Sabtu, 12 Nov 2016 08:02 WIB

Jangan Sepelekan, Ini Alasannya Campak Masih Jadi Ancaman Anak-anak di Dunia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi campak (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Penyakit campak masih menjadi ancaman bagi anak-anak di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sejatinya ada penurunan drastis dalam jumlah kematian anak-anak akibat penyakit campak.

Data WHO menunjukkan sejak tahun 2000, angka kematian akibat campak menurun hingga 79 persen. Meski begitu, campak masih berbahaya karena berdasarkan statistik, masih ada 400 anak yang mati akibat campak setiap tahunnya.

WHO dan UNICEF bekerjasama dengan berbagai organisasi lain menyebut campak harus bisa dihilangkan dari muka bumi. Kuncinya ada di kemauan negara-negara yang masih tinggi pengidap campaknya untuk mau melakukan imunisasi.

Baca juga: Waspada Pneumonia, Si Pembunuh Bayi dan Balita di Indonesia

"Tidak ada masalah dengan peralatan atau pengetahuan soal campak. Namun beberapa negara masih kesulitan untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak di negaranya, ini yang menyebabkan campak masih merajalela," tutur Robin Nandy, kepala bagian imunisasi UNICEF, dikutip dari Reuters.

20,3 Juta nyawa anak selamat karena imunisasi sejak tahun 2000 hingga 2015. Meski begitu, cakupan imunisasi masih belum merata di beberapa negara. Pada tahun 2015, diperkirakan 20 juta bayi tidak mendapat imunisasi campak dan 134.000 di antaranya meninggal dunia.

Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Nigeria dan Pakisata merupakan negara-negara dengan jumlah bayi yang tidak diimunisasi campak terbesar dan menyumbang sekitar 75 persen angka kematian akibat campak.

Bahkan pada tahun 2015, tercatat ada wabah campak besar-besaran di Mesir, Ethiopia, Jerman, Kirgistan hingga Mongolia. Di Jerman dan Mongolia, campak tidak hanya menyerang anak-anak namun juga menyerang orang dewasa.

"Butuh komitmen kuat dari negara-negara, partner kerja kami, dan organisasi lain yang terkait untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan memperkuat sistem surveilans penyakit campak," tutur Seth Berkley dari Aliansi Vaksin Internasional.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dalam keadaan normal orang yang mendapat vaksin untuk pertusis masih punya kemungkinan terinfeksi 2 persen. Sementara itu untuk campak mereka yang sudah divaksinasi juga masih mungkin terkena 3%.

Tapi peneliti mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan dalam keadaan normal di mana tingkat cakupan vaksinasi mencapai batas minimal yang disarankan. Dengan semakin banyaknya jumlah kasus bahkan pada populasi yang telah divaksin, Omar dalam studi yang dipublikasi di Journal of the American Medical Association (JAMA) mengatakan hal ini sebagai tanda-tanda penurunan imunitas total terhadap penyakit.

"Memang sulit untuk memberi angka spesifik seberapa besar pengaruh penolakan vaksin menurunkan perlindungan penyakit dalam sebuah komunitas," kata Dr Matthew Davis, peneliti anak dari University of Michigan mengomentari studi.

Baca juga: Hati-hati Gangguan Pendengaran Bayi yang Tak Terdeteksi (mrs/vit)