Kamis, 15 Sep 2016 08:36 WIB

Kurang Kekinian, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Sulit Diterima Siswa

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
ilustrasi penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja (Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth)
Jakarta - Materi dan pembawaan guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi berpengaruh terhadap sikap siswa terkait kegiatan seks. Jika pendidikan reproduksi dibawakan secara negatif, kecil kemungkinan pesan yang ingin disampaikan akan ditangkap oleh siswa.

Hal tersebut merupakan kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Pandora Pound dari School of Social and Community Medicine, University of Bristol, Inggris. Pandora dan rekan-rekannya melakukan penelitian dengan menganalisis 48 studi tentang pendidikan kesehatan reproduksi di berbagai negara dari tahun 1990 hingga 2015.

Secara umum, siswa merasa materi pendidikan kesehatan reproduksi yang dibawakan terkesan negatif, dengan pencitraan bahwa hubungan seks adalah masalah dan bukan bagian dari kesenangan. Siswa juga merasa wanita digambarkan sebagai pihak yang pasif, sementara pria digambarkan sebagai predator.

Keluhan lain yang disampaikan siswa terkait dengan pembawaan guru yang memberikan materi
pendidikan kesehatan reproduksi. Sebagian besar guru merasa malu memberikan materi tersebut dan sisanya bahkan tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi.

Baca juga: Ingat, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Tak Melulu Soal Hal-hal Berbau Seksual

"Ketika pendidikan kesehatan reproduksi diberikan pada remaja dengan negatif, tidak inovatif dan tidak mengikuti perkembangan zaman, mereka akan menghiraukannya. Padahal pendidikan kesehatan reproduksi penting dalam pembelajaran siswa tentang kehidupan dan berpengaruh besar untuk masa depan mereka," tutur Pound, dikutip dari Reuters.

Pound juga melihat adanya kecenderungan seks disebut sebagai masalah namun siswa tidak diberi solusi mengatasinya. Beberapa hal penting dalam kesehatan reproduksi namun jarang dibahas oleh guru antara lain risiko kesehatan, apa yang harus dilakukan jika hamil dan diskusi tentang pemilihan kontrasepsi.

Ia juga menyoroti kurangnya pembahasan mengenai kesehatan reproduksi pada kelompok gay, biseksual dan transgender. Hal ini menurutnya berhubungan dengan pengalaman dan penguasaan guru tentang materi yang diberikan.

"Konten pembelajarannya memang harus ditingkatkan. Namun yang lebih penting adalah seharusnya pendidikan kesehatan reproduksi diberikan oleh pakar yang mengerti dan nyaman membicarakan soal seks dan kontrasepsi," tegasnya.

Baca juga: dr Hepi dan Suka Dukanya Mengajari Murid TK sampai SMA tentang Kesehatan (mrs/vit)