Selasa, 06 Mar 2018 07:51 WIB

Tumor di Otak pada Wanita Ini Picu Delusi Menyeramkan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Di penghujung tahun 2015, seorang wanita berusia 48 tahun datang ke instalasi gawat darurat di Bern, Swiss dengan beberapa luka tusuk di dadanya.

Namun ada tiga hal mengejutkan yang berkaitan dengan kasus wanita ini. Pertama, luka-luka itu merupakan hasil tusukannya sendiri. Kedua, luka-luka tusuk tersebut dilaporkan dalam, bahkan ada yang sampai 7 cm.

Ketiga, wanita ini mengaku menusuk-nusuk dadanya karena perintah langsung dari Tuhan. Menurut Sebastian Walther, psikiater yang menangani wanita yang hanya diketahui bernama Sarah itu, Sarah terlihat sebagai orang yang 'sangat terberkati'.

Ia mengaku sering mendengar suara-suara yang kadang berlangsung hingga berjam-jam. Baginya itu adalah suara Tuhan dan terdengar 'menyenangkan', meski faktanya suara-suara itu memberinya instruksi mematikan. Demikian seperti dilaporkan BBC.

Dari penggambaran Sarah, dapat disimpulkan bahwa suara-suara yang ia dengar sangat jelas, seperti halnya yang sering dialami oleh pasien gangguan jiwa.

Sempat muncul dugaan jika Sarah mengidap skizofrenia karena halusinasi auditori yang dimilikinya, namun gejala klasik dari pengidap skizofrenia tidak terlihat pada diri Sarah.

Dari masa lalu Sarah diketahui ia memang memiliki ketertarikan pada keyakinan tertentu sejak berusia 13 tahun, namun ini tak pernah lama.

Kemudian dilakukan scan pada otaknya, dan hasilnya mengungkap bahwa Sarah memiliki tumor di salah satu bagian paling 'kritis' di otaknya, yaitu di bagian yang berperan penting dalam memproses suara. Walther memperkirakan tumor itu bisa saja sudah di otaknya sejak ia masih remaja, atau saat di mana ketertarikannya pada agama tertentu muncul.

Baca juga: Bocah ini Sudah Puber di Usia TK, Ternyata Karena Tumor Otak

Dari hasil kilas balik yang dilakukan Walther, Sarah juga tercatat hanya mengalami 4 kali gejala dan semuanya sama: Sarah mendengar suara-suara ilahi, merasa sangat relijius dan cenderung mendekatkan diri dengan kelompok-kelompok keagamaan. Namun kemunculan gejala ini pun tak pernah lama. Jika tidak sedang kambuh, Sarah juga tampak biasa-biasa saja.

Walther dan koleganya pun sampai pada kesimpulan bahwa halusinasi dan delusi yang dialami Sarah merupakan akibat langsung dari tumornya. Alasan mengapa kemunculannya tidak tentu adalah karena jenis tumor di otak Sarah tergolong sangat lambat.

Selain itu, lanjut Walther, otak lama-kelamaan dapat beradaptasi dengan stres atau tekanan yang ditimbulkan tumor itu dari waktu.

Lebih jauh, tumor tersebut juga diketahui berupa tumor jinak yang tidak tumbuh secara invasif atau di luar kendali seperti halnya kanker. Hasil scan kedua menunjukkan bahwa tumor di otak Sarah stabil, namun karena lokasinya, tim dokter belum dapat memastikan apakah operasi atau terapi radiasi dapat dilakukan pada Sarah.

Baca juga: Wanita Ini Mengalami Perubahan Perilaku yang Tak Biasa Akibat Tumor Otak (lll/up)
News Feed