Minggu, 08 Apr 2018 10:58 WIB

Perawat Ini Selamatkan Dirinya Sendiri Saat Serangan Jantung

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Kadangkala ada untungnya menjadi seorang tenaga medis karena bisa mengenali gejala penyakit dalam tubuh tanpa perlu memeriksakan diri. Lantas bagaimana jika yang terjadi adalah situasi kegawatdaruratan?

Seperti halnya yang dialami seorang perawat laki-laki asal Australia Barat ini. Pria ini hanya diketahui sebagai satu-satunya perawat yang bertugas di sebuah pos kecil berjarak 1.000 km dari ibukota Perth dan 150 km dari fasilitas medis terdekat.

Suatu ketika, pria berusia 44 tahun ini mengalami serangan jantung. Ia pun berinisiatif memasang electrocardiogram ke dadanya dan mengirimkan hasil pembacaannya lewat email ke seorang dokter.

Singkat kata, hasil pembacaan alat ini menunjukkan jantung si perawat nyaris berhenti merespons impuls saraf yang menyuruhnya untuk berdetak. Sedangkan bagian jantungnya lain sudah berdetak lemah. Ini dipastikan sebagai gejala serangan jantung yang mematikan.


Mengetahui hal itu, si perawat langsung menyuntikkan sejumlah obat-obatan yang dirancang untuk mengembalikan aliran darahnya, termasuk detak jantungnya dan menurunkan rasa nyeri di dadanya.

Ia juga memasang bantalan defibrillator ke dadanya sendiri dan bersiap menyuntikkan adrenaline serta obat lain yang bisa mengembalikan detak jantungnya.

Pada akhirnya Royal Flying Doctor Service Australia datang tepat pada waktunya dan membawa si perawat ke sebuah rumah sakit di Perth. Di rumah sakit tersebut, dokter menemukan penyumbatan yang sangat buruk di arteri koroner bagian kanannya dan langsung melakukan tindakan operasi untuk mengatasinya.

48 Jam kemudian, si perawat terbebas dari serangan jantung yang dialaminya. Kasus ini dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine dan dikutip dari Livescience, Minggu (8/4/2018).

(lll/up)
News Feed