ADVERTISEMENT

Selasa, 14 Feb 2017 16:27 WIB

Kisah Bocah 6 Tahun Meninggal karena Komplikasi Saat Influenza

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: You Caring
Ohio, AS - Tak disangka influenza yang dialami bocah ini bisa mengakibatkan kefatalan. Bahkan akibat komplikasi yang terjadi, bocah enam tahun itu meninggal dunia.

Eva Marie Harris, demikian nama bocah itu, mengembangkan kondisi langka setelah terkena influenza. Kisah bermula pada 7 Februari lalu, Eva terserang demam hingga 40,5 derajat Celcius. Saat diperiksa di sebuah klinik anak, Eva diketahui terkena influenza B.

Di Amerika Serikat, virus influenza A dan B menyebabkan epidemi hampir di setiap musim dingin. Influenza B adalah salah satu yang umum menyerang manusia. Virus influenza B juga tidak diklasifikasi berdasar sub-tipe, namun menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) ada dua strain dari virus ini yakni Yamagata dan Victoria.

Dalam pemeriksaan diketahui Eva mengalami kerusakan otak akibat respons kekebalan tubuhnya sendiri. Dokter mendiagnosisnya dengan acute disseminated encephalomyelitis (ADEM). Demikian dikutip dari Daily Mail.

Sebenarnya ada berbagai virus yang bisa memicu ADEM. Kondisi ini biasanya tidak muncul karena agen infeksi tunggal.

Baca juga: Ini Sebabnya Flu Semakin Mematikan Bagi Lansia

Untuk membantu biaya pengobatan Eva, digelarlah aksi penggalangan dana secara online. Bocah itu selama beberapa hari harus dirawat di rumah sakit dengan berbagai alat pendukung hidupnya. Namun pada 9 Februari 2017, Eva dikabarkan meninggal dunia.

Jimsey Cary, ibunda Eva, mengatakan Eva dibesarkan di lingkungan yang aman dan penuh kasih. Hal ini pula yang akan diterapkan untuk membesarkan dua anak perempuannya yang lain. Jimsey berharap kisah Eva bisa dijadikan pelajaran bersama agar ke depannya tidak ada lagi kasus serupa.

dr Maz Wiznitzer yang merupakan ahli saraf anak dari University Hospital Rainbow Babies & Children Hospital menjelaskan ADEM pada dasarnya adalah penyakit otoimun, di mana tubuh menyerang dirinya sendiri. Infeksi viruslah yang biasanya memprovokasi respons tubuh untuk menyerang otak.

Penyakit ini menyerang otak dan tulang belakang, membuat pengidapnya merasa lemah, kaku, serta kehilangan keseimbangan dan penglihatan, gejala yang mirip dengan penyakit multiple sclerosis.

Kepada WKYC-TV, dr Wiznitzer mengatakan sebelum ADEM berkembang, biasanya pasien terkena infeksi virus berat selama dua sampai tiga pekan. Untuk meringankan influenza, disarankan mendapat vaksin influenza.

Dalam vaksinasi influenza modern, virus yang umum digunakan adalah dua jenis strain virus influenza A dan satu jenis strain virus influenza B. Inilah yang disebut vaksin influenza trivalent. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, mulai muncul ketidakcocokan, sehingga kemudian diluncurkan produk vaksin influenza quadrivalent, yang mana sudah mencakup strain Yamagata dan Victoria.

Dr dr Iris Rengganis, SpPD-KAI, dari Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo menuturkan vaksin quadrivalent bisa melindungi seseorang dari risiko infeksi influenza hingga 90 persen. Ke depannya, ia mengatakan vaksin quadrivalent akan menggantikan vaksin trivalent karena perlindungan yang diberikan lebih efektif.

Baca juga: Seberapa Ampuh Vaksinasi Cegah Flu pada Anak? Ini Kata Bu Dokter

(vit/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT