Selasa, 29 Jan 2013 10:00 WIB

Mandi dengan Cairan Antiseptik Cegah Infeksi Darah Anak

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Demi menjaga agar anak tak mudah terkena infeksi akibat bakteri, para ibu biasanya memandikan anak-anaknya dengan air yang telah dicampur cairan antiseptik. Selain lebih bersih, nyatanya sebuah studi baru mengungkap bahwa mandi dengan air yang sudah dicampur cairan antiseptik dapat mengurangi risiko infeksi darah yang berbahaya pada anak-anak yang tengah sakit parah.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari John Hopkins Children's Center mengadakan percobaan terhadap lebih dari 4.000 anak yang tengah diopname di 10 unit perawatan pediatri yang ada di lima rumah sakit di AS.

Dalam percobaan ini sabun mandi biasa dibandingkan dengan cairan antiseptik untuk mandi yang mengandung diluted chlorhexidine gluconate (CHG), cairan yang biasa digunakan untuk membunuh virus, bakteri dan jamur. Setelah percobaan selesai dilakukan, dilaporkan anak yang dimandikan dengan cairan antiseptik berisiko terserang infeksi aliran darah (bloodstream infections) 36 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dimandikan dengan air dan sabun mandi biasa.

"Mandi dengan air yang dicampur cairan antiseptik setiap hari bisa jadi cara yang relatif murah, cepat dan mudah untuk mengurangi risiko infeksi yang mematikan pada anak-anak yang rentan tersebut," kata ketua tim peneliti Aaron Milstone seperti dilansir dari zeenews, Selasa (29/1/2013).

Temuan ini dirasa penting mengingat infeksi aliran darah seringkali terjadi pada pasien yang kritis, padahal kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk kerusakan organ hingga kematian.

Namun menurut peneliti, mandi dengan cairan antiseptik tampaknya mampu mengurangi infeksi aliran darah yang disebabkan oleh berbagai faktor. Sebab sebelumnya diketahui bahwa sebagian besar risiko serangan infeksi ini diakibatkan oleh penggunaan kateter vena sentral (central venous catheters).

"Infeksi aliran darah, entah itu ada kaitannya dengan kateter atau tidak, banyak terjadi pada pasien anak yang kondisinya kritis dan menyebabkan morbiditas, jadi upaya ini seharusnya dapat mengurangi risiko bakteremia (adanya bakteri di dalam aliran darah) yang diakibatkan oleh berbagai faktor," pungkas peneliti lain, Trish M. Perl.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet.

(vit/vit)