Jumat, 20 Apr 2018 08:35 WIB

Rokok Bukan Pilihan, Vape Bukanlah Alternatif Pelarian

Frieda Isyana Putri, Lufi - detikHealth
Rokok elektrik disebut mulai jadi tren berbahaya di kalangan remaja. (Foto: Mario Anzuoni/Reuters) Rokok elektrik disebut mulai jadi tren berbahaya di kalangan remaja. (Foto: Mario Anzuoni/Reuters)
Jakarta - Alih-alih menjauh dari rokok, banyak remaja saat ini mencoba alternatif lain. Salah satunya vape atau rokok elektrik.

Remaja pengguna vape seringkali menggunakannya saat berkumpul atau sebagai penghilang kepenatan, ada juga yang menggunakannya karena ingin terlihat keren.

"Penggunaan vape ini sebenarnya problem sosial remaja yang membuat mereka beralih dari rokok ke vape. Sementara disini vape juga memiliki zat negatif di dalamnya tentu bukan suatu pilihan yang tepat," tutur Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Ni'am Sholeh di acara launching buku Panduan Anti Merokok: Untuk Pelajar, Guru dan Orang Tua di Senayan JCC, Kamis (19/4/2018).

Ni'am juga menyebutkan bahwa generasi muda saat ini harus mendapat pencegahan yang lebih terhadap rokok dan juga rokok elekrik agar dapat menciptakan pembangunan generasi muda yang sehat dan tidak terjerembap dalam rokok.

Memakai rokok elektrik yang terlalu sering, tidak hanya mengganggu kesehatan tapi juga membuat kantong kering. Karena alat vape dan liquid yang dipakai untuk menambah variasi rasa juga cukup menguras kantong para penggunanya.

Hal yang serupa juga diutarakan aktor Fuad Baradja yang kini menjadi seorang terapis berhenti merokok. Ia menyebutkan rokok elektrik sendiri berisi nikotin cair yang dilarutkan dalam cairan propilen glikol dan gliserin.

"Bahan pelarut liquidnya ini adalah hal-hal yang menyebabkan penyakit kanker juga. Kemudian dari Badan POM juga udah diketahui ya," ungkap pemeran dalam sinetron Jin dan Jun tahun 2000-an lalu tersebut.

Baginya, pelarian dari rokok ke vape justru tidak tepat dan sama membahayakannya dengan rokok. Apalagi kini tren rokok elektrik lebih digemari oleh kalangan remaja yang masih duduk di bangku sekolah.

Baca juga: Masalah Rokok Elektrik Pada Anak Tak Cuma Ada di Indonesia

Remaja-remaja ini biasanya memakai rokok elektrik agar terlihat keren, dan umumnya belajar lewat YouTube ataupun saling sharing dalam forum khusus di komunitas vape.

"Kan kembali ke pemahaman dasar, orang merokok karena kecanduan nikotin, betul kan? Orang kalo udah merokok maka ia butuh nikotin nah sekarang ketika orangnya berhenti karena seramnya iklan ini lah itulah, mereka cari alternatif lain dan beralih ke vape," pungkas Fuad.

Lewat buku Panduan Anti Merokok tersebut, diharapkan oleh baik Fuad dan Ni'am agar para remaja tidak terjerumus dalam tren rokok elektrik atau vape dan memahami bahwa rokok elektrik bukanlah alternatif dari rokok biasa yang 'tidak sama bahayanya'.
(fds/fds)
News Feed