Kamis, 13 Mar 2014 19:32 WIB

Studi: Gara-gara Ponsel, Orang Tua Bisa Lebih Kasar Saat Anak Bertingkah

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Jamak diketahui, anak-anak sebaiknya tidak dibiasakan memakai gadget atau ponsel pintar sejak kecil karena dikhawatirkan akan mengganggu perkembangannya. Namun sebuah studi mengungkapkan orang dewasa pun bisa terkena dampak negatif serupa dari ponsel.

Hal ini terlihat pada orang tua atau pengasuh anak yang cenderung terpaku pada ponselnya ketika bepergian bersama anak-anak ke tempat umum. Selain tidak memperhatikan si anak, sebuah studi juga menemukan orang dewasa yang lebih banyak memperhatikan ponsel ketimbang anak cenderung lebih kasar ketika merespons perilaku nakal si anak.

Demi studi ini, tim peneliti dari Boston University Medical Center rela camping di sekitaran restoran makanan cepat saji di daerah Boston antara bulan Juli dan Agustus 2013. Pengamatan dilakukan secara diam-diam.

Dari situ peneliti merangkum 55 interaksi antara orang tua dengan anak yang rata-rata berusia di bawah 10 tahun dan menuliskan secara mendetail tentang apa yang mereka lihat, mulai dari bagaimana orang tua/pengasuh menggunakan perangkat mobilenya hingga bagaimana reaksi si anak dan orang tua/pengasuh ketika berinteraksi.

Ternyata ada lima jenis perilaku yang dilakukan orang tua ketika makan bersama anaknya; tidak memegang ponsel sama sekali, hanya meletakkan ponsel di atas meja tapi tidak menggunakannya, sesekali membuka ponsel, hanya membuka ponsel seusai makan, dan mereka yang memegang ponsel sepanjang makan.

Tiga-perempat (73 persen) orang tua menggunakan ponselnya minimal sekali setiap kali makan bersama anak. Lebih dari 15 persen menggunakan ponselnya hanya setelah makan meski si anak mungkin masih belum menyelesaikan makannya dan terus menggunakannya hingga mereka meninggalkan restoran.

Akan tetapi satu dari tiga orang tua cenderung terus menggunakan ponselnya sepanjang makan. Hal ini karena dari 55 interaksi, 40 di antaranya didominasi orang tua yang terus menggunakan ponselnya ketika makan, dan hanya 15 orang yang benar-benar tidak mengeluarkan ponselnya.

Dari ke-40 interaksi tersebut, peneliti juga melihat perilaku anak yang beragam ketika tidak diacuhkan orang tuanya, mulai dari menghibur dirinya sendiri hingga melakukan sesuatu agar mendapat perhatian orang tua/pengasuhnya seperti bertingkah konyol atau berakting menirukan karakter tertentu.

Namun yang mengejutkan, peneliti menemukan makin terpaku si orang tua/pengasuh pada perangkatnya saat makan, makin kasar pula respons yang mereka berikan ketika melihat si anak bertingkah nakal.

Misalnya, peneliti menemukan ada seorang pengasuh wanita yang terlihat harus mengurus dua anak dan satu bayi sekaligus. Ketika ia asyik bermain ponsel dan si bayi diletakkan di pangkuannya, ia tiba-tiba berteriak kepada dua anak laki-laki yang ia asuh, "Dua menit lagi. Tolong dimakan."

Kebetulan salah satu anak mengaku sedotannya tenggelam ke dalam jus sehingga ia tak bisa minum. Namun pengasuh yang sama hanya berpaling sebentar dari ponselnya dan berkata jika si anak tak bisa mendapatkan sedotan lagi karena ia telah mendorong sedotan tersebut masuk ke dalam jus.

Ada juga seorang ayah yang makan bersama anak-anaknya. Karena diacuhkan si ayah yang sibuk dengan gadget-nya, mereka terus menyanyikan parodi 'jingle bells, Batman smells' hingga si ayah meminta mereka berhenti tapi dengan suara yang keras. Hal ini terjadi sebanyak dua kali tapi tatapannya tetap tertuju pada ponsel.

"Orang tua atau pengasuh yang sangat terpaku pada ponselnya terlihat lebih banyak memberikan respons negatif atau kurang berinteraksi dengan anaknya," papar peneliti Dr Jenny Radesky, seperti dikutip dari CBS News, Kamis (13/3/2014).

Selain mengurangi tingkat kepekaan orang tua terhadap anaknya, peneliti juga sepakat ini mengganggu hubungan antara orang tua dengan anaknya. Studi sebelumnya mengatakan kurangnya kontak mata dan interaksi dengan anak dapat mengurangi ikatan tersebut. Pasalnya anak-anak, apalagi bayi yang baru lahir, memanfaatkan kontak mata dengan orang tuanya sebagai bagian dari proses pembentukan ikatan dengan mereka sekaligus belajar mengenal dunia.

Studi lain lagi juga khawatir kurangnya interaksi atau ngobrol dengan anak dapat mempengaruhi kemampuan bicara atau bahasa mereka.

(lil/vit)