Selasa, 27 Feb 2018 10:05 WIB

Dari Surabaya, Inovasi Tongkat Ultrasonik untuk Tuna Netra

Suryaman Candi - detikHealth
Jarot berhasil menciptakan inovasi tongkat untuk tuna netra. Foto: detik/Suryaman Candi Jarot berhasil menciptakan inovasi tongkat untuk tuna netra. Foto: detik/Suryaman Candi
Surabaya - Surabaya - Bagi tuna netra, tongkat menjadi penopang hidup utama mereka. Namun terkadang tongkat juga kurang banyak membantu karena kurangnya interaksi yang ada.

Hal ini mendorong Jarot Bangun Purnomo, mahasiswa Fakultas Informatika Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk menciptakan inovasi berupa tongkat pendeteksi halangan untuk tuna netra.

Kelebihannya, tongkat ini mampu mendeteksi dan memberikan sinyal kepada pemegangnya bila terdapat halangan di depan tongkat tersebut. Pendeteksi halangan tersebut adalah sensor ultrasonik bertenaga surya.

Pemuda yang menggemari komputer sejak SMP ini mengaku terinspirasi untuk menciptakan tongkat ini dari temannya semasa masih duduk di SDN Klampis Ngasem 2 Surabaya. Jarot menceritakan teman masa kecilnya tersebut memiliki kondisi penglihatan yang buruk.

Baca juga: Hebat! Berawal dari Hobi Bermusik, Tuna Netra Ini Bentuk Band

Bagi tuna netra, tongkat menjadi penopang hidup utama merekaBagi tuna netra, tongkat menjadi penopang hidup utama mereka Foto: detik/Suryaman Candi


Hatinya pun tersentuh saat menyaksikan keseharian temannya yang harus diantarjemput oleh sang ibu dengan naik sepeda ontel.

"Saya lihat itu, mas, tiap hari dijemput ibunya naik sepeda ontel, sekalian ibunya juga jualan di depan sekolah. Jadi rombong jualannya di belakang, dianya di tengah, trus ibunya nuntun gitu. Tiap hari gitu mas," kisah Jarot.

Dari situ, ia bertekad membuat tugas akhir yang bisa meringankan beban para penyandang tuna netra. Ia bahkan rela mengulang skripsi dan mengulur satu semester demi bisa membuat alat tersebut menjadi tugas akhirnya.

"Saya sekarang semester 9. Dulu pas semester 8 itu sebenarnya ambil skripsi tentang web. Tapi karena saya ingat ini akhirnya saya ulang lagi," tegas mahasiswa dengan IPK 3,13 ini.

Jarot kemudian menjelaskan, cara kerja alat ini menyerupai cara kelelawar untuk menentukan arah terbangnya. Empat ensor ultrasonik yang dipasang di tongkat (2 di atas dan 2 di bawah) akan mengirimkan sinyal transmisi ke arah depan. Bila ada penghalang dengan jangkauan paling jauh 1 meter, transmisi tersebut akan terpantul dan diterima oleh receiver dan memicu buzzer.

Buzzer tersebut nantinya akan berbunyi. Dari catatan mahasiswa berusia 23 tahun itu, pada jarak 1 meter, buzzer akan berbunyi setiap 0,8 detik. Makin dekat jarak dengan obyek, makin cepat pula bunyinya. Untuk jarak terdekat adalah 20 cm dan buzzer berbunyi setiap 0,16 detik.

"Kalau ada obyek, sinyal itu bakal terpantul kembali dan diterima oleh receiver. Jadi seperti kelelawar," jelasnya kepada detikcom, Selasa (27/2/2018).

Jarot menambahkan ia menggunakan dua jenis buzzer untuk memberitahukan pengguna akan adanya halangan. Selain bunyi, Jarot juga memasang vibrator pada tongkat yang akan bergetar bila menemui halangan.

"Ini vibrator saya ambil dari stick Playstation bekas saya mas," imbuh Jarot.

Baca juga: Hebat! Kembar Tiga Tunanetra Ini Raih Pangkat Tertinggi di Kepanduan

Tongkat bertenaga surya

Jarot mengakui sebelumnya sudah ada proyek serupa. Hanya saja yang membedakan inovasinya dengan tongkat untuk penyandang tuna netra sebelumnya adalah tenaga surya. Kebanyakan dari tongkat itu harus mengisi ulang daya bila daya habis.

"Dari situ saya kepikiran, mereka (penyandang tuna netra, red) pasti akan kesusahan kalau dayanya habis," ungkap Jarot.

Namun tongkat berpanel surya miliknya dapat digunakan selama 4 hari berturut-turut, bila dayanya telah terisi penuh. "Itu saya sudah pernah coba, mas. Dalam keadaan full ya. Jadi kalau misalnya dibawa jalan-jalan, kena dikit matahari, nggak terbatas tenaganya, unlimited," tegasnya.

Terkait proses pembuatan, Jarot mengungkapkan tongkat ultrasonik ini diselesaikannya dalam tenggat waktu dua bulan. Padahal sebenarnya ia sempat dihadapkan pada masalah kesulitan mencari bahan akrilik, yaitu komponen terpenting dari tongkat ini.

"Akrilik itu kan harus dipotong pake alat khususnya itu lho, tapi ini nggak, saya silet sendiri. Ini kemarin tangan saya sempat luka," buka Jarot.

Namun terdorong oleh motivasi yang kuat, Jarot pun berhasil menemukan alat yang akan sangat membantu penyandang tuna netra ini. Ia pun meyakini tongkat ini tak hanya membantu sebagai alat peraba saja, tetapi juga dapat menjadi 'mata' bagi penyandang tuna netra.

"Saya juga ingin memberitahukan masyarakat kalau alat ini murah. Ini saya buat nggak sampe Rp 200.000 lho," tegasnya.

Jarot merinci tongkatnya sendiri menghabiskan biaya sekitar Rp 70.000, sedangkan sensor ultrasoniknya seharga Rp 18.000/buah, sisanya ia mengaku memanfaatkan baramg bekas.

Ke depan, Jarot berharap bila alat itu bisa dikembangkan menjadi kebal air, sebab alat itu nantinya akan sering digunakan di luar ruangan.

"Harapan pertama saya sebenarnya biar bisa kebal hujan dulu. Soalnya ini akriliknya kalau masuk hujan, udah, byar. Selain itu juga, bisa lebih kuat dan rampinglah," ujarnya.

Menanggapi temuan anak didiknya, Dr Ir Muaffaq A Jani, M.Eng., mengatakan alat ini akan sangat membantu penyandang tuna netra menjadi lebih mandiri. Selain itu dengan inovasi 'bahan bakar' tenaga surya, penyandang tuna netra tidak harus bergantung pada bantuan orang lain, termasuk untuk mengisi daya perangkat tersebut.

"Jadi alat ini membantu penyandang tuna netra untuk menginformasikan bila ada halangan di depan. Terus dengan adanya tenaga surya ini, tuna netra akan dipermudah dengan pengisian daya otomatis. Jadi mandiri gitulah," ujar dosen pembimbing Jarot tersebut.

Ini dia tongkat buatan Jarot.Ini dia tongkat buatan Jarot. Foto: detik/Suryaman Candi
(lll/up)
News Feed