Jumat, 29 Nov 2013 14:16 WIB

Maksimalkan Golden Age di 1.000 Hari Pertama Bayi dengan Cara Ini

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Masa-masa 1.000 hari kehidupan pertama pada bayi dimulai ketika janin sudah dinyatakan hidup (usia kehamilan 270 hari), sampai dengan bayi berusia dua tahun. Masa-masa itulah yang disebut masa golden age untuk pertumbuhan otak bayi. Namun, bagaimana caranya orang tua memaksimalkan golden age tersebut?

Ditemui detikHealth usai kampanye 'Dari Usia 1 Bersama Scott's'- Penghargaan Atas Dedikasi Para Kader Gizi se-Jabodetabek yang bertempat di Restoran Kembang Goela, Jl Sudirman, Kasubdit Gizi Makro, Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan RI, Entos Zainal, MPHM mengatakan memaksimalkan 1.000 hari pertama kelahiran bisa dilakukan dengan mudah.

"Beri saja ibu hamil itu makan yang banyak," ujar Entos, seperti ditulis pada Jumat (29/11/2013)..

"Namun tidak boleh memberi sembarang makanan. Harus makanan yang mengandung protein dan mineral yang banyak. Daging, misalnya," tuturnya lagi.

Ketika ditanya masalah harga daging yang tinggi, pria yang kerap tertawa ini menjelaskan protein tidak hanya ada di daging, namun juga bisa didapat dari protein nabati. Contoh makanannya antara lain tahu dan tempe yang berasal dari kacang kedelai.

Ia juga menganjurkan para ibu hamil untuk mengkonsumsi ikan sebagai pengganti daging. "Karena ikan memiliki kandungan protein dan omega 3 yang tinggi, meskipun tidak setinggi daging. Kalau mau lebih bagus, makannya juga ditambah tempe atau tahu. Murah kan? Namun manfaatnya besar sekali untuk janin," terangnya Entos.

Entos juga menjelaskan langkah yang harus segera dilakukan ketika bayi akhirnya lahir. Inisiasi menyusui dini (IMD) harus segera dilakukan begitu bayi lahir. Namun ia juga mengakui kalau itu bukanlah langkah yang mudah.

"Banyak ibu-ibu di negara kita yang mengeluh kalau ASI-nya tidak keluar, padahal itu tidak benar. ASI tersebut hanyalah belum keluar, bukannya tidak keluar. Rangsangan juga harus dilakukan oleh ibu untuk meningkatkan hormon pembuat ASI, yakni oksitoksin. Caranya mudah, banyak-banyak saja berpikir bahagia. Jangan mikirin suami dan uang melulu," ujarnya berseloroh.

Ia juga mengingatkan tentang efek negatif dari pemberian susu formula kepada bayi. Jika bayi terbiasa menggunakan botol dan susu formula, nantinya bayi tersebut tidak akan mampu lagi untuk menghisap ASI secara maksimal. Botol susu tidak membutuhkan daya hisap yang kuat, namun dapat memberikan air susu yang banyak. Hal itulah yang ia sebut merugikan si bayi.

"Sebenarnya semua itu masalah psikologis ibu. Bayi yang baru lahir itu membawa cadangan makanan sendiri yang dapat bertahan selama 12 jam. Namun jika air susu dari si ibu tidak keluar lebih dari 8 jam, tentunya si ibu akan gelisah, dan akhirnya memberikan susu formula untuk bayinya," lanjut Entos.

Ketika ditanyakan masalah pemberian suplemen tambahan untuk bayi, Entos menjawab dengan hati-hati. Menurutnya hal itu tidak bisa disamakan ke setiap ibu yang ada di Indonesia.

"Pokoknya gini. Kalau mau aman, kita bisa mengecek pertumbuhan bayi kita setiap bulan dengan cara datang ke puskesmas, posyandu, atau rumah sakit terdekat. Jika ternyata berat dan panjang bayi kita kurang sesuai dari berat dan panjang bayi seusianya, bolehlah kita menggunakan suplemen vitamin dan mineral tambahan. Tetapi jika bayi kita normal, tidak ada gunanya kita melakukan itu, karena nantinya zat yang berlebihan akan terbuang percuma dari tubuh bayi," pungkas Entos.



(vit/up)
News Feed