Kamis, 22 Mar 2018 20:02 WIB

Gender Dysphoria, Saat Seseorang Merasa Terlahir di Tubuh yang 'Salah'

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Istilah gender dysphoria banyak dicari setelah isu simpangsiur identitas seksual Lucinta Luna. Foto: Instagram @lucintaluna Istilah gender dysphoria banyak dicari setelah isu simpangsiur identitas seksual Lucinta Luna. Foto: Instagram @lucintaluna
Jakarta - Ketika seseorang mengalami konflik antara fisik atau gender yang dimilikinya dengan gender yang ia kenali, kondisi ini disebut dengan gender dysphoria.

Umumnya mereka menunjukkan rasa tidak nyaman dengan gender yang mereka dapatkan sejak lahir, misal tak nyaman dengan tubuhnya (biasanya saat pertumbuhan pubertas) atau tak nyaman dengan peran yang harus dilakukan sesuai dengan gender yang ia miliki.

Menurut American Psychiatric Association, orang yang mengalami gender dysphoria bisa jadi sering mengalami tekanan tertentu atau masalah fungsi antara apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka pikirkan mengenai diri mereka sendiri dengan fisiknya atau gendernya.


"Selama ini kita hanya mengenal gender dengan pembagian peran pria dan wanita," tutur Dr Lori Beth Bisbey, psikolog dan pelatih seks dari London, demikian dikutip dari YourTango.

"Sekarang kita tahu bahwa gender telah meluas dan bahkan orang-orang yang tak bermasalah dengan gender yang dimilikinya sejak lahir sama dengan jenis kelamin biologisnya memaklumi adanya hal tersebut jadi bagian hidup mereka," lanjutnya.

Kondisi ini dapat muncul sejak kecil dan beberapa ada yang sudah sanggup mengekspresikannya. Biasanya mereka akan mulai merasakan kebingungan dan tak bisa mengidentifikasi tubuhnya sendiri saat menjalani pubertas.

[Gambas:Video 20detik]



Gender dysphoria memiliki efek berbeda tiap orang. Ada yang mengganti cara berpakaiannya, melakukan transisi sosial, atau bahkan secara drastis merubah gendernya secara biologis lewat terapi hormon atau sex reassignment surgery (SRS) atau operasi ganti kelamin.


Dr Bisbey menyebut gender sangat fleksibel. Beberapa orang mengidentifikasi dirinya sebagai wanita dan bahkan kadang bisa juga laki-laki di lain waktu. Tapi gender dysphoria tak sama dengan aseksual atau gender nonconformity (contoh: pria dewasa yang tiap harinya pakai baju wanita).

"Gender nonconformity ataupun gender dysphoria bukanlah gangguan kesehatan, dan mereka juga tak serta merta dapat disebut gay atau lesbi," tegas Dr Bisbey. Hmmm.. rumit juga ya ternyata? (Frieda Isyana Putri/up)
News Feed