Selasa, 09 Jan 2018 09:33 WIB

Urine Unta, Dari Pengobatan Tradisional hingga Penebar MERS-Cov

Aryo Bhawono - detikHealth
Urine unta dipercaya sebagai obat tradisional, tapi sekarang dilarang karena terdapat virus MERS-Cov pada unta. Foto: (Thinkstock) Urine unta dipercaya sebagai obat tradisional, tapi sekarang dilarang karena terdapat virus MERS-Cov pada unta. Foto: (Thinkstock)
Jakarta - Kebiasaan masyarakat di Timur Tengah meminum urine unta karena dipercaya sebagai obat tradisional. Salah satu khasiatnya antara lain konon untuk melemahkan perkembangan sel kanker. Namun badan kesehatan dunia, WHO mengkampanyekan pelarangan kebiasaan ini karena resiko Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-Cov/Sindrom Pernafasan Timur Tengah).

Kebiasaan meminum urine unta ini berawal dari Hadits yang diiwayatkan Imam Muslim dan Bukhari. Keduanya merujuk sebuh peristiwa beberapa orang dari suku baduy Arab, Ukl dan Uraynah menghadap Nabi Muhammad. Mereka mengeluhkan karena kesulitan menyesuaikan dengan cuaca Madinah.

Tubuh mereka lemah dan perut terasa tak enak selama tinggal di Madinah. Demam ringan-pun berkali-kali menyerang. Nabi lantas menyuruh mereka mengikuti kawanan unta dan meminta pemiliknya memberikan susu dan kencing unta.

Buku Healing with the Medicine of the Prophet yang ditulis oleh Muḥammad ibn Abī Bakr Ibn Qayyim al-Jawzīyah, dan Imam Ibn Qayyim Al Jauziyah, menyebutkan kebiasaan ini dianggap sebagai salah satu pengobatan tradisional di Timur Tengah. Susu unta disebut mengandung pencahar ringan dan penstimulan kencing. Rasa susu ini sedikit asin, penambahan urine unta berguna menguatkan rasa dan khasiat.

"Terutama ketika unta-unta itu memakan berbagai tumbuhan khusus seperti apsintus, lavender, kamomil, bunga aster, dan serai," tulis buku itu.

Ramuan susu dan urin unta-pun kemudian dipercaya sebagai obat mujarab. Kepercayaan ini kian merebak seiring dengan meluasnya kekuasaan Islam. Apalagi kekuatan hadits tersebut tergolong sahih.

Baca juga: Beginilah Terapi Pengobatan Paling Aneh dari Berbagai Negara

Journal of Natural Science Volume 2 No. 5 Tahun 2012 menyebutkan Dr. Faten Abdel-Rahman Khorsid dari Departemen Ilmu Biologi Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, mengembangkan penelitian menggunakan urin dan susu unta untuk membunuh sel kanker.

Dr. Khorsid mengklaim kandungan air kencing unta dapat menekan perkembangan sel kanker. Penelitian ini dikembangkan juga oleh beberapa ilmuwan biologi asal Timur Tengah.

Namun dilema khasiat urin unta ini terjadi ketika virus MERS-Cov merebak. Penelitian WHO menyebutkan virus ini ditemukan pada unta yang tersebar di Mesir, Oman, Qatar, dan Arab Saudi. Anehnya virus ini tidak ditemukan pada hewan lain seperti kambing, sapi, domba, kerbau air, babi, dan burung liar.

WHO-pun mengkampanyekan pelarangan meminum urin dan susu unta. Berbagai kegiatan interaksi langsung dengan unta harus dilakukan dengan cara higienis. Menurut mereka virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan antar manusia bisa terjadi jika perawatan dilakukan tanpa menggunakan syarat-syarat keamanan kesehatan. Perawatan penderita virus ini harus diisolasi.

Catatan WHO menyebutkan virus MERS-Cov pertamakali ditemukan di Arab Saudi pada 2012. Persebaran penyakit terbesar terjadi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea. Hingga kini 35 persen pengidap virus MERS-Cov mengalami kematian.

Baca juga: Tentang Virus MERS-CoV dan Tips Agar Jemaah Haji Tak Tertular

(up/up)
News Feed