Selasa, 14 Mei 2013 15:13 WIB

Hanya 32 Persen Wanita Kantoran di Jakarta yang Beri ASI Eksklusif

- detikHealth
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Pemberian ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif selama 6 bulan memang menjadi masalah tersendiri untuk wanita karir. Berdasarkan hasil penelitian terbaru FKUI, hanya 32 persen pekerja sektor formal atau kantoran di Jakarta yang memberi ASI Eksklusif.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Program Magister Kedokteran Kerja Departemen Kedokteran Komunitas FKUI. Dari penelitian tersebut, diperoleh data bahwa persentase pekerja sektor formal di Jakarta yang memberi ASI Eksklusif hanya mencapai 32 persen. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, penelitian ini menunjukkan hampir 80 persen pekerja pabrik di Jakarta tidak memberikan ASI Eksklusif.

"Ada beberapa faktor yang berperan terhadap rendahnya angka pemberian ASI Eksklusif pada pekerja sektor formal, diantaranya perasaan cemas dari para ibu karena harus segera kembali bekerja setelah tiga bulan cuti, serta khawatir harus sering meninggalkan pekerjaan," kata Dr Ray Basrowi MKK, peserta Program Studi Magister Kedokteran Kerja yang melakukan penelitian ini, dalam acara konferensi pers di Gedung Mikro Biologi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, Cikini, Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Padahal menurut Dr Ray, kekhawatiran ini tidak perlu dialami pekerja karena pemerintah telah menjamin pemberian ASI Eksklusif di tempat kerja melalui Surat Kesepakatan Bersama Tiga Menteri (Menkes, Menaker dan Meneg PP) mengenai peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja yang telah efektif sejak tahun 2009.

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa SKB tersebut belum menciptakan efek dorongan moril yang maksimal bagi pekerja perempuan. Terbukti dari penelitian ini para pekerja sektor formal memilih untuk mulai memberi makanan pengganti ASI sejak usia bayi 3 bulan, yaitu saat di mana mereka sudah harus menyelesaikan cuti melahirkan.

"45,2 Persen pekerja sudah berhenti memberikan ASI pada usia 3-4 bulan, artinya setelah mereka kembali bekerja," lanjut Dr Ray, yang merupakan lulusan Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Terlebih lagi, belum banyak perusahaan yang menyediakan ruangan laktasi sebagai tempat khusus untuk ibu memompa ASI. Dari 6 lokasi penelitian, 4 sektor formal dan instansi pemerintah, dan 2 pabrik, semuanya belum memiliki ruang laktasi yang memenuhi syarat.

Jika pun ada, ruangan tersebut hanya bersifat darurat atau justru menyulitkan ibu untuk memompa ASI. Bahkan dari 2 pabrik yang menjadi tempat penelitian, tidak ada satu pun yang memiliki ruang laktasi.

(mer/vit)