompok usia produktif sebagai korban.

Berdasarkan World Drugs Report yang diterbitkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime disebutkan bahwa 275 juta penduduk dunia atau 5,6% dari penduduk dunia usia 15-64 tahun pernah mengonsumsi narkoba. Lalu, bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

BNN Sebut 70% Pengguna Narkoba di Indonesia Kelompok Usia Produktif

Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 3,6 juta pengguna. Dari angka itu, 70% di antaranya adalah masyarakat dalam usia produktif, yakni 16-65 tahun.

Bahkan, 27% di antaranya adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Diketahui, penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja hadir dalam berbagai bentuk, baik sebagai pengguna atau terlibat sebagai kurir.

Psikolog anak dan remaja, Roslina Verauli, mengungkap ada banyak alasan yang membuat remaja dan mahasiswa rentan terpengaruh narkoba hingga mulai mencoba-coba narkoba.

"Alasan itu antara lain sekadar memenuhi rasa ingin tahu, alat untuk lari dari masalah, adanya tekanan sosial dari pergaulan yang buruk, sampai wujud protes atau menentang aturan," kata Roslina dalam keterangan tertulis, Senin (8/11/2021).

Menurutnya, alasan ini kerap muncul meski bahaya narkoba sudah sering dikampanyekan.

Sebagaimana diketahui, WHO menyebutkan bahwa narkoba adalah zat yang jika dimasukkan dalam tubuh akan memberikan pengaruh pada kerja otak. Setelah otak terganggu, maka di tahap adiksi pengguna semakin sulit lepas dari jerat narkoba.

Sensasi kesenangan atau rileks sesaat yang ditimbulkan membuat pengguna terus mencari narkoba. Sugesti untuk terus menggunakan narkoba muncul dalam gejala seperti kepala pusing, susah makan, dan badan terasa sakit.

Kondisi ini umumnya membuat pengguna narkoba melakukan segala cara untuk terus mendapatkan narkoba, mulai dari menghabiskan uang hingga terlibat kriminalitas untuk mendapatkan uang secara ilegal.

Rentetan kejadian yang saling berkaitan ini dapat membunuh ambisi dan masa depan mereka sendiri.

Melindungi Remaja dari Bahaya Narkoba

BNN sebagai ujung tombak pemberantasan narkoba di Tanah Air berupaya melakukan kampanye pencegahan narkoba secara terus menerus. Pada tahun 2020, BNN telah menggelar sosialisasi bahaya narkoba sebanyak 96.062 kali. Di triwulan pertama 2021, sosialisasi ini bahkan telah dilakukan sebanyak 3.869 kali.

Sosialisasi bahaya narkoba perlu didukung elemen lain agar upaya pencegahan berjalan optimal. Roslina mengatakan salah satu cara untuk bisa melindungi remaja dari upaya mencoba narkoba bisa dilakukan dengan meningkatkan relasi positif dan hangat dalam keluarga.

Menurutnya, perasaan dicintai serta kesempatan tumbuh dalam relasi keluarga yang hangat dapat meningkatkan perasaan diri berharga. Ia menilai, remaja yang memiliki penghayatan positif tentang dirinya tak akan menempatkan diri pada aksi yang merusak, membahayakan, dan merugikan dirinya sendiri.

Sementara itu, pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Harry Firman, berpendapat bahwa pendidikan bisa menjadi benteng bagi remaja dan mahasiswa dari bahaya narkoba.

"Pendidikan memungkinkan remaja paham bahwa tugas mereka adalah menyiapkan diri, menggali pengetahuan, skills, dan karakter yang diperlukan untuk bersaing di masa depan. Narkoba hanya akan membawa pengaruh buruk bagi pikiran, skills dan karakter, serta menghambat peluang untuk mewujudkan mimpi masa depannya," ungkap Harry.

Selain itu, remaja juga membutuhkan motivasi yang kuat untuk bisa memilih pergaulan yang positif, menjaga cita cita, selalu fokus pada hal-hal yang positif, dan menjalani hidup sehat agar selalu terhindar dari penyalahgunaan narkoba. (adv/adv)