Jumat, 10 Mar 2017 17:05 WIB

Balita Stunting Ancam Bonus Demografi Indonesia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahub 2035. Sayangnya, masih tingginya angka balita yang mengalami stunting atau pendek bisa mengancam manfaat tersebut.

Sakri Sab'atmaja, Kepala Sub Direktorat Advokasi dan Kerja Sama Promkes Kemenkes RI, mengatakan bonus demografi terjadi saat jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk non-produktif. Masalahnya, jumlah penduduk produktif yang banyak malah bisa merugikan jika kualitas penduduk jelek.

Salah satu ancaman datang dari masih tingginya angka baduta (bawah dua tahun) dan balita (bawah lima tahun) yang mengalami stunting. Data Kementerian Kesehatan menyebut memang ada penurunan angka stunting namun penurunan berjalan lambat.

"Tahun 2010 persentase balita stunting masih 35,6 persen, 2014 turun jadi 28,9 persen dan 2016 27,5 persen. Memang turun tapi sedikit-sedikit," papar Sakri pada sesi kelas jurnalisme AJI dan Danone, di Gedung Cyber 2, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Nah, balita dan baduta inilah yang pada tahun 2035 akan menjadi populasi penduduk usia produktif. Dikhawatirkan daya saing penduduk usia produktif Indonesia akan kalah dari negara-negara lain akibat stunting saat masih anak-anak.

"Jadi jangan heran kalau main bola saja kita kalah sama Vietnam. Mereka makin bagus kualitas penduduknya dari segi gizi dan nutrisi, sementara kita masih segitu-segitu saja," tambahnya lagi.

Baca juga: Ini yang Perlu Dipahami Soal Gizi Buruk Pada Anak

Salah satu penyebab mengapa kualitas gizi dan nutrisi masyarakat masih rendah adalah tingginya angka kemiskinan. Dibandingkan Vietnam yang angka kemiskinannya 4,5 persen, Indonesia masih lebih tinggi dengan angka 11,1 persen.

Terkait hal ini, di tahun 2017 Kemenkes berfokus pada empat program yakni ASI eksklusif, anemia pada ibu hamil, stunting pada baduta (bayi di bawah dua tahun) dan pemantauan pertumbuhan pada balita. Demikian disampaikan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes dr Anung Sugihantono MKes.

"Target stunting komitmennya kita akan menurunkan 25 persen. Kalau di tahun 2017 nggak kekejar karena maksimal kan turunnya 2 atau 3 persen per tahun. Kalau sekarang 27,5 persen, di 2017 maksimal bisa turun jadi 25 persen," kata dr Anung beberapa waktu lalu.

Baca juga: Di 2016, Jumlah Balita Stunting dan Kurus di Indonesia Turun (mrs/up)