Senin, 28 Jan 2013 13:47 WIB

Pemanis Buatan Dalam Minuman Soda, Amankah ?

- detikHealth
Jakarta - Saat panas terik, minuman ringan kerap jadi pilihan orang-orang dibanding air putih untuk menghilangkan haus karena memberikan rasa yang lebih segar. Namun ada kekuatiran mengenai kandungan kimiawi di dalam minuman ringan. Padahal seperti produk olahan pangan lainnya, minuman ringan dalam proses pembuatannya perlu menggunakan BTP atau bahan tambahan pangan.

“Pemanis buatan, pewarna dan pengawet, merupakan BTP yang paling sering disorot dan menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat luas. Kesalahpahaman tersebut sesungguhnya tidak perlu terjadi jika konsumen mengerti hakekat BTP dan produsen pangan mematuhi rambu-rambu tatacara pemakaian BTP pada produk pangan,” kata dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan – IPB, Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS.

Jenis BTP yang paling umum digunakan pada minuman ringan adalah zat pemanis, flavor (perasa), pewarna, pengawet, dan pengatur keasaman. Dengan adanya pemanis buatan pada minuman ringan, maka kandungan energi yang dihasilkan oleh minuman tersebut menjadi sangat kecil bahkan ada yang hampa kalori.

Ada tujuh  pemanis yang diizinkan pemakaiannya dengan mencantumkan nilai ADI (Acceptable Daily Intake = Asupan Harian yang Dapat Diterima) yakni  aspartam, alitam, asesulfam-K, neotam, sakarin, siklamat, sukralosa. Sementara itu, enam pemanis yang dinyatakan GRAS (Generally Recognized as Safe) sehingga tidak perlu pencantuman nilai ADI adalah isomalt, laktitol, maltitol, manitol, silitol dan sorbitol.

Berkat pemanis buatan, maka minuman ringan tanpa kalori tetap terasa manis dan enak dinikmati. Minuman ringan tanpa kalori diperlukan kehadirannya oleh masyarakat yang membatasi masukan energi karena alasan diet, penyakit diabates melitus, obesitas, dan lain-lain.

Menurut Prof. Dr. Ir. Made Astawan, suatu makanan/minuman dikatakan berenergi tinggi jika per sajinya mengandung energi minimum 300 kkal, dikatakan berenergi rendah jika per sajinya mengandung kurang atau sama dengan 40 kkal, dan dikatakan tanpa energi jika per sajinya mengandung kurang dari 5 kkal.

Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa minuman ringan (termasuk minuman bersoda) tidak termasuk minuman berenergi tinggi, karena kandungan energinya kurang dari 300 kkal per saji. Beberapa jenis minuman bahkan ada yang tergolong rendah energi (Diet Cola berkafein) atau tanpa energi (Diet Cola tanpa kafein).

Berikut ini adalah kandungan energi beberapa jenis minuman ringan per 240 ml ukuran saji:

  • Cola, berkafein = 88 kkal
  • Cola, tanpa kafein = 104 kkal
  • Mid-calorie Cola = 45 kkal
  • Diet Cola, berkafein = 8 kkal
  • Diet Cola, tanpa kafein = 0 kkal
  • Grape soda= 104 kkal
  • Lemon-Lime soda= 104 kkal
  • Ginger Ale= 80 kkal
  • Cream Soda, tanpa kafein = 128 kkal
Anda memang tidak perlu kuatir berlebihan mengenai keamanan suatu minuman ringan. Cukup cek nomor registrasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berupa nomor MD (12 angka). Jika minuman ringan yang akan Anda konsumsi telah mencantumkan nomor registrasi tersebut, maka dijamin produk itu telah menggunakan BTP sesuai aturan dan kaidah yang berlaku.

(adv/adv)