Kamis, 22 Okt 2015 19:32 WIB

Apakah Kebiri Efektif Bikin Paedofil Kapok?

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: emin ozkan/Thinkstock
Jakarta - Lewat Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu), pemerintah berencana memberlakukan hukuman kebiri kimia bagi pelaku kekerasan seksual pada anak. Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak namun ada juga yang mempertanyakannya.

Satu hal yang sering ditanyakan adalah apakah nantinya hukuman kebiri ini akan efektif? Banyak juga yang meragukan bahwa kebiri hanya akan menghalangi nafsu saja tapi tak memperbaiki gangguan dasar pada pelaku kekerasan seksual.

Menanggapi hal ini Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa hukuman kebiri ini sudah diterapkan di beberapa negara. Dari pengalaman negara-negara tersebut ia mengambil kesimpulan bahwa kebiri bisa jadi hukuman efektif untuk menurunkan angka kekerasan seksual pada anak.

Baca juga: Waspada Kekerasan Seksual pada Anak, Kenali Ciri-ciri Paedofil

"Ini sudah berlaku di beberapa negara yang teruji bahwa terjadi penurunan predator-predator kejahatan seksual. Korea Selatan, sebagian negara-negara bagian Amerika, Polandia, Jerman, bahkan Inggris itu pakai chip biar kemana pun terlihat," kata Arist pada seminar kekerasan seksual anak di RSJ dr Soeharto Heerdjan, Jl Latumenten, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2015).

"Saya kira kalau itu dilakukan di Indonesia akan terjadi juga (penurunan angka kejahatan -red)," lanjut Arist.

Sementara itu Ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia (Akeswari) dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), mengatakan bahwa efek jera untuk pelaku dapat diberikan dengan hukuman kebiri. Hanya saja memang baiknya hukuman diberikan ketika sudah tak ada lagi terapi yang mempan untuk sang pelaku.

"Kebiri itu intervensi perilaku dalam bentuk punishment pada taraf yang sudah kita gak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia sudah melakukan kesalahan yang terlalu banyak, persisten, terus kita coba dengan yang lain kalau tak bisa ya sudah dengan kebiri itu," terang dr Suzy.

Baca juga: Orang yang Gemar Menyodomi Anak-anak, Bisakah 'Disembuhkan'? (fds/vit)