Kamis, 29 Des 2016 17:09 WIB

Kata Psikolog Soal Trauma pada Anak Akibat Mengalami Kekerasan

Edwin Ramadi - detikHealth
Foto: ilustrasi anak trauma/thinkstock
Jakarta - Kekerasan pada anak bisa terjadi, misalnya seperti dalam kasus pembunuhan sadis di Pulomas, Jakarta. Dalam peristiwa itu, ada anak yang menjadi saksi kekejian pelaku. Bahkan di depan matanya, ayah dan saudara kandungnya meninggal dunia.

Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd dari Diana & Associate dan DZone Therapy Center menuturkan hal peristiwa pahit itu pasti akan terus diingat oleh anak tersebut. Apalagi si anak sebenarnya sudah memasuki masa remaja, mengingat usianya sudah 13 tahun.

Meski peristiwa tersebut menimbulkan trauma berat, namun belum tentu juga bisa mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari. "Semua tergantung dari pendampingannya dan pribadi masing-masing," ujar perempuan yang akrab disapa Diana ini.

Untuk itu, pada anak yang terpapar kekerasan hingga menimbulkan trauma, perlu mendapat penanganan yang tepat. Jika penanganan tidak tepat bisa berdampak psikologisnya di kemudian hari seperti takut untuk tinggal sendiri di rumah, takut terhadap orang asing hingga sangat protektif terhadap keluarganya.

"Hal itu bisa terjadi sebagai dampak trauma pada anak. Khusus karena tindak kejahatan dengan lakukan kekerasan, penanganan terhadap anak ini harus didukung oleh keluarga dan teman agar bisa melewati masa trauma berat yang dirasakan," sambung Diana.

Baca juga: Foto Pembunuhan Sadis di Pulomas Tersebar, Apa Dampak Bila Dilihat Anak?

Apakah pendampingan pada anak anak yang trauma akibat korban kekerasan butuh waktu lama? Kata Diana, sebaiknya jangan sebentar, akan tetapi semua tergantung juga pada kondisi anak. Yang perlu diingat juga adalah dampak trauma tidak bisa terlihat secara langsung, namun setelah beberapa tahun.

"Peran psikolog akan miliki banyak terapi tertentu untuk masalah trauma. Misalnya dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yaitu Terapi Kognitif dan Perilaku relaksasi. Semua ini tergantung dari kenyamanan si anak itu," tambah Diana.

Diana juga menyarankan agar orang-orang sekitar menghindari menggunakan kata-kata yang bisa menyinggung perasaan anak atau trauma yang menambah bebannya. "Sewajarnya kita kehilangan orang yang kita sayangi kita akan miliki rasa kehilangan keluarga, mungkin dia sudah merelakan namun rasa kehilangan masih membekas," imbuhnya.

Baca juga: Dokter: Waspadai Gangguan Kecemasan Terkait Pembunuhan Sadis di Pulomas (vit/vit)