Rabu, 10 Jan 2018 16:04 WIB

Komentar Menkes Nila soal Fenomena Minum Kencing Unta untuk Kesehatan

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Ramai dibahas di media sosial soal fenomena minum kencing unta yang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan. Menteri Kesehatan Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K) pun angkat bicara.

Dikatakan Menkes Nila bahwa dari segi ilmiah dan kedokteran, kencing atau urine adalah perpaduan zat-zat yang dibuang oleh tubuh. Karena itu jika ingin dikonsumsi mentah-mentah, akan ada risikonya bagi kesehatan.

"Secara sederhana kencing itu kan dikeluarkan dari ginjal. Ginjal itu bahasa awamnya kan WC jadi yang kotor dibuang, nah masa buangannya itu yang kita makan," ujar Menkes, ditemui di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dikatakan Menkes, harus ada penelitian lebih lanjut terkait klaim manfaat urine unta bagi kesehatan. Sebabnya, bukan tak mungkin ada risiko bakteri yang mengintai jika mengonsumsi kencing unta.

Jikapun memang kencing unta memiliki manfaat, Menkes mengatakan bisa jadi bukan keseluruhan urinenya yang bermanfaat, namun hanya zat-zat tertentu saja yang terkandung dalam urine. Karena itu penelitian lebih lanjut yang ilmiah sangat penting.

"Kami dari Kemenkes memberi tahukan agar lebih berhati-hati, jangan asal menerima begitu saja, jangan dimakan mentah-mentah nanti kalau dikasihnya racun bagaimana," tambahnya.

Baca juga: Urine Unta, Dari Pengobatan Tradisional hingga Penebar MERS-Cov

Journal of Natural Science Volume 2 No. 5 Tahun 2012 menyebutkan Dr. Faten Abdel-Rahman Khorsid dari Departemen Ilmu Biologi Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, mengembangkan penelitian menggunakan urine dan susu unta untuk membunuh sel kanker.

Dr. Khorsid mengklaim kandungan air kencing unta dapat menekan perkembangan sel kanker. Penelitian ini dikembangkan juga oleh beberapa ilmuwan biologi asal Timur Tengah.

Namun dilema khasiat urine unta ini terjadi ketika virus MERS-Cov (Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus) merebak. Penelitian WHO menyebutkan virus ini ditemukan pada unta yang tersebar di Mesir, Oman, Qatar, dan Arab Saudi. Anehnya virus ini tidak ditemukan pada hewan lain seperti kambing, sapi, domba, kerbau air, babi, dan burung liar.

WHO-pun mengkampanyekan pelarangan meminum urine dan susu unta. Berbagai kegiatan interaksi langsung dengan unta harus dilakukan dengan cara higienis. Menurut mereka virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan antar manusia bisa terjadi jika perawatan dilakukan tanpa menggunakan syarat-syarat keamanan kesehatan. Perawatan penderita virus ini harus diisolasi.

Baca juga: Pendapat Komisi Fatwa MUI Soal Hukum Minum Kencing Unta

(mrs/up)
News Feed