Kamis, 24 Mei 2018 07:35 WIB

Psikolog: Apapun Motifnya Perilaku Mencuri Tetap Salah

Nabilla Nufianty Putri - detikHealth
Mencuri mungkin jadi jalan terakhir bagi orang untuk alasan bertahan hidup. Namun apapun alasannya mencuri merupakan tindakan yang salah, apa kata psikolog? Foto: Instagram Mencuri mungkin jadi jalan terakhir bagi orang untuk alasan bertahan hidup. Namun apapun alasannya mencuri merupakan tindakan yang salah, apa kata psikolog? Foto: Instagram
Jakarta - Motif pencurian umumnya mengkambinghitamkan faktor kesulitan ekonomi. Seakan-akan bila menggunakan alasan kesulitan ekonomi, maka tindakan pencurian yang dilakukan dapat dibenarkan, atau menyalahkan kondisi ekonomi sebagai penyebab mereka melakukan pencurian.

Veronica Adesla, psikolog dari Personal Growth memaparkan bahwa apapun motifnya, perilaku mencuri tetap salah. Banyak orang yang kesulitan ekonomi tapi berhasil mencari jalan keluar secara halal tanpa melanggar norma ataupun aturan.

"Faktor yang membedakan adalah pada resiliensi diri, yaitu kemampuan seseorang untuk tetap teguh bertahan, beradaptasi, dan bangkit secara positif dalam situasi sulit sekalipun," ujar Veronica.



Menurutnya, orang yang memiliki resiliensi akan mampu mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapinya secara positif. Sementara yang tidak memiliki resiliensi, akan mencari jalan pintas, tidak mempedulikan aturan atau norma sosial dan bahkan tidak mempedulikan keselamatan diri maupun orang lain.

Veronica menambahkan, perilaku mencuri yang dilakukan berulang kali, artinya sudah menjadi kebiasaan, dan bisa menjadi indikasi yang bersangkutan memiliki gangguan kepribadian antisosial. Diagnosis gangguan kepribadian antisosial baru dapat diberikan pada seseorang yang berusia sekurangnya 18 tahun.

Ia juga menegaskan bahwa diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh psikolog klinis atau psikiater yang berlisensi atau memiliki izin praktek, melalui serangkaian pemeriksaan psikologis menyeluruh.

(up/up)
News Feed