Rabu, 26 Mei 2010 14:10 WIB

Lepas dari Rokok Lebih Susah Ketimbang Narkoba

- detikHealth
Jakarta - Orang yang kecanduan narkoba tentu akan susah untuk bisa terlepas dari jeratan benda haram tersebut. Tapi ternyata lepas dari jeratan nikotin rokok lebih susah ketimbang lepas dari narkoba.

Hal ini disampaikan oleh Dr. H. Aulia Sani, SpJP(K) FJCC FIHA, pengajar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI, dalam acara konferensi pers menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

"Untuk lepas dari kokain dan morfin saja harus dengan perjuangan keras sampai harus direhabilitasi, tapi ternyata lepas dari rokok 5 hingga 10 kali lebih susah ketimbang narkoba," ungkap dokter yang pernah menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Hal ini karena kandungan nikotin dalam rokok lebih mudah lepas dan menempel lebih lama di reseptor otak, sehingga sangat sulit untuk dapat lepas dari 'barang setan' ini.

Ketika seseorang merokok, nikotin akan terserap dalam darah dan diteruskan ke otak. Kemudian reseptor alpha 4 - beta 2 yang menerima nikotin dalam otak akan memicu pelepasan hormon dopamin yang memberi rasa nyaman.

Bila kadar hormon berkurang, maka orang akan kembali merokok dan terus merokok. Inilah yang menyebabkan seseorang kecanduan untuk merokok, dan kesulitan untuk lepas karena adanya faktor hormon dopamin.

Dr Aulia juga menuturkan bahwa nikotin 5 sampai 10 kali lebih kuat menimbulkan efek psikoaktif pada manusia ketimbang kokain dan morfin. Terlebih lagi lebih mudah mendapatkan rokok ketimbang narkoba, khususnya di Indonesia.

Maraknya informasi yang menerangkan bahaya merokok menyebabkan tingginya kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok. Namun, orang dihadapkan dengan kuatnya adiksi nikotin yang menyebabkannya gagal untuk berhenti.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 70 persen perokok ingin berhenti merokok, tetapi hanya 5 hingga 10 persen saja yang dapat melakukannya tanpa bantuan dari orang lain.

"Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah pasien yang menjalani terapi berhenti merokok. Sayangnya, dalam proses pengobatan banyak yang mogok di tengah jalan karena turunnya motivasi untuk terus melanjutkan terapi," ujar dokter yang lahir di Bagan Siapi-api 64 tahun silam.

Oleh karena itu, selain dukungan dari lingkungannya, saat ini telah tersedia terapi farmakologi yang dikhususkan untuk membantu perokok untuk berhasil menghentikan kebiasaan merokok.



(mer/ir)
News Feed